Tak Berkategori

Wabah DBD Mulai Memakan Korban

Kediri, demonstran – Memasuki musim penghujan, ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) mulai mengintai. Bila tak tanggap, maka bukan tidak mungkin nyamuk dengan sebutan nama aedes aegypti ini akan menyerang dan menimbulkan permasalahan kesehatan yang serius bagi manusia.

Kabupaten Kediri Tertinggi Kasus DBD Tahun 2019

Apalagi bila melihat data korban akibat kasus gigitan dari nyamuk jenis satu ini cukup mencengangkan. Banyak korban berjatuhan karena terserang penyakit Demam Berdarah Dengue akibat gigitan nyamuk ini.

Seperti yang terjadi di bulan Januari 2019 Lalu, penderita demam berdarah di Kabupaten Kediri mencapai 615 orang.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Jawa Timur, serta tertinggi di Kabupaten Kediri sepanjang 2018 hingga awal 2019. Dari jumlah tersebut, korban meninggal dunia sebanyak 13 orang. Sedangkan bila mengacu pada perhitungan secara total selama satu tahun 2019 kemarin, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mencatat, penderita kasus DBD sebanyak 1.400 orang. Dari total jumlah tersebut terdapat 27 orang meninggal dunia.

Sementara itu, mengawali tahun 2020 ini, terhitung sejak 1 Januari, penderita demam berdarah tercatat sebanyak 21 orang. Dari jumlah ini, satu orang balita berusia 4 tahun asal Desa Kraton, Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, dinyatakan meninggal dunia. Meski jumlah ini terbilang menurun dibandingkan tahun lalu, akan tetapi Dinkes Kabupaten Kediri tetap menghimbau kepada masyarakat agar senantiasa waspada dan lebih baik menjaga kebersihan lingkungan masing-masing.

PSN Efektif Turunkan Angka DBD

Kasi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular (P3M) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Kharisun menyebut sejumlah upaya dilakukan untuk menurunkan angka DBD. Salah satunya, melalui Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Persebaran DBD sudah jelas sumber penyebarannya, yaitu nyamuk. Langkah yang paling efisien adalah mengurangi populasi nyamuk. Untuk mengurangi populasi nyamuk dilakukan pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),” ujar Kharisun.

Selain sumber penyebaran, Kharisun menambahkan, cara penyebaran DBD pun sudah jelas, yakni melalui gigitan nyamuk.

“Kalau tidak digigit ya tidak tertular. Maka yang harus dilakukan warga meminimalkan potensi digigit nyamuk,” imbuhnya.

Menghindari gigitan nyamuk bisa dilakukan dengan beberapa cara. Bisa menggunakan kelambu, obat anti nyamuk oles, atau menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk seperti serai.

Kharisun juga menghimbau, agar masyarakat waspada dengan gejala DBD. Warga juga diharapkan segera memeriksakan diri ke puskesmas bila mengalami demam setelah digigit nyamuk.

“Supaya tidak sampai DSS (Dengue Shock Syndrome, red.),” ujar Kharisun kepada Demonstran.com.

Dia juga menekankan bahwa upaya pemberantasan sarang nyamuk tak hanya menjadi tugas petugas dan kader puskesmas, sebab tak akan efektif. PSN menjadi tugas masyarakat melalui gerakan satu rumah satu jemantik. Di setiap keluarga, harus ada satu orang yang bertugas memantau jentik.

Sementara itu, tempat-tempat perkembang biakan nyamuk yang harus dipantau ialah tempat-tempat penyimpanan air. Seperti bak mandi, tempat penampungan air di dapur, tempat makanan minuman ternak, hingga ban bekas di luar rumah atau tumpukan bambu.

Kharisun berpesan, tempat penyimpanan air di dapur harus tertutup rapat. Jangan sampai ada lubang sedikitpun, karena didalamnya pasti ada jentik-jentik.

“Kalau ada ban bekas, sebaiknya jangan ditaruh di luar rumah. Artinya jangan ditaruh yang terkena air hujan. Juga potongan bambu, baik di tempat penyimpanan atau pagar dari bambu,” pesannya.

Kharisun menyebut siklus perkembangan DBD tidak menentu. Sebelum mengalami puncak pada 2019, siklus serupa terjadi pada 2016. Ia menandai siklus bisa terjadi tiap tiga hingga lima tahun sekali.

Sepanjang 2020, Dinkes mencatat ada peningkatan kasus. Bermula dari 7 orang, 10, hingga kini 21 kasus. Ia berharap puncaknya tidak terlalu tinggi seperti tahun sebelumnya.

Sementara itu, BMKG Kabupaten Kediri menyebut puncak curah hujan tertinggi pada bulan Januari hingga Februari 2020.

“Meski ada siklus DBD dan nyamuk, kalau siap sejak awal, pasti tidak terlalu tinggi (penyintas DBD, red.),” pungkas Kharisun.

Kota Kediri Lima Kasus

Sementara itu, Dinkes Kota Kediri juga membeberkan, jika di awal tahun 2020 ini pihaknya telah menemukan setidaknya 5 kasus orang terkena gigitan nyamuk aedes aegypti ini.

Pihak Dinkes Kota Kediri pun menghimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada dan tanggap terhadap kebersihan lingkungan baik lingkungan di dalam rumah sendiri maupun lingkungan di sekitar luarnya.

“Sudah ada 5 orang yang terjangkit. Agar tidak bertambah jumlahnya, saya menekankan kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungannya. Mengingat ini memasuki musim penghujan. Dimana nyamuk sangat cepat penyebarannya terutama pada genangan-genangan air,” kata Hendik Suprianto,  Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Kediri.

Meski demikian, Hendik menyebut, jika di periode awal Januari 2020 ini jumlah kasus penyintas DBD terbilang menurun dibanding pada Januari 2019.

“Januari 2019 terdapat 69 kasus. Sedangkan bila mengacu pada  perhitungan total selama 2019 jumlah kasus DBD di Kota Kediri terdapat 229 kasus. Dari keseluruhan jumlah ini tiga diantaranya meninggal dunia,” terang Hendik.

Menurutnya, untuk mengantisipasi mewabahnya penyakit DBD pada musim hujan tahun ini, selain melakukan sosialisasi kepada warga menjaga kebersihan di lingkungannya masing-masing, pihaknya juga melakukan sosialisasi tentang program 3M plus, yakni menguras, menutup dan mengubur.

“Jadi kita telah antisipasi sebelum memasuki musim penghujan. September 2019 kemarin. Dinkes Kota Kediri gencar lakukan sosialisasi tentang bahayanya nyamuk aedes aegypti. Disitu kami menjelaskan tentang apa yang seharusnya dilalukan oleh masyarakat agar terhindar dari serangan maupun persebaran nyamuk ini. Dan alhamdulillah. Sejauh ini apa yang kita lakukan cukup membawa dampak positif yakni dengan menurunnya jumlah kasus DBD,” ucapnya.

“Saya juga berharap, agar jumlah kasus DBD Kota Kediri tidak bertambah. Cukup 5 kasus saja jangan nambah lagi,” imbuhnya. (tim)