Tak Berkategori

Terjaring Razia Kamar Kos, Mengaku Sudah Nikah Siri

Kediri, demonstran.com – Dalam dua hari melakukan patroli dan razia, terhitung ada tiga pasangan bukan suami istri yang terjaring. Pasangan pertama dijaring di sekitar Kelurahan Kaliombo, Kecamatan/Kota Kediri pada Selasa (8/10) malam. Dua pasangan lainnya diamankan di Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, pada (9/10).
Dalam satu tempat kos di Kelurahan Bangsal, petugas melakukan razia gabungan antara Satpol PP Kota Kediri, Polsek Pesantren, Koramil, dan pihak Kecamatan Pesantren.
“Ditemukan dari satu bangunan tempat kos, namun berbeda kamar,” terang Kabid Trantibum Satpol PP Kota Kediri Nur Khamid.
Kedua pasangan, diketahui berinisial BP, 25, lelaki asal Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, dengan EE, 31, asal Ngunut, Tulungagung. Sedangkan pasangan kedua berinisial BL, 26, asal Gununganyar, Surabaya, dengan pasangannya ED, 22, asal Baron, Nganjuk.
Dari kedua pasangan, ditemukan berbagai alasan mengapa bisa berada dalam satu kamar kos yang sama. Seperti BL, ia mengaku kepada petugas bahwa ia sudah menikah secara siri dengan ED. Meski status ED masih mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.
“Apalagi yang perempuan, sudah hamil lima bulan. Kami juga sudah menghubungi dari petugas kesehatan untuk memeriksakan kandungan, dan kesehatannya untuk memastikan tidak terjadi apa-apa,” terang Nur Khamid.
Ditanya kenapa menikah siri, BL mengaku bahwa belum bisa melakukan prosesi nikah karena ED masih kuliah, dengan program beasiswa yang melarang rekrutmen beasiswa dalam keadaan menikah.
Sementara pasangan BP dan EE, mengaku saat itu tengah bertransaksi uang pesanan untuk membeli popok. BP mengaku kepada petugas bahwa ia sudah deal dengan teman EE, yang diakui teman perempuannya, untuk mengambil popok. Dari keterangan, BP membeli popok itu untuk keponakannya.
Sementara untuk pasangan yang terjaring razia petugas, Selasa (8/10) malam, diketahui berinisial RFN, 22 perempuan asal Kedungwaru, Tulungagung, dengan NF, 19, laki-laki asal Kelurahan Kaliombo Kecamatan/Kota Kediri. Akhirnya, para pasangan itu langsung dibina dan diminta untuk memanggil pihak keluarga untuk menjemput mereka.
Nur Khamid menjelaskan, bahwa selama ini, petugas melakukan prosedur razia dan patroli juga dengan dukungan dari warga sekitar yang merasa resah, dan melaporkan gangguan trantibum itu ke petugas untuk ditangani. “Saling bersinergi untuk menjaga kondusifitas Kota Kediri dari gangguan trantibum,” pungkasnya.(glh)