berita DAERAH

Tarif Ojol Naik, Pelanggan Menjerit

Kediri, demonstran.com – Penerapan tarif baru transportasi berbasis aplikasi alias ojek online (ojol) banyak dikeluhkan pelanggan. Terlebih dengan adanya kebijakan tarif minimal yang dikenakan untuk perjalanan jarak dekat membuat sejumlah pelanggan menjerit.
Salah satu keluhan disampaikan oleh Desy Krisnawati, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Setiap harinya, ia selalu menggunakan jasa ojol untuk mengantar kedua anaknya yang diketahui bersekolah di Jalan Masjid Al Huda No.196, Ngadirejo, Kec. Kota Kediri. “Biasanya hanya bayar Rp 4 ribu, tapi sejak tarif naik jadi Rp 9 ribu. Naiknya dua kali lipat lebih sehingga memberatkan,” keluhnya.
“Dua anak saya Gojek semua, ditambah dengan mereka yang harus berangkat dan kembali pulang ke rumah dengan menggunakan jasa pelayanan ojol ini, jadi berapakah jumlahnya, bisa berkali-kali lipat tentunya,” terangnya.
Keluhan lainnya datang dari pegawai swasta yang setiap hari ke kantor menggunakan jasa ojek online. Namun sejak Senin (12/8) selisihnya lumayan sepuluh ribu dan dua kali naik jadi dua puluh ribu.Bila dikalikan sebulan bekerja cukup berasa.
“Dampaknya cukup terasa pada uang yang saya keluarkan ketika menggunakan layanan ini, tambah pusing mengatur uang belanja,” ujar Nandita asal warga Kota Kediri.
Diketahui, dua aplikator ojek online Gojek dan Grab telah menerapkan tarif baru mulai tanggal 9 Agustus 2019.
Penerapan tarif baru ini sesuai dengan keputusan Menteri Perhubungan No 348 tahun 2019. Yakni tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang digunakan untuk kepentingan Masyarakat yang dilakukan dengan Aplikasi.
Ada tiga sistem zonasi yang diberlakukan kenaikan tarif. Zona I terdiri dari wilayah Sumatera, Jawa tanpa Jabodetabek, dan Bali. Zona II dibuat untuk Jabodetabek.
Sementara zona III untuk wilayah Indonesia Timur yang meliputi Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan lain sebagainya.
Untuk zona I, Tarif Batas Bawah: Rp. 1.850/Km dan tarif Batas Atas: Rp. 2.300/Km serta biaya Jasa Minimal: Rp. 7.000 – Rp. 10.000. Zona II batas bawah Rp. 2.000 dengan batas atas Rp. 2.500, dan biaya jasa minimal Rp. 8.000-Rp. 10.000. Untuk Zona III batas bawah Rp. 2.100 dan batas atas Rp. 2.600 dengan biaya jasa minimal Rp. 7.000-Rp. 10.000.
Sementara itu, kenaikan tarif ojek online ini juga dibenarkan langsung oleh Erdian Kusuma, selaku Pembina Perkumpulan Pengemudi Ojek Kediri (PPOK), yang membenarkan jika tarif ojek online telah naik dimulai 5 hari kemarin. “Sesuai aturan dari kementrian, biaya ojek ditetapkan naik dimulai pada tanggal 9 Agustus 2019 pukul 00.00,” ujarnya kepada demonstran.com.
Atas naiknya tarif tersebut, Erdian yang juga salah ojol di Kediri tersebut mengaku tak banyak berkomentar apa-apa dan cenderung mengikuti apa yang sudah menjadi kebijakan pusat. “Mau bagaimana lagi. Pemerintah sudah menetapkan seperti itu. Kami sebagai ojol ngikut saja,” ungkapnya.
Sementara itu atas naiknya tarif ojol ini Erdian mengaku jika tak banyak pula pelanggannya banyak mengeluh kaget atas naiknya tarif ojol yang dinilai mahal. Erdian juga mengatakan, jika dampak dari naiknya tarif ojol ini juga membuat sejumlah pelanggannya berkurang. “Karena kaget dengan kenaikan tarif tersebut. Cukup berdampak pada jumlah tumpangan. Biasanya sehari bisa sampai 15 kali narik, namun setelah tarif mulai dinaikkan jumlah tarikan menjadi berkurang,” paparnya.(glh)