berita DAERAH

Pengidap HIV/Aids Wajib Rutin Periksa

Kediri, demonstran.com – Jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Daerah Kediri Jawa Timur  masih terbilang cukup tinggi.
Dari data Dinas Kesehatan, setiap tahunnya angka pengidap kasus ini  masih berkisar diantara 200 an orang.
Seperti diungkapkan Hendik Suprianto, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri saat ditemui demonstran.com seusai gelar acara memperingati hari Aids sedunia yang dilakukan di area Taman Brantas Kota Kediri, Minggu 1 Desember 2019.
Hendik menyebut, jika kasus pengidap HIV/Aids di tahun 2019 ini terhitung dari bulan Januari hingga September telah menembus angka 185 orang.
“Seperti pada tahun-tahun sebelumnya.  Kasus HIV/Aids dalam setiap tahunnya mencapai 200-an lebih. Sedangkan di tahun 2018 kemarin kami mencatat ada 232 orang terdeteksi HIV/Aids,” ungkapnya.
Dikatakan oleh Hendik, jika data tersebut diakumulasi dari berbagai fasilitas layanan kesehatan di Kota Kediri. Bisa dikatakan, jika penderita itu tidak hanya berasal dari Kota Kediri, tetapi juga dari sejumlah daerah sekitar yang memeriksakan kondisi kesehatannya di Kota Kediri.
Untuk layanan kesehatan dan pemeriksaan HIV/AIDS di Kota Kediri, antara lain ada di RSUD Gambiran II, Klinik Seroja, dan Puskesmas Pesantren I Kediri.
Hendik menjelaskan, jika penyebaran virus HIV/AIDS tertinggi didominasi melalui homoseksual atau Lelaki Suka Lelaki (LSL), selanjutnya pelanggan (lelaki hidung belang) dan ibu rumah tangga.
“LSL sekitar 9%. Artinya dari 100 yang kita periksa 9 orang dinyatakan positif. Begitu juga dengan pelanggan. Pelanggan sekitar 8%, jadi dari 100 yang diperiksa 8 orang dinyatakan positif,” paparnya.
Sementara itu di Kabupaten Kediri di tahun 2019 ini tercatat ada 212 orang terdeteksi HIV/Aids. Dari jumlah tersebut terdiri dari 103 laki-laki dan 109 wanita.
Menurut Nur Munawaroh, Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Kediri mengutarakan, jika kasus ini terbanyak didominasi pada usia 25 tahun – 49 tahun yang tercatat pada usia ini terdapat 147 orang yang terdeteksi. Selanjutnya pada usia 50 tahun ke atas juga merupakan tertinggi kedua pada usia yang terdeteksi HIV/Aids dengan sebanyak 38 orang, lalu pada usia 20 tahun – 24 tahun terdapat 22 orang.
Nur Munawaroh mengatakan, penyakit HIV merupakan sebuah virus yang sifatnya tidak mematikan. Untuk itu masyarakat dihimbau agar mengenal HIV sejak dini.
“Pencegahan datangnya penyakit HIV ini bisa dilakukan sejak dini, sembari rutin melakukan cek kesehatan juga harus memperhatikan saat berhubungan seks. Yakni, jika sudah menikah harus selalu setia dengan pasangan. Bagi yang belum menikah untuk tidak melakukan seks bebas,” ujar dia.
Memang, kendala yang terjadi pada masyarakat selama ini berdasarkan pada diskriminasi lingkungan. Alhasil banyak yang urung untuk melakukan pemeriksaan karena kurangnya informasi dan ketakutan.
Padahal pasien bisa melakukan pemeriksaan HIV/AIDS dengan secara sukarela mendatangi Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat maupun secara anjuran dari petugas kesehatan saat mendapati gejala pada pasien. Jika terdeteksi petugas kesehatan, nantinya pasien akan diberikan bimbingan konseling. “Pemeriksaan ini sifatnya gratis. Setelah di tes hasilnya itu antara negatif, ragu-ragu atau positif. Nanti baru kami berikan konseling sesuai hasilnya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan ketika hasil pemeriksaan negatif maka fokus konseling dengan memberikan imbauan-imbauan untuk tidak tertular HIV/AIDS. Begitupun juga ketika hasilnya positif, akan diberikan konseling sesuai porsinya. “Fokusnya jika hasil pemeriksaan positif maka disarankan melakukan pengobatan secara berkala. Mulai dari rutin chek up, hingga harus meminum obat HIV/AIDS yakni Antiretroviral (ARV),” pungkasnya.(glh)