berita DAERAH

Pembebasan Lahan Bandara Belum Kelar

Kediri, demonstran.com – Pembangunan bandara di Kabupaten Kediri yang rencananya bakal dibangun di tiga titik lokasi kecamatan sekaligus yakni kecamatan Banyakan, Grogol dan Tarokan terancam molor dari deadline yang telah ditentukan.
Padahal sesuai dengan deadline yang telah ditetapkan jadwal groundbreaking atau peletakan batu pertama akan dilakukan pada Maret 2020 mendatang.
Namun karena di tingkat bawah masih ada suatu permasalahan yang tak kunjung terselesaikan membuat groundbreaking pembangunan bandara tersebut bisa jadi kembali molor.
Lantas apa yang menjadi permasalahan di tingkat bawah sejauh ini. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Demonstran.com di lapangan, salah satu permasalahan itu ialah soal pembebasan lahan yang disinyalir masih belum tuntas. Hal itu disebabkan karena ketidakcocokan harga yang ditawarkan dengan harga.
Tanah yang belum dibebaskan itu berada di tiga desa, yaitu Desa Grogol Kecamatan Grogol ada 38 bidang, Desa Jatirejo Kecamatan Banyakan ada 3 bidang, dan di Desa Bulusari Kecamatan Tarokan ada 15 bidang.
Dari keterangan Kepala Desa Grogol, Kecamatan Grogol Suparyono, lahan yang belum dibebaskan itu diantaranya adalah di wilayahnya. Yakni total ada 38 bidang. Baik untuk lahan kosong maupun lahan pekarangan. “Untuk Grogol, semuanya berada di Dusun Bedrek Selatan,” katanya ditemui Demonstran.com saat sosialisasi pembebasan lahan di Dusun Bedrek Selatan, Senin (13/1) kemarin.
Ia menyebut, mereka yang lahannya masih belum bisa dibebaskan itu karena masih tidak cocok dengan harga yang ditawarkan. Yakni penawaran dari pemerintah adalah Rp 10,5 juta per ru. Sementara permintaan warga rata-rata Rp 15 juta per ru. “Bahkan ada juga yang minta Rp 50 juta per ru,” sebutnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh
Kepala Desa Bulusari, Agus Utomo. Agus menerangkan jika di desanya masih ada 15 bidang lahan yang belum dibebaskan. 15 bidang tersebut meliputi 9 bidang lahan kosong dan sisanya 6 bidang bangunan rumah.
“Ya masih ada sekitar 15 bidang yang belum terbebaskan. Warga masih enggan melepas lantaran terjadi ketidakcocokan harga,” ungkapnya.
Agus mengungkapkan, jika warga takut, setelah lahannya terjual dapatnya tak sebanding dengan luas lahan yang dimiliki sebelumnya.
“Jadi begini, warga itu takut jika lahan tanah maupun rumahnya dijual untuk bandara namun hasil dari penjualan itu justru lebih sedikit. Sebagai contoh, mereka mempunyai luas lahan 10 ru misalkan. Setelah dijual, ternyata harga yang ditawarkan ini bila dibelikan lahan baru nilainya justru lebih sedikit malah jatuhnya hanya dapat 5 ru saja. Makanya warga hingga detik ini tidak setuju untuk melepas lahannya,” terangnya.
Terpisah, ditemui usai sosialisasi pemahaman terkait pembebasan lahan ini, Direktur PT Surya Dhoho Investama Maksin Arisandi mengatakan, memang masih ada tanah yang belum dibebaskan. Untuk itu, pihaknya pun menjelaskan bahwa proyek Bandara ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN). Sehingga untuk pembangunan dan pembebasan lahannya melibatkan semua pihak.
Tentu saja, keputusan dalam pembebasan lahan ini ada di warga. “Sampai saat ini pembebasan lahan untuk runway masih kurang 5,88 ha,” jelas Maksin yakin.
Disinggung terkait sejumlah warga yang masih bersikukuh mempertahankan lahan dan tempat tinggalnya, sebenarnya ada rencana tukar guling. Tentu saja pihaknya akan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri untuk merealisasikannya.
“Tukar guling itu harus dua arah. Kalau kami menentukan titiknya di mana tapi warga tidak mau ya sama saja,” ungkapnya.(glh)