berita HEADLINE

Mulai 1 Januari 2020, Tarif Cukai Rokok Naik

Kediri, demonstran.com – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan tarif baru cukai hasil tembakau (CHT).
Aturan baru mengenai tarif cukai tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.
“Berlaku per 1 Januari 2020,” kata Adiek Marga selaku Kepala Seksi Penyuluhan dan Informasi.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menetapkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23 persen dan juga kenaikan pada harga jual eceran (HJE) sebesar 35 persen.
“Jadi tahun 2020 ini ada dua kenaikan sekaligus yakni tarif cukai dan harga jual ecer. Bila berkaca pada 2018, tarif cukai naik dua kali lipat dari 11 persen kini di 2020 menjadi 23 persen,” ungkapnya.
Dikatakan oleh Adiek, jika pada tahun 2019 memang untuk cukai rokok maupun harga jual ecer tidak ada kenaikan sama sekali dengan alasan tertentu.
“Jadi 2019 kemarin tidak ada kenaikan. Namun bila ditanya soal alasannya sendiri kamipun juga belum tahu jelas dari pusat mengapa. Mungkin saja karena adanya pilihan Presiden dan Wakil Presiden,” ucapnya.
Disinggung soal faktor yang membuat tarif cukai alami kenaikan di tahun ini, Adiek menyebut setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadi alasan utama pemerintah menaikkan tarif cukai rokok. Mulai dari upaya mengurangi konsumsi rokok, mengatur industri rokok, serta yang berkaitan dengan kepentingan negara yakni negara tengah defisit keuangan.
“Jadi di dalam penetapan mengenai cukai rokok, kita memperhatikan 3 hal tersebut,” katanya.
Misalnya, dari sisi konsumsi rokok. Adiek mengaku cukup khawatir dengan jumlah konsumsi rokok masyarakat yang cenderung meningkat, terutama di kalangan remaja dan perempuan.
“Anak-anak dan remaja naik 7% menjadi 9%. Perempuan naik dari 2,5% menjadi 4,8%. Oleh karena itu kita perlu perhatikan bagaimana cukai ini dalam rangka mengurangi tren kenaikan rokok tersebut,” jelasnya.
Adiek menilai, kenaikan cukai rokok yang cukup tinggi diharapkan dapat menekan angka konsumsi rokok. Namun, harus diakui bahwa kenaikan ini bisa memicu peredaran rokok ilegal secara besar-besaran.
“Jadi akan timbul banyak rokok ilegal dikalangan masyarakat. Namun kami sendiri tidak tinggal diam untuk terus menggempur peredaran rokok ilegal tersebut,” jelasnya.
Sementara itu berdasarkan hasil survey di lapangan oleh tim liputan Demonstran.com di sebuah mini market Kota Kediri. Terlihat harga jual rokok mulai alami kenaikan. Seperti pada rokok dengan merk Marlboro. Sebelumnya rokok dengan jenis merk ini dijual seharga Rp 27.900 kini naik menjadi Rp 31.000. Begitu pula rokok dengan jenis Sampoerna Mild Menthol. Dari sebelumnya per bungkus dijual seharga Rp 22.000 kini naik menjadi Rp 24.100.(glh)