berita HEADLINE

MLM Kediri, Digerebek Polres Lumajang

Kediri, demonstran.com – Soal penggerebekan rumah milik petinggi Q Net di Kediri masih dilakukan proses penyelidikan lebih mendalam oleh Tim Cobra Polres Lumajang.

Meski begitu, Tim Cobra tidak membawa para pekerja yang diperiksa di rumah yang berada di selatan Jalan Argowilis, Desa/Kecamatan Semen.

Hingga kemarin, Tim Cobra Polres Lumajang masih mendalami kasus yang dilaporkan di wilayahnya pada beberapa bulan yang lalu. Namun, meski kasus yang terjadi di Lumajang, namun, Tim Cobra menelisik dan mencari barang bukti atas kasus money games dengan skema piramida yang dijalankan oleh PT Amoeba International. “Masih terus kami lakukan perkembangan kasus,” terang Kasatreskrim Polres Lumajang AKP Hasran.

Ia menjelaskan bahwa pada Kamis (3/10) lalu, petugas melakukan pemeriksaan terhadap sepuluh penjaga rumah dalam obyek sasaran operasi tersebut untuk pendalaman kasus money games yang dilakukan PT Amoeba International. Namun, untuk pemeriksaan, Tim Cobra Polres Lumajang hanya melakukan pemeriksaan di lokasi, dan juga di Polsek Semen, Polres Kediri Kota saja. “Tidak ada yang dibawa ke Lumajang, dimintai keterangan di Semen, Kediri saja,” imbuh Hasran.

Setelah dimintai keterangan pun, Tim Cobra Polres Lumajang juga melakukan penyegelan di kantor yang berada di dalam rumah tersebut pada malam hari, setelah melakukan pemeriksaan terhadap para penjaga rumah.

Hingga kemarin, Tim Cobra Polres Lumajang juga masih menunggu tiga nama yang diduga sebagai dewan direksi PT Amoeba untuk dimintai keterangan. Ketiganya masih mangkrak dari panggilan petugas karena masih menjalani perawatan di Rumah Sakit di Malaysia. Karena ketiganya mengaku kepada petugas kepolisian sedang sakit.

Sementara itu, Kapolsek Semen AKP Karyoko menjelaskan bahwa selama ini, dari warga di Kecamatan Semen belum ada yang melaporkan dengan kasus money games yang sama seperti diperiksa oleh Tim Cobra Polres Lumajang. “Belum ada,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon.

Meski dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan di wilayah hukum Polsek Semen, Polres Kediri Kota, namun kasus ditangani langsung oleh Polres Lumajang. Karena memang penggeledahan tersebut atas kasus yang dilakukan penyidikan oleh Polres Lumajang.

Untuk diketahui, pada Kamis (3/10) sore, Tim Cobra Polres Lumajang melakukan pemeriksaan dan penggeledahan yang terletak di Jalan Argowilis, Desa/Kecamatan Semen.

Penggeledahan itu dilakukan atas penyidikan kasus money games yang dilaporkan oleh sejumlah warga di Lumajang karena merasa ditipu oleh perusahaan yang bernama PT Amoeba International, yang juga berafiliasi dengan PT Q-Net. Setelah dilakukan penyelidikan, dan dilakukan penangkapan terhadap salah satu dewan direksi PT Amoeba International yang berada di Madiun, Jawa Timur, September lalu.

Di Rumah tersebut petugas mengamankan sejumlah laptop yang digunakan untuk menyimpan data, dan alat komunikasi dengan agen, atau rekrutmen dari PT Amoeba International.

Sebelumnya, petugas menemukan laptop tersebut dari tumpukan bekas pembakaran yang terletak di sebelah belakang timur rumah. Bahkan, barang-barang tersebut sebelumnya dibuang oleh para pekerja dibelakang runah. Salah satu dari mereka mengaku panik, karena ada petugas kepolisian yang datang ke rumah tersebut.

Selain itu, petugas juga mengamankan sejumlah alat seperti senter, dan juga kaca plastik, serta dokumen dan formulir. Ada yang dalam bentuk masih baru, ada juga sebagian yang terbakar.

Satu Minggu Paska Penggerebekan

Sejak satu minggu pasca penggerebekan rumah gedongan petinggi Q Net masih tidak ada kegiatan yang terlihat dari luar rumah.

Aktivitas-aktivitas yang sering dilakukan pada hari Rabu, dan Minggu, tidak terlihat lagi. Belasan kendaraan yang terparkir juga tidak terlihat dari luar halaman rumah gedongan itu.

Kabar terakhir, pada Selasa (8/10) rumah gedongan tersebut kembali didatangi tim Cobra Polres Lumajang, untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Perihal penyelidikan kembali ini diungkapkan oleh pihak RT setempat. Usut punya usut, kepolisian pada saat itu melakukan penyelidikan ulang bersama pihak RT setempat.

 “Nihil, Mas, nggak pernah ada lagi semenjak digrebek,” ujar Ketua RT 02/03 Agus Santoso, kepada Demonstran.com, Kamis (10/10).

Agus menjelaskan, saat itu pihaknya didatangi lagi oleh anggota dari Polres Lumajang. Kali ini, petugas Polres Lumajang mengajak Agus untuk bersama-sama mendatangi rumah gedongan itu untuk kegiatan penyelidikan lebih lanjut.

Agus pun mengikuti arahan dari Polres Lumajang. Namun, setelah didatangi dengan petugas Polres Lumajang dengan Babhinkamtibmas Polsek Semen, namun pintu rumah yang diketahui dimiliki oleh pria bernama Tobing itu tidak kunjung dibukakan. “Ada kali, Mas¸saya dan polisi nunggu di depan pintu sepuluh menit lebih, saya tidak tahu tapi ada penyelidikan apa lagi,” terang pria 49 tahun itu.

Setelah itu, Agus pulang dan juga dimintai tolong untuk memberikan surat pemanggilan terhadap beberapa nama yang ditunjuk oleh Polres Lumajang.

Sembari mengingat-ingat, Agus menjelaskan bahwa sebelum ada peristiwa penggerebekan seperti ini, Agus hampir tidak pernah berhubungan langsung dengan Tobing, maupun terhadap para pekerjanya.

“Saya hampir tidak pernah ada kontak dengan mereka, Mas, mereka juga hampir tidak pernah mencari saya, sekarang setelah ada peristiwa penggerebekan, saya jadi berhubungan dengan mereka. Lha saya saja tidak tahu siapa saja yang ikut,” ujarnya sembari tertawa kecil.

Ia sendiri menjelaskan bahwa melihat ada seorang warga desa lain di Kecamatan Semen, yang bekerja sebagai pengurus kebun di rumah gedongan itu saat penggerebekan pada Kamis (3/10) sore. Sedangkan para pekerja lain, ia tidak mengerti dari mana saja asalnya. Agus memang dimintai tolong untuk memberikan surat pemanggilan terhadap beberapa nama, namun, ia tidak ingat ada nama warga desa lain yang ia ceritakan tadi.

Agus sendiri merasa prihatin. Betapa tidak, ia menjelaskan bahwa seharusnya, jika memang tidak merasa salah, seharusnya tidak perlu menutup akses jika ada petugas yang datang dan memintai keterangan saja.

“Lha saya, tidak merasa bersalah, dimintai tolong untuk ikut sebagai saksi saat penggeledahan, hingga sampai malam hari, dimintai keterangan di kepolisian juga saya lakukan, lha wong memang saya tidak merasa salah. Saya hanya menjelaskan apa yang saya tahu, dan tidak akan bicara apa apa tentang apa yang tidak saya ketahui,” pungkasnya.

Sembari berjalan kembali ke arah Kota Kediri, bangunan rumah yang terletak di selatan Jalan Argowilis, Semen itu masih tertutup rapat. Keberadaan pemilik rumah, yang sedang dicari oleh Tim Cobra Polres Lumajang juga tidak kunjung memenuhi panggilan pemeriksaan.

Matahari hampir terbenam, jalanan semakin ramai dilewati oleh kendaraan-kendaraan menuju ke arah barat. Namun tidak satupun terlihat kendaraan mewah yang biasa berhenti dan terparkir di halaman rumah itu.

Begini modus perekrutan anggota Multi Level Marketing (MLM) Q-NET.

Siapa yang tidak tergerak hatinya, ketika mendengarkan motivasi dari mulut seseorang yang mengaku pernah berjualan balon di pinggir jalan, kini sudah sukses, dan memiliki banyak mobil. Apalagi tentang tukang cuci piring yang sudah memiliki banyak restoran.

Itulah yang setiap hampir dua minggu sekali didengarkan oleh Fatah (Nama disamarakan, Red), selama ikut menjadi “rekrutan” bisnis Q-Net. “Yang diceritakan hanya tentang kesuksesan-kesuksesan, dan kesuksesan. Diceritakan juga dulunya mereka bekerja yang kecil-kecil gitu, Mas, ya kayak bakul etek, tukang cuci, dan banyak lah,”ujar lelaki tersebut.

Ia mengingat-ingat apa saja yang ia dapatkan dalam kuliah tentang bisnis Q-Net di Rumah Ora Umum di Desa Titik, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu. Meski hanya ikut terlibat selama 3-4 bulan, ia merasakan paket lengkap yang dilakukan oleh orang-orang berbaju necis pada setiap Rabu sore, Sabtu pagi, dan Minggu pagi.

Keramaian rumah yang megah itupun sekarang sepi. Pintu tertutup rapat. Tidak ada kegiatan sama sekali yang terliahat dari luar rumah. “Minggu kemarin ini (6/10) ya setelah lihat berita, saya sempatkan lewat, ternyata tutup,” terangnya.

Lelaki yang berdomisili di Kediri itu menjelaskan kepada Demonstran.com, bahwa sebelum mengikuti presentasi di gedongan itu, Ia sebelumnya diajak oleh kenalannya lama. Awalnya, ia diajak makan di warung, di restoran, sembari diceritakan tentang bisnis tersebut.

Fatah tidak pernah ada pikiran sedikitpun untuk bergabung. Karena menurutnya dengan biaya yang pada jaman itu (Sekitar tahun 2014, Red) masih tergolong mahal. Yaitu mencapai Rp 6 juta rupiah.

Namun, karena intensitas yang dilakukan oleh temannya, dan juga dua orang teman lain, yang ia baru kenal karena diajak teman pertamanya. Ia pun lama kelamaan luluh, dan mengikuti jejak temannya. “Saya ya jujur lama kelamaan ngerasa tidak enak,” paparnya.

Karena apa, Fatah sering diajak main, makan, hingga didatangi di rumah Fatah untuk dibimbing dan mempelajari kinerja bisnis Q-Net ini. Akhirnya, ia pun tertarik, dan mengikuti dan masuk ke dalam bisnis tersebut.

Dengan diimingi mendapatkan keuntungan secara langsung, jika mengajak rekrutan lain dibawah naungannya. “Saya tidak begitu tahu namanya, pokoknya ada kaki kanan, kaki kiri, itu isinya rekrutan baru yang harus kita ajak untuk mendapatkan keuntungan langsung,” terangnya.

Ia pun juga dibekali ilmu seperti itu setelah mengikuti training berkali-kali di rumah gedongan tersebut. Dengan merogoh kocek Rp 6 Juta, ia pun diberi semacam alat kesehatan yang terbuat dari kaca untuk dirinya. “Intinya kita membeli barang, yang pas saat itu seharga paling murah ya kaca biodisc namanya, Mas. Setelah itu, otomatis bergabung langsung,” paparnya.

Ada pula barang lain yang harganya jauh diatas piringan kaca yang dijanjikan dapat menetralisir aura negatif, dan dapat menyembuhkan segala penyakit itu. Namun, Fatah mengaku hanya mampu membeli biodisc. Karena harga dari barang lain itu mencapai belasan juta rupiah.

Namun, setelah mengikuti kegiatan selama kurang dari empat bulan itu, Fatah menyerah. Ia merasa apa yang dilakukan dan dijanjikan oleh teman, dan mentor selama training itu tidak terpenuhi. Ia dijanjikan bahwa akan dibimbing terus hingga sukses dan kaya raya seperti apa yang didongengi oleh para mentor selama presentasi di gedongan itu.

Tidak pernah sekalipun janji itu ditepati. Setelah masuk, ia pun mencari rekrutan lain secara sendirian. Kesusahan, dan merasa terbuang. Ia merasa di lubuk hatinya bahwa ia dipermainkan. Fatah pun akhirnya mundur secara pelan pelan dari bisnis tersebut.

Dengan tidak datang saat kumpul di rumah gedongan itu maupun di tempat lain. Karena menurutnya, apa yang dilakukan oleh para petinggi dan mentor yang sudah memberikan janji itu hanya akan menambah kemalangan terhadap orang lain.