berita DAERAH PENDIDIKAN

Harga Cabai Selangit, Bupati Kediri Turun Tangan Jual Cabai Murah

Kediri, demonstran.com – Mahalnya harga cabai rawit di pasaran yang menyentuh di angka 120 ribu rupiah per kilogram, membuat para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kuwalahan.

Terlebih bagi mereka yang memiliki produk usaha yang harus menggunakan bahan dasar cabai rawit sebagai tambahannya. Tentu saja hal ini cukup membuat para pelaku usaha menjerit, terlebih daya beli masyarakat yang masih rendah akibat pandemi Covid-19, membuat situasi bagi para pelaku usaha semakin sulit.

Atas banyaknya keluhan dari sejumlah pelaku usaha tersebut, membuat Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau akrab di sapa Mas dhito, turun tangan membantu para pelaku UMKM untuk memenuhi kebutuhan cabai rawit dengan harga murah.

Dengan memiliki program ‘Operasi Pasar Cabai Murah Bagi Pelaku UMKM’, Mas Dhito menyediakan kurang lebih 300 kilogram cabai rawit untuk pelaku UMKM se Kabupaten Kediri.

Sedangkan untuk cabai rawit di operasi pasar tersebut dijual dengan harga 50 ribu rupiah per kilogram.

“Jadi begini, tujuan pemerintah menggelar operasi pasar murah ini bukanlah menekan harga cabai. Melainkan tujuan kita untuk menyelamatkan pelaku UMKM yang terdampak dengan kenaikan harga cabai. Supaya mereka masih tetap berjualan dan mendapat keuntungan,” kata Mas Dhito kepada Demonstran.com saat ditemui se usai kegiatan operasi pasar murah.

Mas Dhito mengatakan, mekanisme dalam pembelian cabai rawit ini, pembeli hanya dapat diperkenankan untuk membeli dengan jatah maksimal 5 kilogram.

“Sebenarnya batas maksimal ini juga tergantung adanya kebutuhan yang bersifat urgent. Maka kita bisa kasih mereka sebanyak 8 kilogram,” ungkapnya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai program operasi pasar murah ini akan berlangsung hingga berapa lama, putra Sekretaris Kabinet RI, Pramono Anung ini mengaku masih melihat dari permintaan pelaku UMKM.

“Berdasarkan informasi yang saya terima, jadi para pelaku UMKM ini ada yang menginginkan jika operasi pasar murah dilakukan seminggu sekali, namun juga ada yang menginginkan satu bulan sekali. Maka dari itu, kita masih mencari jalan tengahnya atau yang terbaik bagi pelaku UMKM ini,” jelas Dhito.(glh)