berita KRIMINAL

Dua Tersangka Pembunuham Budi Hartanto Divonis 14 Tahun Penjara

Kediri, demonstran.com – Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri kembali menggelar sidang lanjutan pembunuhan disertai mutilasi terhadap Budi Hartanto, guru tari Asal Kota Kediri, Senun (4/11).

Dalam sidang tersebut kedua terdakwa di vonis 14 tahun kurungan penjara.

“Tadi dengan putusan, unsur pembunuhan berencana belum bisa dibuktikan. Menjadi catatan, sehingga menjadi subsider. Dimana tuntutan empat belas tahun, hari ini divonis empat belas tahun,” terang Hery Sunoto, Penasihat Hukum (PH) Keluarga Budi Hartanto.

Hery menjelaskan, dengan putusan empat belas tahun yang dijatuhkan kepada Aris dan Aziz pihak keluarga merasa tidak terima. Namun mereka percaya, bahwa proses hukum sudah berjalan dengan baik.

“Dengan putusan itu, pihak terdakwa masih pikir-pikir. Kita akan menunggu hasilnya, dalam waktu ini jadi menolak atau dia banding,” imbuhnya.

Sementara itu, sidang dengan agenda putusan berlangsung di sekitar pukul 13.30 WIB. Dalam persidangan yang dipimpin oleh, M Fahmi Hary Nugroho mengatakan bahwa Aziz dan Aris selaku terdakwa kasus pembunuhan terbukti telah melanggar Pasal 338 Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke- 1 KUHP.

“Terbukti secara sah turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja merampas nyawa orang lain,” terang Fahmi didalam persidangan.

Putusan yang diberikan, lebih ringan satu tahun dari tuntutan yang diberikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Moch Iskandar, Tomy Marwanto, dan Zanuar Irkham. Dimana pada persidangan sebelumnya, tepatnya pada tanggal (10/10) JPU menjatuhkan tuntutan hukuman penjara kepada Aris dan Aziz selama 15 tahun penjara.

Tidak hanya membacakan putusan, Fahmi juga membacakan beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam menentukan putusan. Hal yang meringankan, Aris dan Aziz belum pernah dihukum sebelumnya dan mengakui perbuatannya.

“Sedangkan hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara sadis,” imbuhnya.

Setelah membacakan putusan, Fahmi memberikan kesempatan kepada laki-laki asal Dusun/Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu dan Desa/Kecamatam Ringinrejo untuk berdiskusi dengan tim Penasihat Hukum mengenai putusan yang telah dibacakan.

“Kami pikir-pikir mengenai putusan tersebut,” jawab Wawang Satriya Kusuma, salah satu PH Aris dan Aziz.

Setelah mendengarkan tanggapan PH, sebelum sidang dinyatakan berakhir. Fahmi mengatakan akan memberikan waktu selama satu minggu, untuk PH memberikan jawaban. Begitu palu tanda sidang selesai berbunyi tanda sidang telah usai, Aris dan Aziz langsung digelandang menuju sel sementara oleh petugas.

Dengan jawaban PH, yang mengatakan pikir-pikir. Fahmi mengatakan, apabila PH mengajukan banding. Maka untuk selanjutnya, upaya banding tersebut akan dilakukan ke PT Surabaya. Dengan adanya banding tersebut, tidak bisa menjamin apakah hukuman yang diberikan kepada Aris dan Aziz dapat berkurang atau malah sebaliknya akan bertambah.

Terpisah, di sel sementara PN Kabupaten Kediri terlihat Aziz dikunjungi oleh ayah dan kakanya. Laki-laki kelahiran 1996, mengaku sangat menyesal dengan perbuatannya dan dia mengatakan permohonan maaf kepada keluarga Budi.

Untuk diketahui, pada sidang sebelumnya JPU telah menuntu hukuman kepada Aris dan Aziz dengan hukuman masing-masing 15 tahun. Sementara itu, kejadian pembunuhan tersebut terjadi pada April 2019. Bermula dari penemuan mayat tanpa kepala yang dimasukkan ke dalam koper, berlokasi di Jembatan Karanggondang, Kecamatan Udanawu. Mayat yang ditemukan tersebut, tidak lain adalah Budi yang merupakan korban pembunuhan.(glh)