berita DAERAH

Dampak Cukai dan HJE Naik, Bea Cukai Waspadai Rokok Ilegal Bermunculan

Kediri, demonstran.com – Peredaran rokok ilegal di Tanah Air berpotensi meningkat pada tahun 2020 ini lantaran semakin banyak masyarakat yang mencari alternatif pengganti rokok legal yang tak lagi ramah kantong akibat keputusan pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menaikkan cukai dan harga jual eceran (HJE).
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152 Tahun 2019, kenaikan cukai rokok akan mulai berlaku per 1 Januari 2020, dengan kenaikan rata-rata dari sejumlah jenis rokok sebesar 21,56%. Kenaikan tersebut juga diikuti oleh kenaikan harga jual eceran (HJE) sebesar 35%.
Adiek Marga, Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi  Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Kediri mengatakan kenaikan harga rokok yang terlampau tinggi alih-alih membuat masyarakat mengurangi konsumsi rokok justru membuat masyarakat berlomba-lomba mencari substitusi dari rokok legal yang selama ini mereka konsumsi. Selain rokok elektrik, menurutnya akan semakin banyak masyarakat yang mencari rokok ilegal tanpa pita cukai.
“Banyak yang cari rokok ilegal pastinya, misalnya biasa satu hari enam batang rokok karena mahal bukan berarti dikurangi. Kebanyakan malah cari alternatif rokok ilegal yang harganya selisih jauh sekali dengan rokok legal. Permintaan banyak, tentunya supply rokok ilegal akan mengikuti,” katanya kepada Demonstran.com, Rabu (15/1) saat ditemui di ruang kerjanya.
Adiek menambahkan, produsen rokok berskala kecil yang ada di daerah bukan tidak mungkin akan menjual rokok produksinya kepada masyarakat tanpa menggunakan pita cukai. Pasalnya, konsumen mereka yang sebagian besar adalah kalangan menengah ke bawah tak akan bisa menjangkau rokok legal yang harganya akan melonjak tajam.
“Jadi ada banyak faktor atas dampak kenaikan tersebut. Akan tetapi kami selaku lembaga terkait akan siap memantau serta memberantas soal peredarnya rokok-rokok ilegal ini,” ungkapnya.
Adiek, menyebut bea cukai akan makin gencar menggalakkan operasi pencegahan dan penindakan bersama pemerintah daerah serta aparat penegakan hukum. Langkah ini sesuai yang tertera di PMK nomor 152 tahun 2019 tentang tarif cukai hasil tembakau (TCHT).
Rokok ilegal ditandai dengan tidak adanya pita cukai pada kemasan, dilekati pita cukai palsu atau bekas, pita cukai yang bukan peruntukan, hingga rokok yang tidak sesuai personalisasi. Di tahun 2019, KPPBC Kabupaten Kediri berhasil mengamankan 418.652 batang rokok tanpa pita cukai.
Penindakan tersebut merupakan sebagian kecil dari 116 penindakan yang berhasil dilakukan KPPBC Kediri selama 2019. Penindakan lain yang berhasil diungkap yakni 1.250 liter miras tanpa cukai, 117 pak alat bantu seks, hingga etil alkohol tanpa dokumen kepabeanan.
Seiring perubahan kebijakan di tahun 2020, target yang dibebankan pada KPPBC juga meningkat. Jika sebelumnya ditarget pemberantasan rokok ilegal di angka tiga persen, tahun ini ditarget mencapai 1,5 persen.
“Cukai naik, harga rokok naik, target kita untuk berantas rokok ilegal juga meningkat,” terang Adiek.(glh)