berita HEADLINE

Calon Bupati Kediri Bermunculan

Kediri, Tabloid Demonstran – Pemilihan Bupati (Pilbub) Kediri bakal diselenggarakan kembali pada tahun 2020. Meski terbilang masih satu tahun lagi, namun sejumlah nama kandidat calon Bupati telah santer terdengar di media sosial. Sejumlah nama-nama tersebut datang dari berbagai figur, mulai dari pengusaha, politik hingga tokoh agama.

Dari informasi yang berhasil dihimpun oleh Tabloid Demonstran dari berbagai sumber, nama-nama yang telah muncul dalam bursa diantaranya, Ketua DPRD dan Wakil DPRD Kabupaten Kediri yakni H Sulkani dari Fraksi PDIP dan Drs. H Sentot Djamaludin dari Fraksi PKB. Keduanya dikabarkan akan maju bersama sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kediri.

Ada juga calon yang datang dari kubu Partai NasDem. Disini nama Ketua DPD Partai NasDem Lutfi Mahmudiono dan Antox Pramungka Jaya anggota Dewan Komisi A dari Dapil VI juga santer terdengar di media sosial.

Sedangkan turut mewarnai dalam bursa Pilbup kali ini juga datang dari figur politik. Politisi tersebut adalah Munasir Huda, Ketua GP Ansor Kabupaten Kediri, dan Rahmat Mahmudi, ketua lembaga organisasi Menuju Kediri Lebih Baik (MKLB). Selanjutnya datang dari figur tokoh agama yang sekaligus tokoh perempuan yaitu Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Kediri, Mudawamah. Lalu dari figur pengusaha muncul nama Robby Dharmawan.

Tidak kalah menariknya, dalam bursa Pilbup kali ini juga semakin ramai dengan adanya figur dari dinasti Sutrisno yang kembali dimunculkan yakni anak san menantunya. Kabarnya, salah satu dari mereka akan dipasangkan dengan Drs. H Masykuri, MM, yang diketahui saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Kediri mendampingi Bupati Haryanti Sutrisno.

Sementara itu dari beberapa calon diatas, hampir keseluruhan calon saat ditanya wartawan ini soal Pilbup 2020 mengaku siap bila benar-benar diberi mandat atau ditunjuk oleh parpol masing-masing maupun organisasinya.

Seperti yang disampaikan Lutfi Mahmudiono, Ketua DPD Partai NasDem. Ia mengaku siap bila pihaknya memang ditunjuk berdasarkan keputusan internal partai.
“Bila itu sudah menjadi keinginan dan keputusan partai bagaimana lagi. Tentunya kita sebagai kader partai harus siap dalam mengemban amanat tersebut,” ujarnya.

Tanggapan yang sama juga hadir dari Antox Pramungka Jaya. Antox juga mengaku siap bila memang sudah menjadi keputusan partai. “Siap saja mas. Namun, saya sendiri juga melihat perkembangan kedepannya seperti apa. Apakah ada peluang untuk maju atau tidak,” ungkapnya.

Sementara itu, hal senada juga diungkapkan oleh Munasir Huda. Meskipun sedikit malu-malu, namun Ketua GP Ansor Kabupaten Kediri inipun pada akhirnya menyetujui untuk maju sebagai salah satu kandidat Pilbub bila itu memang menjadi keinginan dari masyarakat. “Sebenarnya saya tahu diri. Apalagi dalam kontestasi Pileg kemarin saya juga tidak terpilih. Namun kembali lagi, kalau memang dipaksa untuk maju dan ini merupakan kehendak masyarakat, ya saya siap saja. Siap dalam artian juga melihat situasi dan perkembangan nanti seperti apa,” ungkapnya.

Banyak Cabup Semakin Baik

Banyaknya kandidat calon bupati yang muncul ini mendapat apresiasi dari Sapta Andaruisworo selaku pengamat politik. Mantan Ketua KPU Kabupaten Kediri yang menjabat sebanyak 2 periode ini menyambut baik dengan banyaknya calon yang mulai bermunculan di bursa Pilbub.

“Semakin banyak calon semakin baik dalam iklim demokrasi di Kabupaten Kediri. Bagaimana masyarakat dapat membandingkan nantinya bagaimana visi-misi dari masing-masing calon,” ujarnya.

Pria berusia 49 tahun ini menyebut, pada Pilbup 2020 nanti, terlihat regenerasi Sutrisno tak akan mau kehilangan hegemoni kepemimpinannya di lima tahun mendatang.

“Pasti tak mau kehilangan muka dengan mengusung calon-calon jagoan terbarunya,” kata Sapta.

Tersiar kabar, jika Sutrisno juga telah menyiapkan dua figur andalannya yang bukan internal partai namun masih dalam lingkaran hubungan keluarganya.

“Saya yakin bahwa, sosok inilah yang nanti digadang untuk bertarung pada Pilbup tahun depan. Persoalan, kepada siapa yang akan mendampingi untuk mengisi papan dua, tergantung mekanisme partai,” lanjut Sapta.

Calon Bupati Mempunyai Kekuatan Seimbang

Lebih lanjut, Sapta menilai dari beberapa figur yang telah muncul, dinilainya memiliki kekuatan yang seimbang. Calon yang muncul memiliki sejumlah massa yang terkoordinir.
“Seperti sosok Munasir Huda, bagaimana background dia adalah Ketua GP Ansor. Jika ia maju, secara otomatis ia bakal didukung sepenuhnya oleh organisasi lembaga ini. Begitupun dengan Mudawamah yang akan bergerak dengan muslimatnya. Tentunya menarik untuk kita simak perkembangan dari masing-masing calon ini. Bagaimana kiprah yang akan mereka lakukan dalam perjalanan kontestasi Pilbup mendatang,” terangnya.

Partai NasDem Tolak Dinasti

Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Kediri, Lutfi Mahmudiono, menegaskan sikap partainya yang bertekad melakukan perubahan di Kabupaten Kediri. Perubahan itu ia lakukan dengan cara menolak politik dinasti pada kontestasi Pilihan Bupati 2020 mendatang.

“NasDem akan terus berikhtiar supaya ada perubahan kepemimpinan di Kabupaten Kediri. Sikap kami sama untuk tidak politik dinasti,” kata Lutfi saat dikonfirmasi Demonstran.com melalui telepon, Selasa 13 Agustus 2019.

Lutfi menganggap, jika politik dinasti masih akan terus berlangsung, maka sama halnya perihal itu merupakan kemunduran bagi sebuah demokrasi. “Terkait hal tersebut saya berpendapat meskipun berpolitik merupakan hak asasi setiap orang, politik dinasti sangat tidak baik bagi penyegaran demokrasi dan tidak baik pula untuk regenerasi politik,” ungkapnya.

Dikatakan oleh Lutfi, dinasti politik akan menumbuhkan oligarki politik serta tidak sehatnya bagi upaya regenerasi kepemimpinan politik.

“Kekuasaan hanya dikuasai oleh beberapa orang yang berasal dari satu keluarga, tanpa memberikan ruang kepada pihak lain untuk ikut berpartisipasi. Pergantian kekuasaan hanya akan diberikan kepada anggota keluarga dan menyingkirkan orang lain, tanpa melalui proses yang fair dan bijaksana,” kata dia.

Lebih lanjut Lutfi memberikan contoh dampak lain dari politik dinasti, seperti halnya berdampak buruk bagi akuntabilitas birokrasi dan pemerintahan, karena cenderung serakah dan tak jarang pula melakukan KKN. Pemerintahan lebih berorientasi mencari keuntungan untuk keluarga, bukan demi kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat.

“Untuk itu politik dinasti harus kita batasi, jangan sampai terulang terus dikemudian hari. Meskipun, semua warga negara punya hak yang sama untuk berpolitik. Ini semata-mata demi kepatutan politik yang sehat dan dinamis,” ucapnya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kediri telah menetapkan jumlah kursi yang diperoleh oleh partai politik peserta pemilihan legislatif periode 2019 – 2024. Hasilnya, hanya ada satu partai yang dapat mengusung calon bupati tanpa berkoalisi. Partai itu adalah PDI-Perjuangan. Sebab, syarat untuk bisa mengusung calon adalah pemilik minimal 20 persen jumlah kursi. Atau bila dihitung adalah partai yang memiliki 10 kursi di parlemen. Dalam pemilu kemarin, partai berlogo kepala banteng ini memperoleh 15 kursi.

Sementara itu diurutan kedua disusul oleh PKB dengan 9 kursi, Partai Golkar 6 kursi, Pan 5 kursi, Gerindra 5 kursi, NasDem 4 kursi, Partai Demokrat 3 kursi, PPP 2 kursi dan PKS 1 kursi. (tim)