berita HEADLINE

Bencana di Akhir Tahun

Kediri, demonstran – Sepanjang 2019, wilayah Kediri, baik di kota maupun kabupaten Kediri dilanda bencana sebanyak 524 kali. Jumlah tersebut didominasi kekeringan di kota Kediri sebanyak 392 rumah, kemudian disusul bencana pohon tumbang sebanyak 52. Data tersebut terhitung hingga Desember 2019.

Pelaksana Tugas  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, Slamet Turmudi menyebutkan, bahwa bencana di Kediri sangat beragam. Misalnya banjir, longsor, pohon tumbang, badai, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), puting beliung.

“Untuk di Kabupaten Kediri jika dirincikan, pohon tumbang serta rumah rusak akibat hujan deras disertai angin berada pada urutan pertama dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 33kali. Kemudian disusul banjir dengan jumlah 10 kejadian, tanah longsor dengan jumlah 9 kejadian” kata Slamet Turmudi, Kamis (1/1/2020).

Bencana karhutla sebanyak 3 kali, tanah longsor 9 kali, kekeringan 3 kali, banjir10. Sedangkan di Kota Kediri untuk kejadian kebakaran berjumlah 5 kejadian, banjir genangan berjumlah 20 kejadian, pohon tumbang berjumlah 52 kejadian, kekeringan berjumlah 392.

Setidaknya bencana yang menimpa Kota Kediri dan Kabupaten Kediri, menyebabkan kerugian materiil bahkan korban jiwa.

Slamet Turmudi menambahkan bahwa dari sekian banyak bencana sejak Januari hingga Desember 2019 ini, pihak BPBD Kabupaten Kediri telah melakukan upaya penanganan dengan baik. Dalam penanganan bencana, pihaknya terus berupaya memberikan pengetahuan mitigasi bencana kepada kemasyarakat. Semuanya dilakukan demi mengurangi dampak dan risiko bencana. Apalagi, bencana datang tanpa bisa ditebak. Selain kesiapan menghadapi bencana, pihaknya juga siap menangani pascabencana.

Bencana di Kediri

Lokasi yang sering terjadi bencana angin puting beliung, menurutnya, adalah daerah Pare dan Purwoasri. Sedangkan untuk bencana alam longsor di daerah Kecamatan Mojo. Bahkan BPBD Kabupaten Kediri telah menetapkan Mojo merupakan daerah paling rawan terjadi tanah longsor. Terutama ketika hujan deras. Terlebih lagi, titik longsor berdekatan dengan permukiman warga.

“Saat musim penghujan ini rawan akan segala bencana. Di antaranya angin kencang, longsor, hingga banjir,” papar Slamet Tumudi

Petugas BPBD menghimbau, agar masyarakat senantiasa waspada dan tanggap akan bencana yang dapat terjadi kapan saja. Meminimalisasi kejadian pohon tumbang ketika sedang hujan berangin, Slamet meminta, warga melaporkan bila terdapat pohon kering atau yang sudah rapuh. Sehingga segera dilakukan penebangan.

Akibat kejadian bencana alam tersebut, rata-rata warga mengalami kerugian karena mengalami kerusakan bangunan. Di mana rumah mereka rusak akibat tertimpa tanah longsor. Tidak hanya itu, juga lantaran pohon tumbang akibat angin puting beliung.

“Kami memberikan bantuan  kepada korban berupa makanan siap saji, peralatan kesehatan, hingga peralatan dapur. Sedangkan untuk bantuan fisik, BPBD berkoordinasi dengan instansi terkait yang berwenang. Seperti dinas pekerjaaan umum dan dinas lain yang berwenang,” ucapnya.

Slamet Turmudi mambahkan, jika ada delapan kecamatan di Kabupaten Kediri yang rawan bencana banjir dan tanah longsor. Daerah tersebut berada di lereng Gunung Kelud dan Gunung Wilis.

“Kelima kecamatan tersebut yang rawan tanah longsor berada di barat Sungai Brantas dan tiga di Kabupaten Kediri bagian timur,” ucap Slamet Turmudi, Selasa (2/1).

Delapan wilayah kecamatan tersebut yakni, Kecamatan Mojo berada di Desa Ngetrep, Pamongan, Petungroto, Blimbing, Jugo dan Keniten. Kemudian Kecamatan Semen di Desa Pagung dan Joho, Kecamatan Banyakan di Desa Parang, Kecamatan Grogol di Desa Kalipang dan Kecamatan Tarokan di Desa Bulusari dan Tarokan. Keseluruhan daerah ini berada di Lereng Gunung Wilis.

Sedangkan  tiga kecamatan yang berada di wilayah timur yakni di lereng Gunung Kelud masing-masing, Kecamatan Kandangan di Desa Medowo dan Mlancu. Kemudian Kecamatan Kepung di Desa Kebonrejo dan Kecamatan Puncu di Desa Laharpang. Keseluruhan daerah itu berada di kawasan dataran tinggi dengan letak geografis yang miring.

Sementara daerah rawan banjir berada di Kecamatan Tarokan, Banyakan, Grogol, Mojo tepatnya di Desa Petok, Kecamatan Purwoasri dan terakhir Kecamatan Papar di daerah Kedung Malang.

“Sedangkan untuk wilayah yang berpotensi angin kencang yakni merata di seluruh kecamatan karena tidak melihat letak geografis daerah tersebut,” jelas Slamet.

BPBD Kabupaten Kediri dalam mempersiapkan diri baik untuk tanggap bencana secara SDM maupun logistik. Tim Unit Reaksi Cepat (URC) selalu siaga dan siap apabila dibutuhkan sewaktu waktu.

“Secara SDM dan peralatan, kami sudah siap. Sebaliknya, kami himbau kepada masyarakat agar  selalu bersiap siaga. Terlebih BMGK telah merilis potensi cuaca extreem sepekan ke depan karena curah hujan yang tinggi,” imbuhnya.

Dijelaskan olehnya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh warga. Pertama bencana tanah longsor yang dapat terjadi setiap saat. Pihak BPBD mengimbau mereka, khususnya yang tinggal di kawasan rawan untuk memperhatikan rekahan tanah.

“Apabila hujan berdurasi 1 jam lebih, maka  masyarakat yang tinggal di daerah rawan segera meninggalkan rumah. Mereka bisa mengungsi ke tempat yang aman untuk meminimalisir resiko dan korban,” pintanya.

Slamet menambahakan, terkait ancaman bencana hujan deras disertai angin kencang. Dihimbau kepada seluruh masyarakat melalui perangkat desa setempat  agar melakukan  pemangkasan ranting dan cabang pohon di sekitar rumah mereka. BPBD juga telah memberikan instruksi ke Pemerintah Desa, RT dan RW untuk menggerakkan masyarakatnya.

Terdapat tujuh destana yakni, Desa Sempu di Kecamatan Ngancar, Desa Joho di Kecamatan Semen, Desa Kalipang di Kecamatan Grogol, Desa Kebonrejo di Kecamatan Puncu, Desa Petungroto Kecamatan Mojo dan Desa Besowo Kecamatan Kepung serta Desa Jugo Kecamatan Mojo yang ditetapkan oleh Propinsi Jawa Timur.

“Ketika desa sudah menyandang predikat itu. Masyarakat dengan potensi yang dimiliki bisa bergerak cepat menanggulangi apa yang terjadi dan BPBD membackup. Mereka juga sudah punya peralatan sendiri,” tutupnya.

Destana merupakan level kedua bagi desa yang telah dinyatakan sebagai TSBD (Tim Siaga Bencana Desa). Dimana, seluruh komponen desa itu sudah memilih kesiap siagaan. Mulai dari perangkat desa, Babinsa hingga Bhabinkamtibmasnya. Rencananya, dua desa lain akan ditetapkan sebagai Destana pada tahun ini.

Satu Nyawa Melayang

Hujan yang disertai angin yang melanda Kota Kediri juga menyisakan banyak tragedi. Bangunan, kendaraan hingga satu nyawa orang melayang akibat bencana tersebut.

Hujan yang turun selama sekitar 20 menit itu menciptakan suasana mencekam di berbagai titik. Puluhan ranting dari pohon patah dan berhamburan ke jalan. Bahkan, kencangnya angin dapat mengambrukkan satu pohon dari akarnya.

Salah satu lokasi badai adalah Sumber Jiput, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan/Kota Kediri pada sekitar 16.30 WIB.

Pasca kejadian ratusan warga melihat lokasi untuk menghilangkan rasa penasaran. Karena dari kabar yang beredar, batang-batang pohon besar yang tumbuh subur di sekitar lokasi, ambruk.

“Sekitar jam 4 sore-an, Mas,” ujar Mulyono, 53, salah satu warga yang berada di lokasi.

Garis kuning kepolisian sudah terpasang. Informasi awal yang menyebar ke masyarakat ada korban meninggal akibat tertimpa ambruknya pohon.

Saat ditemui di lokasi, Kapolsek Kediri Kota Kompol Suyitno membenarkan informasi tersebut. Sembari menunggu alat yang dapat memotong batang pohon dan ranting yang cukup besar ini, pihak keamanan menginstruksikan kepada seluruh warga yang berada di sekitar lokasi untuk menyingkir. Karena masih ada ranting pohon yang tumbang dan sedang tersangkut di pohon besar lainnya. Sewaktu-waktu dapat ambruk dan menimpa yang ada dibawahnya. Terlihat ranting dan batang pohon menimpa lima warung kopi yang berada di sebelah utara.

Dari situlah, informasi ditemukan jenazah korban atas nama Wahyu Mukti Prasetiadi, 19, warga Desa Plaosan, Kecamatan Wates Kabupaten Kediri.

Saat itu, korban sedang berada di warung paling pojok milik Hendrik Wijaya, (38).

“Ya, kayaknya tadi siang beli disini, Mas, bareng bersama teman-temannya,” terang Hendrik saat di lokasi.

Hendrik sendiri, menjelaskan bahwa ia adalah salah satu korban yang tertimpa ranting pohon. Namun ia hanya mengalami luka ringan. Saat bercerita, Hendrik tengah mencari barang-barang berharga di warungnya, yang masih bisa diraih. Karena separuh dari warung kopinya ditimpa pohon yang ambruk.

Kengerian itu sangat tampak jelas diingatan Hendrik. Saat itu, ia baru kembali dari rumahnya, untuk datang dan berjaga lagi di warungnya. Sekitar pukul 15:00 WIB, ia datang dengan sepeda motor N-Maxnya. Ia parkirkan kendaraan tersebut tepat di sebelah selatan warungnya.

Ia mampir ke warung berteduh, karena keadaan sedang hujan deras. Kepada Tabloid Demonstran, ia menjelaskan bahwa ia melihat angin kencang menyapu dedaunan, dan ranting-ranting kecil jatuh ke atap warkopnya.

Tidak butuh waktu lama, lelaki yang saat itu mengenakan kaos hitam itu melihat ranting-ranting dari pohon raksasa itupun jatuh. Semua terasa cepat. Mulai dari menimpa tempat untuk tamu bersantai, dan juga jatuh ke lokasi kolam Sumber Jiput.

“Saya lihat anak saya masih berada di luar warung,” imbuhnya.

Hendrik melihat pohon dari sebelah barat daya warungnya mengalami patah di bagian batang. Perlahan, pohon tersebut ambruk lurus menuju ke deretan warung kopi. Panik, anak perempuan Hendrik tidak sempat melarikan diri. Beruntungnya, tumpukan pohon ambruk tersebut tidak jatuh mengenai anak perempuan Hendrik.

“Anak saya langsung saya tarik, gendong masuk ke dalam warung,” terang Hendrik.

Masih kata Hendrik, sebagian pohon yang ambruk mengenai tepi timur warungnya. Disana, Istri Hendrik menjadi korban dari ambruknya pohon bulu.

“Anak alhamdulillah selamat, istri terluka di bagian tangan,” imbuhnya.

Selain bangunan warung kopinya, sepeda motor Hendrik menjadi korban ganasnya hujan angin di Kota Kediri

“Hancur, tertimpa pohon itu, Mas, bisa sampeyan lihat,” pungkasnya, sebelum pergi meninggalkan lokasi until menjenguk istri Dan anaknya yang dirawat di RS Gambiran.

Terhitung di Sumber Jiput saja, ada sekitar lima sepeda motor yang rusak tertimpa pohon. Satu milik Hendrik, dan lainnya belum diketahui pemiliknya. Kapolsek Kediri Kota Kompol Suyitno menjelaskan bahwa saat ini para korban sudah dibawa ke RS Gambiran.

“Termasuk korban meninggal juga dibawa ke sana (Gambiran, Red),” terang Suyitno.

Hujan disertai angin Kencang juga sebabkan mobil rusak

Bencana hujan disertai angin kencang sore hari itu di wilayah Kota Kediri tidak hanya menyebabkan satu orang meninggal dunia saja, melainkan banyak kendaraan seperti mobil mengalami rusak parah akibat tertimpa pohon tumbang.

“Ada empat mobil alami kerusakan akibat bencana tersebut diantaranya, di Jl Sriwijaya yang menyebabkan satu unit mobil Suzuki Karimun dengan nopol AG 1587 AZ mengalami rusak parah akibat tertimpa pohon. Lalu di Jalan Hayam Wuruk depan Telkomsel satu unit mobil Datsun dengan nopol AG 1691 AS, Jl Diponegoro mobil Daihatsu Ayla putih, dan Jl Pattimura satu mobil minibus juga alami rusak parah akibat tertimpa pohon,” ungkap Adi Sutrisno selaku Kasi Kebencanaan dan Kesiapsigaan BPBD Kota Kediri.

Lebih lanjut, memasuki musim penghujan ini, Adi menghimbau kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berpergian.

“Memasuki awal musim penghujan biasanya disertai angin kencang sesaat harap waspada, hindari berteduh dibawah pohon, dan lakukan mitigasi secara mandiri yakni cek atap rumah, cek pohon besar, cek teras toko, cek plafon kantor/rumah dan halaman disekitar anda,” terangnya.

Hujan Es Landa Kota Kediri

Hujan disertai angin kencang kembali melanda wilayah Kota Kediri dan mengakibatkan sejumlah kerugian materi di beberapa tempat, Rabu (25/12). Ada dua titik lokasi yang menjadi dampak dari amukan hujan angin tersebut yakni rumah warga Jalan Joyoboyo Kota Kediri tertimpa atap swalayan Kediri Mall yang jatuh diterpa angin kencang. Sementara di lokasi Pariwisata Goa Selomangleng, puluhan pohon tumbang dan beberapa lapak pedagang mengalami kerusakan.

Warga Jalan Joyoboyo Kecamatan Kota Kediri, Ida (37), mengatakan terlebih dahulu hujan deras turun sebelum akhirnya angin kencang menerpa. Durasi hujan dan angin pun cukup lama lebih dari 5 menit. “Agak lama tadi, ya tiba-tiba hujan lalu atap mall beterbangan. Kalau atap rumah saya tidak ada yang rusak karena angin, tapi mungkin karena tertimpa seng yang jatuh membuat atap rumah bocor,” katanya.

Sedangkan di lokasi lain, pedagang makanan dan minuman di lokasi Wisata Goa Selomangleng, Minarsih (37) menjelaskan, hujan deras terjadi tiba-tiba setelah langit mendung. Kerugian materi dialami karena banyak lapak warga yang rusak diterjang angin kencang. Ada salah satu lapak pedagang tertimpa pohon, tapi beruntung tidak ada korban jiwa di sana.

“Memang langitnya gelap tidak seperti mendung di hari-hari sebelumnya. Kami tidak bisa mengamankan barang dagangan karena hujan dan angin datang begitu cepat. Ya akhirnya terop-terop untuk pagelaran seni jaranan terbang begitu juga rombong saya dan teman-temanpun tidak sempat mengamankan barang dagangan. Semua langsung lari menyelamatkan diri ketika angin kencang datang,” ujarnya.

Adi Sutrisno, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kediri mengatakan, tidak ada korban jiwa pada kejadian tersebut. Pohon tumbang sempat membuat salah satu kaca mobil pengunjung pecah. “Kebanyakan korban materi memang dari PKL, karena sempat ada lapak yang tertimpa dan dagangan diterjang angin. Untuk pengunjung yang kaca mobil pecah legowo karena memang kejadian ini sebuah bencana,” imbuhnya.

Selain hujan deras dan angin gumpalan es juga jatuh di area wisata tersebut. “Ketika angin datang jarak pandang hanya sekitar 2 meter saja. Karena angin itu tenda-tenda yang ada di lokasi kolam renang juga ikut terbang dan terbalik. Ada hujan es yang besarnya sekitar jempol tangan orang dewasa,” pungkasnya.

Adi menghimbau terhadap seluruh masyarakan agar tetap waspada dan bersiap siaga, dan menyarankan untuk bergotong royong memangkas pohon yang dirasa sudah membahayakan. “Masyarakat harus tetap waspada dan memangkas pohon yang sudah tua atau yang dirasa sangat membahayakan, dan bergotong royong membersihkan selokan,” imbaunya. (tim)