berita PENDIDIKAN

Teliti Lalat Hitam, Aulia Chintya dan Dyfany Aurariel Meraih Juara kedua karya tulis ilmiah sumberdaya air PUPR

Kediri, demonstran.com – Siapa sangka bahwa lalat hitam yang kerap dianggap menjijikkan, menjadi salah satu alternatif untuk menyelamatkan lingkungan. Dua siswi SMAN 1 Kota Kediri inilah yang sudah berpikir jauh ke depan untuk menyelamatkan lingkungan untuk kehidupan.

Menjadi salah satu tim terbaik dalam perlombaan karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membuat semangat Aulia Chintya dan Dyfany Aurariel terus bergelora. Pasalnya, dua siswi asal SMA Negeri 1 Kota Kediri itu tertarik untuk memperdalam penelitian yang mereka tulis.

Meski keduanya masih kelas 10, namun keduanya sudah jauh memikirkan tentang apa yang akan mereka perbuat untuk lingkungan kedepannya. “Tema karya ilmiah yang kami angkat tentang pemanfaatan ekstrak kitosan pada tepung larva lalat hitam sebagai absorben logam yang terpapar di air laut dalam bentuk koral buatan,” ujar Aulia saat ditemui di SMAN 1 Kota Kediri, Sabtu (18/5/2019).

Sementara itu terkait dengan alasan mengambil karya tulis ilmiah tentang lalat hitam sebenarnya cukup simpel. Aulia dan Dyfany menjelaskan bahwa segala sesuatu memiliki manfaat yang orang tidak bisa duga. Dalam kasus ini, kedua perempuan 16 tahun itu mengambil penelitian tentang larva lalat hitam. Karena menurut Aulia, bahwa hal sekecil apapun, dan orang yang berpikir bahwa itu adalah hal yang menjijikkan, sebenarnya memiliki manfaat yang lebih besar. “Dari penelitian yang sudah dilakukan, manfaat ekstrak kitosan pada tepung larva lalat hitam dapat menyerap logam Pb dan Cu yang berada di lautan,” terang Aulia.

Ia sendiri juga bercerita bahwa memang semakin berkembangnya zaman, air laut di dunia semakin tercemar. Entah dari yang terlihat, seperti plastik, atau sampah lain, hingga ke senyawa logam yang dapat merusak ekosistem laut.

Melewati karya tulis ilmiah tersebut, Aulia dan Dyfany dapat menyalurkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Apalagi keduanya bertekad untuk mendalami penelitian tersebut untuk kedepannya.

Sebelumnya, butuh waktu berminggu-minggu untuk mempersiapkan karya tulis tersebut. Pasalnya, kedua siswi yang tergabung di Ekstrakurikuler Karya Tulis Ilmiah SMAN 1 Kota Kediri yang bernama Oase, sudah mempersiapkan beberapa karya tulis dengan variasi tema yang berbeda. “Kebetulan saat diberikan undangan dari PUPR terkait lomba karya ilmiah, dengan tema sumberdaya tentang pengairan,” terang Aulia.

Ketika mendapatkan undangan terkait adanya lomba tersebut, maka Aulia dan Dyfany yang merupakan satu tim langsung mencoba memberikan karya tulis mereka tentang lingkungan khususnya di bidang pengairan.

Jika dilihat dari jumlah tim SMA yang mendaftar, terdapat ada 637 tim, yang terdiri dari dua hingga tiga murid SMA/Sederajat. Itupun dari 637 tim yang telah mendaftar, diambil 50 tim, dan akhirnya diseleksi lagi dan diambil 10 besar tim.

Kepala Sekolah SMAN 1 Kota Kediri Sri Yulistiani menjelaskan bahwa ia bangga dengan torehan juara yang didapatkan oleh kedua muridnya tersebut. Karena menurutnya, meski masih duduk di bangku Kelas 10 SMA, keduanya dapat memperlihatkan kualitasnya dengan baik.

“Di sekolah keduanya juga terlihat aktif dan termasuk siswi yang cerdas,” terang Yulis.

Ia bahkan sempat terkejut ketika tiba-tiba Aulia dan Dyfany mengabarinya bahwa keduanya akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti pemaparan karya tulis ilmiah di depan juri. Karena memang pengumuman lolos 10 besar yang diberikan oleh panitia lomba hanya berjarak tiga hari dengan lombanya.

Langsung saja, Yulis mengajak semua guru SMAN 1 Kota Kediri ke ruang guru untuk mendengarkan presentasi yang dilakukan oleh Aulia dan Dyfany. “Hal tersebut dilakukan untuk mempersiapkan Aulia dan Dyfany agar tidak gugup saat memaparkan hasil karya tulis mereka kepada juri,” imbuh Yulis.

Sebelum pergi meninggalkan ruang kepala sekolah, terlihat dari tangan Aulia yang sedang memegang secarik kertas yang berisi tulisan. Memang, saat itu ia akan menjalani ulangan harian kelas. Meski disibukkan dengan kegiatan untuk mempersiapkan lomba karya tulis berikutnya pada Jumat (10/5), ia masih tetap menjalankan tugasnya sebagai murid sekolah, yaitu belajar. Dan itupun tidak membuatnya ketinggalan mata pelajaran ketika mengikuti lomba-lomba di luar Kota Kediri.(glh/yy)