berita EKONOMI

Jasa Penukaran Uang Mulai Marak Di Kediri

Kediri, demonstran.com – Bulan Ramadhan sudah berjalan 9 hari. Jasa penukaran uang pecahan kecil dan baru mulai marak di beberapa jalan protokol di Kota Kediri. Sudah beberapa hari ini pedagang membuka lapak jasa penukaran uang di pinggir jalan.

Suyatno (45), salah satu pedagang jasa penukan uang baru asal Desa Bandar Lor mengaku, mulai Sabtu (11/5) kemarin mulai menjual jasa penukaran uang di Jalan KDP Slamet. Usaha itu sudah dilakukannya selama empat tahun.

“Aslinya keseharian saya berprofesi sebagai tukang tambal ban. Namun setiap memasuki bulan puasa seperti ini saya jualan musiman buka lapak jasa penukaran uang,” ujarnya kepada wartawan Tabloid Demonstran.

Pihaknya mulai menggelar dagangannya mulai pagi hingga sore hari. Sedangkan lapak tersebut ia buka hingga akhit Ramadhan ini.

Lantaran terbilang masih awal memasuki puasa, Suyatno mengaku pelanggamnya masih belum ramai. Sepinya pelanggan, dikarenakan banyak faktor, salah satunya Bank Indonesia saat ini masih membuka layanan penukaran uang. Bank tersebut juga bekerjasama dengan pihak bank-bank lainnya untuk penukaran uanh pecahan kecil dan baru. Biasanya kelilinh menggunakan mobil selama bulan Ramadhan.

“Masih sepi mas, paling-paling ya hanya 2 – 3 orang saja sejauh ini,” ungkapnya.

Meski demikian, biasanya permintaan akn meningkat di pertengahan Ramadhan dan menjelang lebaran. Uang yang disediakan mulai Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu dan Rp 2 ribu. Suyatno mengaku, untuk jasa penukaran ia mengambil untung 10 persen di setiap penukaran uang.

“Minimal penukaran Rp 100 ribu. Jadi penukaran Rp 100 ribu dalam pecahan apapun, harganya Rp 110 ribu. Hal tersebut berlaku kelipatannya,” katanya.

Bahaya Uang Palsu

Bank Indonesia melalui Kepala tim advisory pengembangan ekonomi, Nasrullah menghimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dalam melakukan jasa penukaran di pinggir jalan. “Sebenarnya kami menghimbau kepada masyarakat agar tidak menukarkan uang pecahan kecil dan baru di tempat-tempat yang tidak tesmi atau seperti biasa kita kenal dengan sebutan inang-inang. Karena penukaran uang disini sifatnya merugikan karena ada potongan uang yang harus dibayarnya dari jasa tersebut.

“Tak hanya merugi, dalam penukaran uang ditempat yang tidak resmi berisiko dengan adanya uang palsu. Jadi masyarakat juga harus lebih teliti sebelum menerima dan membawa uang dari hasil penukaran tersebut,” jelas Nasrullah.

Dikatakan oleh Nasrullah, Bank Indonesia Kediri telah menyiapkan Uang Layak Edar (ULE) senilai Rp 6,1 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang pecahan kecil dan baru pada bulan Ramadhan 1440H/2019 ini.
Masyarakat dapat menukarkan uang melalui 69 kantor cabang bank di wilayah kerja BI Kediri (karesidenan Madiun dan Karesidenan Kediri), serta melalui layanan kas keliling bersama dan operasi pasar.

“Dengan titik-titik penukaran yang banyak tersebut diharapkan masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan terhadap uang pecahan kecil.
Selain itu masyarakat juga dihimbau agar melakukan penukaran uang secukupnya, tidak berlebihan mengingat dengan kemajuan teknologi digital sekarang ini dan ke depan akan semakin banyak menggunakan media transaksi non tunai secara retail yang lebih efisien dan efektif/praktis,” pungkasnya.(glh/yy)