POLITIK

Warga Protes Ujian Pengangkatan Perangkat Desa

Kediri,demonstran.com – Seleksi rekrutmen perangkat desa di wilayah Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri yang berlangsung Rabu (6/3/2019) menyisakan masalah. Hal ini memicu unjuk rasa yang digelar oleh para peserta ujian di kantor Pemkab Kediri. Dalam aksi itu, mereka mengutarakan segala keluhan terkait proses seleksi yang dituding banyak kecurangan.

Para pendemo datang ke kantor Pemkab Kediri dengan membawa berbagai spanduk dengan bermacam tulisan diantaranya, “Miskin berpendidikan, kalah dengan kaya tapi goblok”, “Jangan adu domba kami demi uang”, “Kami menuntut ujian ulang” dan masih banyak lagi. Berbagai tudingan itu muncul karena mereka menilai ada rekayasa nilai ujian. Karena seluruh calon yang didukung oleh kades lulus dengan nilai tertinggi sehingga mereka merasa menjadi korban.

Sunaryo, Korlap aksi menganggap seleksi perangkat desa di Kecamatan Purwoasri cacat hukum karena semua peserta yang menjadi andalan dan dekat dengan kades mendapatkan nilai tertinggi. “Ada salah satu calon perangkat desa yang sama sekali tidak mengenal komputer namun mendapat rangking satu. Kami minta seleksi perangkat desa untuk dibatalkan,” ungkapnya. “Calon yang lolos ini hanya lulusan SMA namun dalam seleksi perangkat desa dapat mengalahkan lulusan sarjana dan lulusan S-2,” lanjutnya.

Sementara itu Lisa Kurniawati salah satu peserta seleksi perangkat Desa Mekikis mengungkapkan, adanya kecurangan yang dilakukan oleh pihak panitia sudah sangat sistematis, massif, dan terstruktur. “Kami saja yang kuliah di Universitas Brawijaya masak dikalahkan sama peserta yang hanya lulusan SMA,” ungkapnya.

Kecurangan tersebut malah terang – terangan dilakukan karena peserta yang bakal lolos sudah diketahui. Karena saat pelaksanaan ujian sudah beredar nama-nama peserta yang akan lolos. “Waktu istirahat ujian, nama – nama tersebut sudah disodorkan ke camat,” jelasnya.

Hal tersebut terbukti saat hasil ujian diumumkan dua hari kemudian, nama-nama yang sudah disodorkan ke camat semuanya lolos dan menjadi peringkat satu. “Ini benar – benar ujian dagelan karena nilai kami diotak-atik,” ujarnya.

Perlu diketahui bahwa desa di Kecamatan Purwoasri yang menggelar ujian penerimaan perangkat desa, yaitu Desa Mekikis, Sidomulyo, Blawe, dan Pandansari. Ujian ini dilakukan bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu Universitas Brawijaya Malang.

Sukadi,SH, Kabag Hukum Pemkab Kediri yang menerima perwakilan warga saat dikonfirmasi demonstran.com menjelaskan, bahwa pemerintah daerah tidak punya kewenangan sama sekali untuk membatalkan hasil ujian pengisian perangkat desa. Karena kewenangan pengisian perangkat desa dilakukan sepenuhnya oleh kades.

“Bupati tidak mempunyai kewenangan untuk membatalkan. Karena yang mengangkat dan memberhentikan perangkat desa adalah kewenangan kades,” jelasnya.

Sukadi menambahkan, apabila memang benar – benar ditemukan adanya pelanggaran dalam proses ujian perangkat, maka Bupati hanya berwenang untuk memeriksa kades. Tetapi tidak mempunyai kewenangan untuk membatalkan ujian pengangkatan perangkat desa.(yy/glh)