PENDIDIKAN

Pelajaran dari Sri Musripah, Pengusaha Difabel yang Pantang Menyerah

Kediri, demonstran.com – Cacat fisik bukanlah alasan untuk menyerah. Itulah yang tampak pada diri Sri Musripah warga Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Meski memiliki keterbatasan fisik, perempuan 37 tahun itu tetap bisa berkarya.

Sri Musripah mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya ketika kelas 5 SD. Dia lumpuh setelah terjatuh ketika bermain bersama teman – temannya. Sejak saat itu, dia harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas.

“Setelah jatuh itu badan saya langsung panas dan terbaring sakit. Tidak lama kemudian tahu-tahu tubuh bagian pinggul hingga ke bawah tidak bisa digerakkan,” ujarnya.

Ia pun juga sudah mengupayakan pengobatan, baik dokter hingga tukang pijat sekalipun. Namun semuanya tidak berhasil. “Sudah berobat kesana kemari. Namun hasilnya sama. Kalau menurut dokter katanya terjadi pengapuran sumsum tulang belakang atau apa gitu, saya lupa,” imbuhnya.

Bagi Sri Musripah, kelumpuhan bukanlah akhir segalanya. Dia berupaya bekerja agar memperoleh penghasilan. Dia mencoba menekuni pembuatan kerajinan dari bambu.
“Kalau kerajinan bambu, dulu saya bikin besek. Pekerjaannya berat hasilnya kecil,” ungkapnya.

Aktivitasnya dimulai dari memilah hingga membelah batang bambu menjadi irisan tipis-tipis baru kemudian dianyam menjadi aneka ragam kerajinan. Pekerjaan itu tentu sangat berat dan membutuhkan keleluasaan gerak. Padahal Musripah hanya mampu mengerjakannya dari atas kursi roda. Dia lantas memutuskan beralih usaha. Pilihannya jatuh pada usaha rajutan.

Sri Musripah mengaku, usaha rajutan itu ia geluti sejak tiga tahun terakhir. Aktivitas merajut itu pun menjadi sumber penghasilan utamanya saat ini.

Hasil rajutannya ternyata banyak diminati. “Awalnya saya memperkenalkan kerajinan ini melalui postingan di media sosial (facebook). Lama kelamaan ternyata banyak orang yang minat dan memesannya dalam jumlah banyak. Bahkan peminatnya bukan dari daerah Kediri saja. Melainkan hingga ke luar kota seperti Surabaya hingga Jakarta,” ujarnya kepada demonstran.com di rumahnya, Sabtu (9/3/2019).

Ditanya mengenai keuntungan dari hasil merejaut ini ia mengaku bisa mencapai Rp 2 juta per bulan. “Ya sekitar itu. Namun saya terkadang juga merasa kewalahan untuk menyelesaikan orderan-orderan tersebut. Semua ini saya kerjakan sendiri tanpa ada karyawan,” tuturnya.

Hasil karyanya dijual dengan harga bervariasi, tergantung pada jenis barang dan tingkat kesulitan pengerjaannya. Seperti gantungan kunci. Ia jual dengan harga Rp 15.000 – Rp 35.000. Dompet harganya sekitar Rp 80.000, tas Rp 350.000, wadah tisu Rp 50.000.

Bagi Musripah, merajut tidak sekadar berorientasi pada ekonomi saja tetapi juga penegasan akan pentingnya hidup mandiri. Hidup berdikari tanpa banyak menunggu uluran tangan orang lain. Bahkan untuk menunjang mobilitasnya itu, kursi rodanya juga sudah dia modifikasi khusus.

“Saya memang ingin mandiri. Sukses karena daya upaya sendiri. Meski keadaan seperti ini. Saya tetap semangat. Yang terpenting jangan menyerah dengan keadaan. Percuma saja kalau kita hidup bergantung orang lain. Sebenarnya kita bisa berbuat apa saja. Semua kembali lagi pada diri kita, bagaimana kita punya tekad, dan usaha,” paparnya.(glh/yy)