berita WISATA

Nostalgia Bersama Si Unyil

Mojokerto, demonstran.com – Sempat “merana” dan nyaris diambil alih salah satu warga Jepang, Si Unyil menjelma menjadi ikon film boneka anak – anak Indonesia era 1980an. Di masa kejayaannya, banyak aksesoris, buku, dan pernik lain bertema tokoh boneka asal desa imajiner, Desa Sukamaju itu.

Generasi 80-90an bisa menyaksikanaksi Si Unyil setiap hari Minggu pukul 08.00 WIB. Film boneka yang berdurasi 30 menit itu menjadi tontonan favorit anak – anak di layar kaca TVRI.

Namun siapa sangka, dulunya nasib Si Unyil cs sempat terlunta – lunta. Diciptakan sekitar tahun 1969, karakter boneka Si Unyil beserta tokoh – tokoh pendukungnya tidak dilirik oleh pelaku perfilman Indonesia. Hingga akhirnya, hampir 2 dasawarsa setelah itu Si Unyil dkk mendapat panggung untuk tampil mewarnai dunia pertelevisian tanah air mulai April 1981 hingga 1993. Bahkan serial boneka itu menjadi legenda .

Saat ini, generasi milenial masih dapat melihat beragam boneka Si Unyil di Museum Sanggar Gubug Wayang Mojokerto. “Serasa bernostalgia kalau melihat koleksi kami tentang Si Unyil,”
ujar Budi, salah satu guide di Museum Sanggar Gubug Wayang Mojokerto, Jawa Timur.

Museum Sanggar Gubug Wayang sendiri menyimpan seri boneka Si Unyil yang asli. Ada 300 boneka Si Unyil beserta tokoh – tokoh lain dalam serial itu yang dipajang disana. Mulai dari Pak Ogah, Pak Raden, Cuplis, Usrok, Melani terpajang di display museum. Bahkan pengunjung di museum bisa menikmati suasana Desa Sukamaju, tempat tinggal Si Unyil, lengkap dengan rumah dan kamarnya yang berisi foto, layang-layang, dan baju seragam Si Unyil.

“Ini baru sebagian kecil dari semua koleksi boneka Si Unyil. Dan semuanya asli, pernah dimainkan oleh Pak Raden (Suyadi,red). Semua set ada disini. Ada pula sket Si Unyil dan tokoh lain hasil lukisan Pak Raden sebelum dijadikan boneka tiga dimensi oleh Pak Nana Ruslana,” paparnya.

Di museum itu memang terlihat surat pernyataan penyerahan boneka – boneka Si Unyil dari Suyadi. Bahkan Suyadi yang identik dengan penampilan khas Pak Raden berkumis tebal sempat memainkan cerita Si Unyil di museum tersebut pada bulan Agustus 2015, dua bulan sebelum meninggal dunia. “Beliau hadir dalam keadaan sakit tapi tetap bersemangat. Saat itu cerita yang dimainkan berjudul dongeng tiga batu ajaib,” imbuh Budi.(hya/vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *