berita WISATA

Tampilkan Potehi Hingga Sopo Jarwo

Museum Sanggar Gubug Wayang

Mojokerto, demonstran.com – Banyak cara yang bisa gunakan untuk menikmati hari libur di akhir pekan. Salah satunya dengan mengunjungi tempat wisata. Tak hanya bersenang – senang, wisata akhir pekan ternyata juga dapat menjadi sarana menambah ilmu. Misalnya dengan mengunjungi museum.

Di Kota Mojokerto Jawa Timur, terdapat sebuah museum yang bernama Museum Sanggar Gubug Wayang. Lokasinya di tengah kota, tepatnya di Jalan RA Kartini, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Di museum tersebut, ratusan ribu wayang dari berbagai jenis tertata rapi di seluruh bagian bangunan berlantai tiga.

Di museum itu para pengunjung seolah diajak melintasi waktu. Betapa tidak, koleksi yang disajikan begitu beragam dari berbagai zaman. Tengok saja koleksi wayang potehi yang berasal dari negeri China. Jenis wayang itu menjadi jenis wayang tertua yang dikoleksi karena dibuat sekitar tahun 265 Masehi di Tiongkok. Wayang potehi diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad XVI.

Adapula berbagai jenis wayang nusantara, seperti wayang kulit dan wayang golek. Tak ketinggalan wayang kekinian yang akrab bagi generasi milenial. Mulai dari wayang Dono Kasino Indro, Upin Ipin, hingga Adit dan Sopo Jarwo. Pengunjung juga diajak menikmati wayang tokoh yang melukiskan orang – orang penting negeri ini, mulai komedian, pejuang kemerdekaan, hingga presiden.

Dari sekian banyak wayang yang ada di lokasi tersebut, sebagian merupakan wayang orisinil dan sebagian lain merupakan duplikat. Seri boneka Si Unyil misalnya, ada lebih dari 300 karakter boneka tersebut asli boneka yang digunakan oleh Pak Raden. “Di sini yang paling tua adalah wayang potehi, sudah lebih dari 3.000 tahun yang lalu wayang tersebut ada,” ujar Budi, salah satu pemandu di museum itu.

Selain wayang dari berbagai daerah di Indonesia, koleksi yang ada di museum tersebut mulai dari pusaka asli Indonesia, alat musik tradisional, mainan anak – anak, topeng, dan lain lainnya. Semua yang ditampilkan merupakan upaya  agar masyarakat lebih mengenal dan merasa memiliki seni dan budaya yang sudah diwariskan secara turun temurun. (hya/vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *