berita POLITIK

Debat Publik Kedua, Sajikan Suhu Politik Memanas

Kediri, demonstran.com – Debat Publik Kedua dalam Pemilihan Umum (Pemilu) calon Walikota dan Wakil Walikota Kediri pada akhirnya telah usai.
Debat publik yang berlangsung di Hall Insumo Kediri Convention Center (IKCC) tepatnya pada Jum’at (22/6/2018) berlangsung menarik. Pasalnya, dari ketiga pasangan calon yang terdiri dari pasangan nomor urut satu Aizzudin Abdurrahman – Sujono Teguh, pasangan nomor urut dua Abdullah Abu Bakar – Lilik Muhibbah, dan pasangan calon nomor urut tiga Samsul Ashar – Teguh Juniadi, mereka sama-sama tampil all out dengan menunjukkan masing-masing programnya dan beradu argumen di kesempatan debat publik terakhir (kedua) untuk mencuri perhatian bagi masyarakat Kota Kediri.
Dalam debat publik kedua tersebut Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 4 tema sekaligus sebagai ajang debat publik bagi ketiga pasangan calon. Keempat tema yang diangkat itu diantaranya mengenai penyelesaikan persoalan daerah, menyerasikan pelaksanaan pembangunan Kota Kediri, Provinsi dan Nasional. Memperkokoh NKRI dan kebangsaan, serta komitmen terhadap pemberantasan korupsi, narkoba, dan program kependudukan KB dan pembangunan keluarga.
Sejak segmen pertama dimulai, nampak terlihat ketiga pasangan calon saling ngotot dan menunjukkan kematangannya dalam rencana penataan Kota Kediri selama 5 tahun kedepan.
Salah satu tema menarik yang diulas dalam debat publik tersebut adalah membahas permasalahan mengenai menjamurnya gepeng dan anak jalanan yang masih banyak dijumpai disepanjang jalanan Kota Kediri.
Aizzudin Abdurrahman – Sujono Teguh yang mendapatkan giliran pertama dalam kesempatan debat, menilai bahwa permasalahan gepeng dan anak jalanan yang ada di Kota Kediri belum terselesaikan. Menurutnya, untuk saat ini gepeng hanya ditangkap setelahnya dilepas kembali.
“Harusnya, gepeng yang ditangkap tidak kemudian di lepas kembali, melainkan mereka- mereka ini di didik sedemikian rupa. Kalau perlu di Pondokkan. Di didik akhlaknya baru setelah itu diberi pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK),” ujar Sujono Teguh.
Berbeda dengan Paslon nomor urut 1. Pasangan petahan nomor urut 2, Abdullah Abu Bakar – Lilik Muhibbah langsung mencounter argumen yang disampaikan oleh paslon nomor urut satu,  bahwa gepeng – gepeng yang di lepas adalah gepeng dari luar Kota Kediri. Pelepasannya pun tak hanya sekedar dilepas, namun, di kembalikan ke keluarganya.
“Yang dari dalam kota kita beri pelatihan, kita sekolahkan formal serta kita ikutkan pelatihan UMKM. Untuk pelatihan UMKM setiap tahun kita meluluskan 800 bahkan lebih. Dari hasil pelatihan tersebut terbukti dapat menurunkan angka kemiskinan dari 8, menurun drastis ke angka 4,” ujar Abdullah Abu Bakar atau yang akrab disapa Mas Abu.
Berlanjut kepada Paslon nomor urut 3 Samsul Azhar – Teguh Juniadi, mereka mengemukakan bahwa mengentaskan permasalahan gepeng tak hanya dengan pelatihan semata. Menurut mereka sebagai pemangku kebijakan hendaknya mencari potensi yang dimiliki para gepeng.
Tak cukup sampai disitu mantan Walikota Kediri di periode 2009 – 2014 itu  Samsul ashar juga menambahkan selain mencari potensi dan bakat nantinya paslon nomor urut 3 tersebut apabila terpilih akan memberikan insentif kepada para gepeng setelah mengikuti beberapa pelatihan.
“Kita akan berikan insetif atau pendanaan kepada gepeng selama masa pelatihan dan tentunya kita akan salurkan mereka ke perusahaan sesuai potensi dan bakat mereka atau bisa dengan pemberian intensif tersebut mereka mampu membuka lapangan pekerjaan sendiri bahkan untuk orang lain sesuai dengan bakat yang telah dibina dalam dekade masa kepelatihan,” pungkasnya.
Tak berhenti disitu, suhu debat publik semakin memanas saat moderator menyampaikan tema pembahasan debat mengenai Disabilitas.
Dari tema tersebut  Aizzudin Abdurahman paslon nomor satu langsung mengomentarinya. Dalam komennya, Gus Aiz sapaan akrab Aizzudin Abdurahman ini menilai bahwa lokasi di wilayah Kota Kediri tak layak bagi penyandang disabilitas.
“Selama 5 tahun  belakangan ini cukup minim sekali menyangkut sarana prasarana bagi seorang disabilitas. Hal itu terbukti dari kantor-kantor pemerintahan saat ini yang masih tidak mendukung seorang difabel untuk akses masuk disana.
“Dan saya pikir ini PR kita nanti apabila kita menjadi Walikota dan Wakil Walikota Kediri nanti,” ujarnya.
Sementara itu giliran Abdullah Abu Bakar yang berkomentar. Abu mengaku bahwa lima tahun di era pemerintahannya juga memperhatikan kepentingan kaum difabel. Salah satunya adalah tinggi trotoar yang sudah ramah bagi penyandang cacat. Seperti di Jalan Dhoho Kota Kediri yang kita ketahui trotoarnya sekarang sudah tidak tinggi lagi. Sehingga penyandang disabilitas bisa memanfaatkan dengan baik. Selain itu taman-taman RTH yang berada di sepanjang Kota Kediri saat ini juga telah ramah akan penyandang difabel,” jelasnya.
Diketahui, hingga akhir acara debat tersebut, ketiga paslon menunjukkan tanggapan-tanggapan yang kritis terkait cara memajukan Kota Kediri. Suasana debat semakin panas dan riuh dengan adanya pendukung paslon yang genggap-gempita memberikan dukungan. Mereka meneriakkan yel-yel yang kompak hingga dukungan sorak-sorai yang membuat semangat jagoan mereka. (glh/yy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.