berita HEADLINE

Galian C Barat Sungai Telan Korban

Waspadai Aktivitas Proyek Besar

Berbagai insiden mewarnai aktivitas penambangan galian c di wilayah barat Sungai Brantas Kabupaten Kediri. Bahkan sebuah insiden menelan korban jiwa. Kalau aktivitas seperti ini sudah menimbulkan kerugian bagi warga, bagaimana nantinya dengan aktivitas proyek besar yang akan berjalan di lokasi tersebut ?

Suasana  duka masih menyelimuti keluarga  Tristiyawati dan Didik, warga Desa Bulusari Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri. Anak mereka yang berusia dua tahun, Delia Nisya meninggal dunia, akibat tertabrak truk  galian c yang sedang lewat di depan rumahnya..

Peristiwa tragis itu terjadi pukul 16.00 WIB. Saat itu Delia sedang bermain di belakang rumah. Namun beberapa saat kemudian bocah perempuan itu bermain di jalan yang dilalui truk galian c. Truk yang melintas dari arah selatan menuju ke utara menabraknya. Saat itu juga keluarga korban langsung membawa ke rumah sakit Bhayangkara Kota Kediri. Namun selang beberapa waktu korban akhirnya meninggal dunia  pada Selasa (15/5).

Tristiyawati, ibu korban masih terlihat bingung ketika tim Tabloid Demonstran berkunjung di rumahnya. Dia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. ”Saya sedih  dan tidak bisa berkata apa-apa , saya tidak minta kejadian ini, semua ini musibah,” ucap Tristiyawati.

          Dia menambahkan, galian c yang selama ini beroperasi agar ditutup total. Menurutnya, keberadaan aktivitas tersebut mambawa dampak negatif di desanya. “Kondisi jalan jadi rusak, debunya juga banyak, belum lagi kondisi keramaian anak – anak yang sedang bermain, seperti kejadian anak saya ini, “ ungkapnya.

Pihak PT yang bersangkutan sudah datang ke rumah korban untuk bersilaturahmi. Pihak keluarga korban tidak melanjutkan kejadian tersebut ke pihak berwajib, dan masalah tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak PT bertanggung jawab dengan mengurus asuransi dari Jasa raharja hingga cair. Sehingga keluarga korban mendapatkan uang Rp 50 juta dari Jasa Raharja.

Sementara itu, Ali Mustofa tokoh masyarakat Desa bulusari yang merupakan  aktivis Forum Pojok Rembuk (FPR) mengaku geram melihat kejadian yang telah menelan korban jiwa tersebut. “Sebenarnya kami dari awal sudah tidak setuju dengan adanya galian c di wilayah kami. Keberadaanya sangat tidak menguntungkan bagi kami. Aktivitas itu membawa efek buruk yang menyelimuti desa kami,” katanya.

Beberapa efek buruk yang ditimbulkan seperti polusi udara yang mengganggu pernafasan juga mengganggu pengeringan kerupuk yang kotor akibat terkena debu tersebut. Selain itu juga berbahaya bagi keselamatan anak-anak kecil yang berada di Desa Bulusari. “Mulai pukul 04.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB truk galian c terus beroperasi,” katanya.

          Warga RT 01 hingga RT 09  yang ada di RW 2 Desa Bulusari, mengecam  terhadap aktivitas galian c tersebut. Bentuk kecaman itu mereka tunjukkan dengan memasang spanduk yang bertuliskan “Kami warga masyarakat Bulusari mendukung dengan adanya penutupan galian c di desa kami”.

Ali Mustofa menambahkan, sejauh ini warga masih mengumpulkan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) sebagai wujud penolakan keberadaan galian c. “Sejauh ini masih itu, dan kami rencananya akan mengagendakan pertemuan antra pihak kepala desa dan pihak galian c untuk membicarakan hal tersebut. Dan Rencananya seluruh warga juga kami undang untuk menyaksikan proses dan hasil dari pertemuan tersebut,” tambahnya.

Sementara itu Rahmat Wisuguh Kepala Desa Bulusari mengaku, semua aspirasi dari masyarakat akan diterima dengan terbuka. Bila perlu pertemuan dengan pihak terkait, dia siap untuk memfasilitasinya, karena hal itu untuk mendukung warga. “ Sebenarnya sebentar lagi galian c juga akan tutup, setelah proyek yang rencananya sebagai lahan penunjang bandara terlaksana. Karena kita ketahui, lokasi galian c tersebut telah dibeli oleh pihak Pt. Gudang Garam sebagai keperluan perencanaan pembangunan Bandar udara di wilayah barat sungai,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *