berita HEADLINE

Menunggu Serangan Hari Raya

Awas Politik Uang !

Lebaran sebetar lagi. Momen hari kemenangan itu akan dirayakan berdekatan dengan agenda politik lima tahunan, pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kediri serta Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Masyarakat diminta tidak tergiur terhadap aksi ‘serangan fajar’ yang mendompleng perayaan Idul Fitri.

Menjelang pelaksanaan pemilu, ada saja hal yang menarik untuk mendapatkan simpati dari para calon pemilihnya. Banyak cara pencitraan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota untuk mendongkrak perolehan hasil suarannya nanti. Misalnya, bagi – bagi sembako, pengobatan gratis, iming – iming program yang akan diembannya selama lima tahun ke depan hingga politik uang.

Mohammad Kasim, kuli bangunan asal Kota Kediri mengatakan, aksi para calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota sudah menjadi hal biasa menjelang hari pemilihan. “Saya kira hal itu sudah menjadi tradisi di tahun politik untuk memperoleh suara masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, aksi pencitraan tersebut dilakukan tak hanya oleh satu pasangan calon saja, hampir setiap pasangan calon melakukan hal tersebut. Namun cara mereka yang berbeda – beda. Dari pengalamannya saat tahun politik sebelumnya, untuk pembagian uang, biasanya setiap satu kartu keluarga  (KK) yang memiliki hak pilih atau suara itu diberikan semua, namun bila tidak memiliki hak pilih atau yang belum cukup umur, itu tidak diberi. Sedangkan untuk nominal yang diberikan bervariasi, mulai dari Rp. 50 ribu hingga Rp. 100 ribu. ”Namun bila jumlah dari nominal itu sama, biasanya suara dari setiap kelurga itu dibagi-bagi,” katanya.

Hal serupa juga diungkapkan Slamet tukang becak asal Kota Kediri. Memasuki tahun politik seperti ini selalu ramai, para pasangan calon turun menyapa warga – warga kecil. Berbagai macam program mereka suarakan untuk mendapatkan simpati dari warga agar mau menyumbangkan suaranya dalam pemilu nanti. Pelayanan – pelayan kesehatan, konsultasi biaya pendidikan dan berbagai macam program lainnya mereka promosikan. Selain turun langsung, tradisi amplopan juga masih menjadi cara andalan bagi para pasangan calon. “Kalau di kasih uang ya saya terima, karena ini rezeki,” ucapnya sembari tertawa.

Dia menambahkan, meski ada berbagai macam program dan pemberian dalam bentuk apapun akan kami terima. Namun untuk suara yang kami berikan nanti tetap pada pendirian masing – masing, sesuai apa kata hati nurani.  “Karena nasib kita selama 5 tahun kedepan ditentukan oleh kinerja dan kebijakan pemimpin ini,” terangnya.

Potensi politik uang yang mendompleng perayaan lebaran mendapat perhatian dari penyelenggara pemilu. Sanksi sudah disiapkan dan akan diberikan bagi pasangan calon yang memanfaatkan momen keagamaan untuk kepentingan politik. Pengawasan pun ditingkatkan agar tidak ada celah pelanggaran yang terbuka.

Ketua KPU Kota Kediri, H Agus Rofiq mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan panitia pengawas pemilu (panwaslu) untuk mencegah potensi pelanggaran terkait aksi politik uang saat hari raya keagamaan. Aturannya pun jelas sehingga dia mengingatkan pasangan calon tidak coba – coba untuk melanggarnya. “Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Sebab praktik politik uang ini merupakan pelanggaran berat. Kami berharap pasangan calon bisa fair dan mematuhi aturan yang berlaku,” tandasnya.

Sementara itu, pengamat politik dari IAIN Kediri, Dr Prillani mengatakan, politik uang memang berpeluang terjadi saat hari – hari tertentu. Modusnya juga beragam. Menurutnya, politik uang sebenarnya merupakan pembodohan pemilih. Bagaimana tidak. Hak suara yang dimiliki ditukar dengan kebutuhan sesaat. “Padahal suara itu hak politik untuk menentukan pemimpin yang secara tidak langsung berpengaruh pada masa depan. Jadi jangan mau jika ditukar dengan uang atau kebutuhan lain,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *