berita HEADLINE

Calon Bupati Kediri Bermunculan

Siap Bersaing Rebut Kursi AG 1

Laporan Tim Liputan Tabloid Demonstran

Suhu politik di Kabupaten Kediri mulai menghangat. Dalam beberapa bulan terakhir ini mulai muncul nama-nama yang mengenalkan diri hendak maju sebagai calon Bupati Kediri dalam Pilbup  yang akan datang. Mereka pun siap bersaing merebut kursi AG 1.

Tercatat beberapa nama bakal calon Bupati mulai muncul ke publik. Mereka antara lain Slamet Budiono, salah satu petinggi PT Gudang Garam Tbk. Lalu ada pula nama Basuki Babussalam, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) dan Ari Purnomo Adi, aktivis yang juga dokter. Tak ketinggalan pula santer terdengar, salah satu putra mantan Bupati Sutrisno yang akan maju meramaikan bursa pilbup.

Nama – nama tersebut sudah mulai “memperkenalkan” diri ke publik melalui berbagai kegiatan dan di sejumlah acara. Mereka disebut – sebut juga sudah menyusun program yang akan digunakan sebagai “peluru” untuk merebut simpati rakyat.

Yang paling atraktif adalah Slamet Budiono dalam memperkenalkan diri dengan inisial “SB”. Dengan mengusung tagline Kediri berubah, SB sudah beberapa kali mengadakan berbagai acara, dari bakti sosial hingga acara otomotif untuk memperkenalkan dirinya kepada masyarakat kabupaten Kediri. Tidak hanya itu, di dunia maya, SB juga update terus. SB menawarkan beberapa gagasan hingga sempat menyindir penguasa saat ini dengan kebijakannya yang dianggap tidak sesuai dengan kehendak masyarakat.

Menurut Rahmad Mahmudi, ketua Gerakan Rakyat Menuju Kediri Lebih Baik (GR-MKLB), kunculnya beberapa nama bakal calon Bupati Kediri itu, memberikan gambaran sekaligus harapan bahwa pelaksanaan Pilbup Kediri akan berjalan dinamis. “Hal ini tentu menggembirakan sekaligus cukup menarik perhatian, mengingat dalam tiga Pilbup terakhir terkesan berjalan monoton dikarenakan dominasi dan hegemoni Dinasti Sutrisno,” ujarnya.

Hal yang menarik, nama – nama bakal calon bupati itu muncul dan mulai “pemanasan” dalam waktu yang masih jauh dengan pelaksanaan pilbup itu sendiri.

Menurut Rahmad yang juga merupakan salah satu pengajar di UNISKA, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi langkah itu. Salah satunya adalah masih berakarnya pengaruh dan kekuatan politik mantan Bupati Sutrisno. “Mereka sangat menyadari bahwa hegemoni itu masih kuat hingga ke desa-desa. Pengaruh terhadap kepala desa dan perangkat desa dinilai masih besar. Nama Sutrisno dinilai masih cukup mengakar di kalangan masyarakat desa. Hal ini mendorong mereka untuk bergerak lebih awal, karena faktor kekuatan lawan yang tidak bisa dipandang sebelah mata,” ujar Rahmad memberian analisa.

Di sisi lain, kemunculan nama – nama bakal calon Bupati Kediri tentu harus diapresiasi. Berbagai slogan yang mulai didengungkan terkait perubahan peta kepemimpinan di Kabupaten Kediri juga menunjukkan dinamika politik masyarakat yang matang dan berkembang. Masyarakat pun mulai tergerak dan berpartisipasi dalam upaya mewujudkan perbaikan di daerahnya, tidak sekedar menjadi penonton.

Aktivis LSM Kediri, Daniel Arisandi menyatakan dengan mulai muncul nya tokoh tokoh baru yang akan maju ke pemilihan Bupati Kediri 2020 justru semakin bagus. Terlepas calon tersebut memiliki kapasitas sebagai pemimpin atau tidak, rakyat yang akan menilai hal tersebut. Namun Daniel mengingatkan rakyat harus pintar memilih. “Satu hal yang harus dijadikan prinsip rakyat pemilih adalah jangan sampai terjebak terfragmentasi dalam ruang demokrasi itu sendiri.  Cerminan demokrasi yang baik selain berlandaskan pada Pancasila, dalam hal pemilihan Kepala Daerah adalah rakyat berhak untuk memilih dan dipilih tanpa adanya tekanan atau paksaan dari pihak manapun juga,” tegasnya.

Salah satu aktivis yang juga praktisi hukum, Ander Sumiwi Johana Margareta mengatakan, munculnya nama – nama bakal calon bupati seperti itu sah – sah saja dan justru bagus untuk kehidupan demokrasi. “Menurut saya siapapun yang mencalonkan diri menjadi pimpinan di Kabupaten Kediri siapapun asal sudah memenuhi hak pilihnya sebagai syarat dipilih dan memilih dan sesuai dengan undang-undang itu sah-sah saja,” ujarnya.

Bagi Ander, munculnya nama – nama yang macung sebagai AG 1 justru membuka kesempatan dan memperbanyak pilihan masyarakat. Masyarakat bisa menyalurkan hak suaranya terhadap calon yang dikehendaki, tentu dengan pertimbangan visi – misi dan program yang ditawarkan. “Jadi ketika kita memilih tidak terulang memilih kucing dalam karung. Di sisi lain  rakyat ingin yang baru. Bagaimana para calon-calon menawarkan dagangannya yang bisa  membawa Kediri menuju yang lebih maju. Saya pribadi sebagai lawyer,  siapapun yang menjadi pemimpin asal membawa perubahan lebih maju, yang menjadi catatan jangan memilih calon pemimpin yang sudah cacat hukum,” tambahnya.

Meski demikian, Ander berharap nama – nama bakal calon yang sudah muncul ke permukaan itu bisa menjaga diri dan tidak terjebak dalam politik kotor yang ditandai dengan saling serang menggunakan kampanye hitam. “Esensi demokrasi itu fair play dan tidak melanggar hukum. “Jangan memilih pemimpin yang belum mimpin sudah melalukan kampanye hitam sudah melakukan pelanggaran hukum. Ini barometer, nah kalo jadi pemimpin bagaimana nantinya kalau di awal sudah seperti itu,” ucapnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *