berita REFLEKSI

Bukan Sekedar Kopi, Tapi Cerita Gaib Menjadi Daya Tarik

Catatan Perjalanan ke Etnik Sisa Sejarah di Kawasan Toraja

Tidak mudah bagi orang seperti saya dan mungkin juga kita para pembaca untuk bisa sampai ke Tanah Toraja. Selain memang tempatnya cukup jauh dari wilayah saya ( Kediri ), juga untuk sampai ke sana memerlukan perjalanan yang cukup panjang dan cukup melelahkan. Tidak hanya perjalanan udara yang harus transit lebih dulu, tetapi juga perjalanan daratnya yang memerlukan waktu cukup lama. Ini catatan saya saat perjalanan waktu itu…
————

Perjalanan darat dari Kediri ke Surabaya melalui tol saat ini cukup dengan 1,5 – 2 jam saja. Beruntung sudah ada tol, kalau dulu bisa 4 jam kalau lancar, kalau macet pernah sampai 6-7 jam juga. Sehingga perjalanan ini saya anggap perjalanan pendek, bila dibandingkan dengan perjalanan darat dari Bandar Udara Bua Palopo ke Tana Toraja yang memakan waktu sekitar 3-4 jam. Apalagi kalau kita memilih jalur darat dari Makassar ke Tana Toraja yang hampir 7-8 jam. Tapi saya memilih jalur Palopo ke Tanah Toraja setelah sebelumnya sempat transit sekitar 1 jam di Bandara Hasanuddin Makassar.
Perjalanan panjang ini menurut saya bukan sebuah masalah, karena terus terang bagi saya ini baru pertama. Dan saya sangat penasaran dengan cerita-cerita yang ada di Tanah Toraja dan sekitarnya. Bukan hanya cerita kopi toraja yang sudah mendunia, tetapi cerita-cerita gaib di kawasan Toraja dan sekitarnya menjadi daya tari tersendiri. Dan yang membuat perjalanan nyaman, adalah pemandangan alam di sepanjang perjalanan yang tidak menjemukan. Hutan yang tidak begitu lebat, diwarnai dengan pohon-pohon durian, yang saat itu sedang musih berbuah menjadi kenikmatan tersendiri. Apalagi kalau kita mau berhenti di tempat teduh yang ada penjual durian, dan kita menikmatinya disitu. Seakan malas melanjutkan perjalanan, jika tidak ingat tujuan utama kita yaitu menuntaskan rasa penasaran terhadap cerita-cerita Toraja.
Sayangnya saat kita sampai di daerah situ, waktu sudah menunjukkan pukul 15.15 wib, sehingga kalau tidak segera melanjutkan perjalanan bisa terlalu malam nyampek di Toraja. Meski sebenarnya kita berangkat dari rumah sudah pagi ‘uput-uput’, tetapi waktu memang begitu cepat bila kita menikmati perjalanan. Dan tentu saja semua ini adalah nikmat dari Alloh yang patut kita syukuri.
Sekitar pukul 17.00 wib, kita mulai memasuki kawasan Toraja, dan tidak salah. Begitu kita masuk kawasan etnik Toraja, di sepanjang perjalanan disuguhi rumah-rumah adat yang sangat indah dan terjaga. Hebatnya memang rumah-rumah adat di wilayah itu masih terjaga meski penggunaanya tidak semaksimal saat dahulu. Dan ini memang menjadi daya tarik tersendiri bila dibandingkan dengan kawasan-kawasan wisata di tempat lain. Kita belum berniat berhenti untuk melihat lebih jauh, karena selain waktu sudah sore, kita ingin melihat dari sepanjang perjalanan lebih dahulu.
Menjelang maghrib, kita sampai di hotel. Alhamdulillah hotelnya juga bernuansa adat dan tertata cukup indah. Sehingga kita malam itu, cukup menikmati pemandangan sekitar hotel, sambil mengira-ngira apa yang akan kita kunjungi besok…….. ( Nur Wakhid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *