berita HEADLINE

Duh.. Kualitas Jelek, Rastra Dikeluhkan Warga

Jombang, demonstran.com – Warga RT 10/RW 04 Dusun/Desa Pandanwangi Kecamatan Diwek, mengeluhkan beras sejahtera (Rastra) yang mereka terima, Senin (16/4). Ini karena rastra yang mereka terima dalam kondisi berjamur dan sebagian besar kemasannya telah rusak.

“Memang sudah kesekian kali menerima rastra kondisi tak layak. Harusnya pihak desa meneliti rastra yang datang dari Bulog ke kantor desa,” ujar Herman, salah satu warga.

Ja’ini, warga lainnya mengatakan rastra yang diterima dari Bulog dan baru saja diambil dari kantor desa setempat kualitasnya jelek. “Ini sudah ketiga kalinya menerima (rastra) tidak layak konsumsi,” katanya kepada sejumlah wartawan.

Dikonfirmasi terpisah terkait kondisi rastra tak layak konsumsi yang diterima warga RT 10/ RW 04, Kepala Desa (Kades) Pandanwangi, Haris Setyo Utomo mengakui jika pada saat penerimaan rastra dari Bulog Senin (9/4) lalu, pihaknya tidak mengecek satu per satu sak beras yang datang. “Kelemahan kita tidak ngecek satu persatu. Kami hanya menghitung jumlah sudah sesuai ada 349 sak beras,” ungkap Haris.

Sementara itu, Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Surabaya Selatan, melihat langsung kondisi beras sejahtera (Rastra) berjamur dan berkutu sehingga tak layak konsumsi yang diterima warga RT 10/RW 04 Dusun/Desa Pandanwangi Kecamatan Diwek. Mereka juga mengklaim telah mengganti rastra yang rusak.

“Kita sudah melakukan penggantian beras yang kemarin ditemukan rusak yang diterima KPM (keluarga penerima manfaat). Temuan kami yang terjadi adalah penuruan mutu di balaidesa karena distribusi yang terhambat,” kata Wakil Kepala Bulog Sub Divre Surabaya Selatan, Andri Adi Mijaya saat diwawancara wartawan, di Balaidesa Pandanwangi, Selasa (17/4).

Disinggung soal buruknya kondisi beras, Andri mengungkap jika temuan dari penelusuran pihaknya, beras yang telah didistribusi dari gudang Bulog, tidak langsung terdistribusi ke KPM di tingkat desa.

“Beras yang kami distribusikan sesuai jadwal yang disepakati, tidak langsung tersalurkan ke penerima. Karena masih terkendala teknis penyaluran dilapangan dimana masih terjadi musyawarah atau rembug tentang bagaimana penyalurannya. Jadi warga ada yang belum mau langsung mengambil  ketika beras datang,” ungkap Andri.

Turunya mutu, lanjut Andri, juga karena keterbatasan sarana tempat penyimpanan beras di balaidesa. “Secara prinsip, meski disimpan di balaidesa dengan catatan disimpan sesuai perosedur, pasti bertahan lama. Kalau di (gudang) Bulog bisa sampai 6 bulan. Apalagi tadi ada jejak tampias air dan tidak aman dari tikus. Pasti tidak bertahan meski hanya 2 minggu,” paparnya.(ha/ran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *