berita HEADLINE

Awas..Peredaran Uang Palsu !

Sekali Produksi Bisa Mencapai Rp 10 Juta

Laporan Tim Liputan Tabloid Demonstran

Satreskrim Polres Kediri membongkar sindikat pembuatan dan peredaran uang palsu. Para pelaku tidak hanya berasal dari Kabupaten Kediri namun juga dari Kabupaten Megelang dan Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Sebanyak empat tersangka diamankan dalam kasus pembuatan dan peredaran uang palsu ini.

Dari empat tersangka itu, sua diantaranya merupakan warga Kabupaten Kediri, masing – masing Sumadi (53) warga Desa/Kecamatan Kepung dan Sunarto (54) warga Desa Sekoto Kecamatan Badas. Sementara dua pelaku dari Provinsi Jawa Tengah adalah Vexi Soeratman (61) warga Kabupaten Klaten dan Muhamad Sulhan (40) warga Kabupaten Magelang.

Terbongkarnya pembuatan dan peredaran uang palsu ini berawal dari laporan Tukinem (53). Perempuan asal Kecamatan Kepung tersebut melaporkan dugaan pembayaran jual beli kambing yang dilakukan Sumadi menggunakan uang palsu.

“Awalnya ada laporan jual beli menggunakan uang palsu. Dari keterangan korban kita berhasil mengamankan tersangka yang berperan sebagai pengedar uang palsu tersebut,” ungkap Kapolres Kediri AKBP Erick Hermawan saat pers rilis, Rabu (21/3).

Dari penangkapan Sumadi petugas mengamankan 48 lembar uang palsu pecahan Rp 100.000. Petugas melakukan interogasi terkait pembuatan uang palsu tersebut. Sumadi mengaku jika uang palsu itu dibeli dari sesorang bernama Vexi warga Kabupaten Klaten. Dalam keterangannya, Sumadi mengaku untuk mendapatkan uang palsu sebesar Rp 10 juta, dia hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp 1 juta. Tim Pidana Khusus Satreskrim Polres Kediri kemudian melakukan pengembangan. Petugas akhirnya menciduk Vexi di rumahnya di Kabupaten Klaten.

Di rumah pria yang sebelumnya bekerja di percetakan tersebut ditemukan alat dan bahan untuk pembuatan uang palsu. Di antaranya empat alat screen gambar logo, satu meja sablon, 200 lembar kertas aster yang sudah disablon. Selain itu juga ditemukan dua buah penggaris, dua alat penggosok, dan dua plastik tepung terigu. “Kita mengamankan sebanyak 440 lembar uang palsu dengan pecahan Rp 100.000. Terdapat empat nomor seri dalam uang palsu tersebut,” tegas AKBP Erick.

Petugas pun terus menelisik kemana uang palsu yang dibuat Vexi diedarkan. Ternyata Vexi juga mengedarkan uang tersebut ke Sunarto yang merupakan warga Kecamatan Badas. Vexi mengaku dalam pembuatan uang palsu tersebut dia dibantu seorang rekannya bernama Sulhan yang tinggal di Magelang.

Pengembangan pun terus dilakukan hingga Kabupaten Magelang. Petugas mengamankan Sulhan berserta barang bukti 77 lembar uang palsu pecahan Rp 100.000. Petugas juga mengamankan satu unit laptop, satu mesin print, satu mesin fotokopi, satu plastik sisa perca kertas potongan uang palsu, dan alat pemotong. “Tim buser kemudian melakukan penangkapan terhadap tersangka Sunarto dan mengamankan 28 uang palsu pecahan Rp 100.000. keempat tersangka kini masih dalam proses penyidikan,” jelas AKBP Erick.

Kualitas Jelek

Setelah menangkap kelompok pembuatan dan peredaran uang palsu, Satreskrim Polres Kediri mengungkap bagaimana para pelaku membuat uang palsu tersebut. Berbekal kemampuan bekerja di percetakan, Vexi Soeratman (61) warga Kabupaten Klaten mulai membuat uang palsu.

Cara yang dilakukannya pun begitu sederhana. Awalnya pelaku menyiapkan kertas aster yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan uang palsu. Vexi kemudian menyablon kertas aster tersebut dengan beberapa hologram seperti logo Bank Indonesia, gambar pahlawan, dan gambar blok kotak.

“Proses awalnya menyablon kertas ini menggunakan alat sablon. Gambar pada sablon tersebut adalah logo Bank Indonesia, gambar pahlawan sehingga terlihat seperti hologram,” ucap Vexi saat gelar rilis, Rabu (21/3) kemarin.

Setelah memberi memberi hologram dengan cara menyablon, kemudian mencetak uang palsu yang ukuran dan nomor seri sudah disetting di laptop. Proses pencetakan uang palsu itupun menggunakan mesin print dan mesin fotokopi.

Satu lembar kertas aster tersebut dibuat untuk mencetak enam lembar uang pecahan Rp 100.000. Untuk menghindari warna mencolok, ditaburkan tepung terigu setelah proses percetakan. Kemudian uang palsu tersebut didistribusikan kepada Sumadi dan Sunarto.

Dalam sekali produksi uang palsu, Vexi yang dibantu oleh temannya Muhamad Sulhan (40) warga Kabupaten Magelang membutuhkan waktu satu minggu. Jumlah uang yang dihasilkanpun cukup fantastis yaitu sebesar Rp 10 juta untuk sekali produksi. “Saya hanya ingin mendapat keuntungan saja. Pembuatan uang palsu ini berbekal atas kemampuan saya bekerja di percetakan,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Tim Sistem Pembayaran Bank indonesia Kediri, Beny Wicaksono menyatakan uang palsu yang dicetak oleh komplotan ini mempunyai kualitas buruk. Selain menggunakan kertas biasa, para pelaku hanya menggunakan empat jenis nomor seri pada uang palsu.

Dengan demikian masyarakat mudah untuk mengenali uang palsu tersebut. “Selain itu warna pada uang palsu ini juga lebih mudah luntur jika dibandingkan dengan uang asli,” bebernya.

Harus Waspada

Lebih lanjut Beny mengatakan, dalam tahun ini pihak Bank Indonesia menerima laporan dua pengungkapan kasus peredaran uang palsu, yakni di Kecamatan Kepung dan Banyakan dengan total uang palsu yang diamankan sebanyaj 600 lembar. Modus yang digunakan pelaku, kata Beny, beragam mulai dari penipuan jual beli hingga modus penggandaan uang.

“Bisa lewat transaksi jual beli, modus penggandaan uang, bahkan calo – calo yang memanfaatkan jasa tukar menukar uang. Maka dari itu, saya sekali lagi menghimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati – hati, cermat dan jangan mudah terhasut oleh iming – iming akan penggadaan uang padahal itu tidak benar adanya,” tutur Beny kepada tim Tabloid Demonstran di ruang kerjanya, Rabu (28/3).

Lebih lanjut Beny menyebut, pihak BI terus melakukan upaya pencegahan peredaran uang palsu, salah satunya dengan sosialisasi pada masyarakat. Menurut Beny, cara efektif mengetahui asli tidaknya uang adalah dengan 3D yakni Dilihat, Diraba, Diterawang. “Mengapa efektif ? Karena kualitas upal sangat jauh dari yang asli sehingga dengan 3D masyarakat bisa langsung tahu apakah itu uang palsu atau asli,” pungkasnya.(glh/yy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *