berita REFLEKSI

Kunjungi Nol KM, Dapatkan Sertifikat, Memperoleh Kesan Nasionalisme

Catatan Perjalanan Tabloid Demonstran ke Ujung Barat Indonesia (5)

Salah satu pengalaman yang sangat berkesan dan perlu diketahui bagi banyak orang adalah ketika kami berkunjung ke ujung barat Indonesia. Aceh dan Sabang adalah tempat yang menyimpan banyak cerita. Kami berharap pengalaman ini bisa membawa manfaat bagi kami, bagi pembaca tabloid demonstran dan juga pengunjung www.demonstran.com

Dua hari terakhir berkunjung di Aceh dan Sabang, waktu kita manfaatkan untuk mengejar titik nol Indonesia. Sejak awal niat berkunjung ke kota serambi mekah memang salah satunya adalah ingin mengunjungi daerah paling barat nusantara itu. Dan titik nol resmi adalah berada di Kabupaten Sabang.

Untuk mencapai Kabupaten Sabang, kita harus melalui perjalanan laut sekitar 45 menit dengan naik kapal ferry melalui pelabuhan Ulee-ulee menuju Bolahan. Ada beberapa pilihan kapal di pelabuhan ini, tentu saja dengan jadwal yang sudah ditentukan. Ada kapal cepat yang hanya mengangkut orang dan ada kapal yang lebih besar yang juga mengangkut barang. Saat kami sampai di pelabuhan, terlihat cukup banyak penumpang yang datang dan pergi melalui pelabuhan ini. Meski saat ini, daerah Aceh sudah aman, tetapi terlihat pengamanan yang tetap siaga.

“Sekarang sudah aman, jadi petugas tidak terlalu banyak. Kalau masih kelihatan banyak, karena daerah ini memang dekat dengan basis-basis tentara baik angkatan darat maupun angkatan laut,” kata salah seorang petugas ketika saya tanya.

Karena sudah kita persiapkan sebelumnya, perjalanan penyeberangan kami berjalan lancar. Sesampai di Sabang, kami langsung menuju sasaran yaitu titik nol Indonesia. Tentu saja setelah melapor ke dinas terkait, karena ada sertifikat yang bisa kita dapatkan, ketika kita menginjakkan kaki di titik nol tersebut. Melalui jalan darat yang berkelok-kelok, satu setengah jam perjalanan kita menuju ke tempat yang sangat terkenal karena ada lagu wajibnya itu. Beruntung jalan menuju sasaran sangat baik dan mulus karena baru saja ada perbaikan jalan. “dua bulan lalu masih rusak, ini sudah diperbaiki,” kata sopir yang mengantar kami.

Sambil menikmati perjalanan dan keindahan alam di sepanjang jalan menuju titik nol, kita sangat terkesan dengan wilayah tersebut. Sekaligus tentu penasaran, seperti apakah tugu titik nol yang selalu menjadi perhatian pemerintah sejak era presiden pertama Soekarno, diperbaiki saat jaman Habibie dan diperbaiki lagi saat presiden Jokowi ini. Dan tentu saja sambil menikmati perjalanan, semakin pula rasa cinta tanah air dalam diri kami, yang ternyata Indonesia begitu luas. Kalau semua tidak menyadari pentingnya persatuan, maka tentu membahayakan keutuhan NKRI. Dan akhirnya kita sampai juga di tempat yang kita tuju.

Tugu Nol Kilometer RI atau biasa disebut Monumen Kilometer Nol merupakan sebuah penanda geografis yang unik di Indonesia. Hal ini berkaitan perannya sebagai simbol perekat Nusantara dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua. Tugu ini bukan saja menjadi penanda ujung terjauh bagian barat di Indonesia tetapi juga menjadi obyek wisata sejarah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Lokasi tugu ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Bau, Kecamatan Sukakarya, sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Letaknya di sebelah barat kota Sabang.

Sebuah lagu nasional karya R. Surarjo awalnya bersyair “Dari Barat sampai ke Timur, Berjajar Pulau-pulau”, tetapi bait tersebut kemudian diubah atas masukan Presiden Soekarno tahun 1960-an saat mempersatukan Irian Barat ke NKRI. Perubahannya menjadi “Dari Sabang sampai Merauke, Berjajar Pulau-pulau”. Kebanggaan itu terus berakar, menanamkan kesan kuat bahwa batas barat negara Indonesia ialah Kota Sabang dan di sisi timurnya ialah Kota Merauke.

Tugu kilometer Nol adalah sebuah bangunan setinggi 22,5 meter dengan bentuk lingkaran berjeruji. Bagian tugu dicat putih dan bagian atas lingkaran menyempit seperti mata bor. Puncak tugu ini terdapat patung burung Garuda menggenggam angka nol dilengkapi prasasti marmer hitam yang menunjukkan posisi geografisnya.

Tugu Nol Kilometer Sabang sebenarnya tidak dipancangkan persis di garis terluar sisi barat wilayah Indonesia. Sebenarnya secara teknis, masih ada pulau di sisi paling barat Indonesia yaitu Pulau Lhee Blah, berupa pulau kecil di sebelah barat Pulau Breuh. Hal ini sama terjadi dengan pulau paling selatan yaitu Pulau Rote, walau secara teknis masih ada pulau paling selatan di Indonesia….. (Nur Wakhid / habis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *