berita REFLEKSI

Situs Kapal PLTD Tunjukkan Keajaiban Bernama Tsunami

Catatan Perjalanan Tabloid Demonstran ke Ujung Barat Indonesia (4)

 

Salah satu pengalaman yang sangat berkesan dan perlu diketahui bagi banyak orang adalah ketika kami berkunjung ke ujung barat Indonesia. Aceh dan Sabang adalah tempat yang menyimpan banyak cerita. Kami berharap pengalaman ini bisa membawa manfaat bagi kami, bagi pembaca tabloid demonstran dan juga pengunjung www.demonstran.com

Jika sebuah museum tsunami yang dibangun bisa menerangkan hal-hal yang terjadi saat itu. Maka ada sebuah keajaiban yang hingga saat ini masih dipertahankan, bahkan dibuat sebagai situs peninggalan bencana. Yaitu, situs Kapal Pembangkit Tenaga Diesel yang terbang hingga ke perkampungan. Sebuah keajaiban yang terpapar jelas di depan mata semua orang. Subhanalloh…

Saat itu, Kapal dengan panjang 63 meter, luas mencapai 1.900 meter dan berbobot sekitar 2600 ton, mampu menghasilkan daya listrik sebesar 10,5 megawatt yang sedang tambat di perairan Aceh ini tepatnya Ulee Lheue Banda Aceh. Gelombang pasang tsunami menyeretnya setinggi 10 meter sehingga bergeser sejauh ± 5 KM ke area daratan. Ukuran yang besar dan bobotnya yang berat menjadikan PLTD apung kontras dibandingkan bangunan-bangunan rumah yang ada di sekitarnya. Tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak ataupun bergeser hingga ke tengah daratan. Fenomena pergeseran kapal ini dengan lokasinya yang relatif jauh dari laut menjadi suatu alat pengingat yang efektif mengenai dahsyatnya kekuatan ombak tsunami yang menimpa Serambi Makkah kala itu. Dari 11 orang awak dan beberapa warga yang berada di atas kapal saat tsunami terjadi, hanya satu orang yang berhasil selamat.

Sesuai namanya, Kapal PLTD Apung ini merupakan sebuah kapal generator listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Menjadi sumber tenaga listrik bagi wilayah Banda Aceh khususnya kawasan Ulee Lheue. Waktu itu Aceh masih dilanda konflik sehingga pasokan listrik ke Aceh sering terganggu. Untuk itu, pemerintah RI saat itu berinisiatif mengirimkan kapal Pembangkit Tenaga Listrik Diesel Apung I ini ke Aceh  pada tahun 2002. Namun akhir tahun 2004 tsunami datang melanda, dan kapal ini pun terhempas dan terdampar hingga ke tengah-tengah kawasan pemukiman, tidak jauh dari Museum Tsunami.

Saat ini, kondisi kapal masih utuh, dinding dalam kapal yang terbuat dari baja kokoh juga telah dicat ulang yang didominasi warna kuning sehingga tak lagi meninggalkan kesan angker atau mengerikan, tapi justru memberikan kesan cerah dan menakjubkan di dalam kapal. Namun uniknya untuk cat luar kapal tidak dicat ulang, dibiarkan terlihat kusam agar tetap menunjukkan keaslian warna cat kapal tersebut saat diterjang tsunami. Di samping itu, sisa-sisa tsunami juga masih terlihat jelas, seperti beberapa tiang yang terlihat retak, jangkar yang tergeletak berada di dek paling bawah, rumput yang tersangkut di ban, pasir di dalam ruangan, kabel yang putus dan lain-lain. Semuanya itu membuat para pengunjung yang datang melihat akan teringat dan terkenang peristiwa tsunami.

Dengan mendatangi lima tempat yaitu kuburan massal, kapal lampulo, museum tsunami, Masjid  besar dan situs kapal PLTD sebenarnya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu. Tetapi karena masih ada waktu, sebelum besok giliran menyeberang ke Sabang, maka hari itu kami manfaatkan untuk keliling-keliling kota Aceh. Dan semakin membuat decak kagum, usai dilanda bencana maha dahsyat, hanya dalam hitungan tahun, kota serambi mekah tersebut sudah pulih. Dan masyarakatnya dengan penuh optimisme menatap masa depan seperti tidak pernah terjadi apa-apa…. (Nur Wakhid / bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *