berita HEADLINE

Teror Pondok Pesantren

Masyarakat Diminta Tak Mudah Terprovokasi

Laporan Tim Liputan Tabloid Demonstran

Beberapa waktu terakhir, masyarakat dihebohkan dengan kabar adanya ancaman dan teror di sejumlah pondok pesantren. Anehnya, para pelaku yang diduga melakukan ancaman menunjukkan tanda – tanda mengalami gangguan kejiwaan. Tak hanya di daerah lain, ancaman serupa juga terjadi di Kediri.
——–
Ancaman terhadap pondok pesantren, sempat dikabarkan terjadi di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kabupaten Kediri. Namun ternyata kabar itu tidak benar. Ini diketahui setelah penyebar informasi, Riyanto (50) asal Ngawi memgakui perbuatannya.

Riyanto adalah seorang pengunjung ponpes yang hendak bersilaturahmi dengan salah seorang kiai pengasuh ponpes. Tiba-tiba saja Riyanto memberikan kabar dan informasi kepada polisi serta petugas keamanan pondok bahwa dirinya telah diancam dan disandera oleh 3 orang tak dikenal dengan menggunakan senjata tajam pada Senin (19/2) lalu.

Riyanto mengaku khilaf saat mengarang cerita tersebut. Tetapi kekhilafan Riyanto telah membawa korban. Seorang pria bernama Abdul Aziz asal Situbondo sempat diamankan polisi. “Saya tidak bermaksud melakukan hal-hal di luar batas dan terus terang saya khilaf atas berita dan kabar bohong ini,” kata Riyanto di hadapan para pengasuh Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Riyanto meminta maaf atas kelakuannya yang telah membuat laporan palsu ke polisi. “Saya minta maaf pada semua pengurus pondok, umat muslim, dan juga bapak polisi yang sudah repot menyelidiki kasus teror di ponpes Al- Falah. Semua keterangan yang saya berikan ke polisi pada awal laporan saya adalah tidak benar dan itu tidak terjadi pada saya,” imbuh Riyanto.

Perwakilan Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Muhammad Thoif mengaku bersyukur dengan sikap Riyanto yang mengakui informasi yang ia sampaikan bohong dan tidak benar. “Saya bersyukur semuanya sudah clear dan beres terkait masalah teror ini,” jelas Gus Thoif.

Gus Thoif juga menambahkan jika persoalan ini tidak akan diperpanjang dan dipermasalahkan lagi, karena Riyanto memang awalnya hanya sebagai pengunjung pondok, bukan santri maupun alumni santri.

Terpisah,  Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi mengatakan pihaknya akan mendalami motif Riyanto mengarang kabar bohong itu.

Tetap Waspada

Meski teror di sejumlah pondok pesantren, termasuk di Pondok Ploso, terbukti hoax, bukan berarti kalangan pondok menjadi tidak waspada. Mereka tetap bersiaga dan melakukan pengamanan agar tidak ada celah bagi terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan.

Hal ini diungkapkan oleh Miftaqul Ihsan, pihak keamanan Pondok Pesantren Ploso Mojo yang mengaku setelah terjadinya isu hoax tersebut keamanan di sekitar lokasi pondok diperketat. “Hal ini bertujuan agar kejadian seperti yang kemarin tidak terulang lagi,” katanya.

Masih kata Miftaqul, ada sekitar 80 personel yang diturunkan untuk melakukan penjagaan di sekitar pondok. Ditambah, barisan Banser dan aparat kepolisian pasca terjadinya permasalahan besar kemarin juga ikut andil dalam melakukan penjagaan. “Berdasarkan arahan dari pondok pesantren kami akan terus melakukan penjagaan selama 24 jam non stop. Namun bila ditanya mengenai batasan waktu penjagaan ini diterapkan sampai kapan, kami masih belum mengetahui,” tukasnya.

Hal senada juga diungkap oleh Amar Sunarni pengurus Pondok Pesantren Kapurejo Pagu Kabupaten Kediri. Menurutnya, penjagaan ini dilakukan setelah marak diberitakan mengenai aksi teror di lingkungan pondok pesantren yang dilakukan oleh segelintir orang beberapa minggu kemarin.

“Namun dari penjagaan ini berdasarkan anjuran dari kyai sesepuh kami. Dalam prosesnya (penjagaan) tidak harus terlalu mencolok. Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan kekhawatiran di lingkungan sekitar. Sebagai contoh tiba – tiba disekitar pondok Kapurejo ini dijaga oleh ratusan orang disetiap jamnya. Nah, hal ini pasti akan menimbulkan pertanyaan besar dan membuat kekhawatiran bagi lingkungan sekitar.
Maka dari itu kami memilih proses penjagaan yang tidak terlalu mencolok namun tetap siaga dan menjaga,” katanya.

Jangan Mudah Terprovokasi

Terpisah, Ketua PCNU Kota Kediri, KH Abu Bakar Abdul Jalil mengingatkan semua pihak agar tetap berpikir jernih dan tidak tidak mudah terprovokasi dengan maraknya isu tentang ancaman kepada pondok pesantren. Ulama yang kerap disapa Gus Ab itu berharap masyarakat tetap tenang dan menyerahkan semuanya pada aparat kepolisian. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.