berita POLITIK WISATA

Taman Kota Kediri Mangkrak Dijadikan Tempat Mencari Rumput.

Kediri, demonstran.com – Pembangunan taman yang akhir – akhir ini menjadi gagasan utama oleh Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar dengan maksud untuk menjadikan Kota Kediri menjadi lebih indah, namun justru dari gagasan pembangunan taman tersebut menuai kritikan dari sejumlah masyarakat Kota Kediri. Karena dalam pembangunan taman tersebut terkesan carut marut dan hanya menghabiskan uang negara saja.
Bahkan beberapa dari pembangunan taman tersebut mangkrak dan tidak berpenghuni seperti halnya yang terjadi pada taman di Kelurahan Tempurejo Kecamatan Pesantren Kota Kediri.
Berdasarkan pantauan Tim Tabloid Demonstran, taman tersebut terkesan mati dan terlihat sepi. Bahkan beberapa warga yang datang disana hanya memanfaatkannya untuk sekedar mencari rumput saja sebagai pemenuhan kebutuhan pakan hewan ternaknya (ngaret).
Selain itu pembangunan taman atau RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang baru – baru ini digagas oleh Walikota Kediri dilokasi Sungai Brantas juga mendapatkan kecaman keras dari berbagai kalangan. Kecaman keras itu hadir dari Tomi Ariwibowo seorang pengamat Kota Kediri yang juga merangkap sebagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).
Tomi Ariwibowo mengaku bahwa pembangunan taman yang digagas oleh Walikota Kediri tidak didampingi dengan perencanaan yang matang dan justru terkesan ngawor. Gagasan mereka itu, hanya menghabiskan uang rakyat saja. Toh, pembangunan dari taman – taman ini keberadaannya juga tidak maksimal dan bahkan ada yang mangkrak tanpa berpenghuni.
“Contohnya pada pembangunan Taman di Kelurahan Tempurejo. Tidak seharusnya sebuah taman dibangun di titik jauh dari pusat peradaban kota. Selain itu dilokasi taman tersebut juga banyak sekali tower – tower yang berdiri. Dengan kata lain, Tower tersebut bisa saja sewaktu – waktu menjadi ancaman tersendiri bagi para pengunjung, terlebih saat ini sedang musim penghujan. Bisa saja mereka datang tiba – tiba tersengat arus listrik tegangan tinggi ,” ucapnya.
“Saya tidak tahu, apakah ini merupakan ajang korupsi bagi mereka dengan seolah – olah membangun taman – taman di wilayah Kota Kediri. Kenapa mereka tidak membangun satu atau dua taman saja namun memiliki luas tanah yang besar dan mempunyai desain yang bisa menarik perhatian bagi masyarakat, sehingga mereka bisa betah disana,” ucapnya
Percuma saja mereka membangun banyak taman namun lokasinya terlalu kecil. Masyarakat tidak bisa leluasa untuk berwisata berlama – lama disitu. Paling – paling hanya 30 – 45 menit saja mereka datang dan langsung bergegas pulang, karena faktor luas dan kenyamanan lokasi itu tadi.
Lebih lanjut Tomi mengatakan, ditambah dengan persoalan pembangunan taman RTH dilokasi Sungai Brantas. Pembangunan RTH disitu jelas melanggar undang – undang yang ada. Tapi mengapa Pemkot Kediri tetap bernafsu untuk membangun taman RTH diwilayah tersebut.
Pemerintah Kota Kediri pada saat itu menggusur ruko – ruko yang ada dilokasi tersebut dengan alasan undang – undang mengenai sempadan aliran sungai yang tidak boleh didirikan sebuah bangunan permanen dilokasi itu. Namun kenyataannya Pemkot Kediri justru melanggarnya sendiri dan membangun bangunan permanen diwilayah tersebut.
“Saya yakin, pembangunan itu akan sia – sia lagi. Dan semakin menambah kerugian uang negara. Karena dalam membangun sebuah taman tersebut menggunakan total anggaran miliaran rupiah. Ditambah lagi dalam bangunan taman tersebut lokasinya sangat dekat sekali dengan arus Sungai Brantas. Pastinya bangunan itu akan terus tergerus oleh terjangan air yang menyebabkan pada kerusakan bangunan,” terangnya.
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Lukiran tokoh masyarakat Lingkungan Bence Kecamatan Pesantren Kota Kediri. Lukiran menganggap keberadaan taman – taman yang ada di Kota Kediri masih kurang layak.
“Wahana dan luas lokasi masih belum mumpuni. Dibandingkan dengan tetangganya Kab. Kediri, taman RTH diwilayah Kota Kediri masih kalah jauh. Kita lihat dengan wisata Simpang Lima Gumul (SLG). Lokasi wisata tersebut lebih banyak diminati oleh masyarakat Kediri karena selain lokasi yang luas pada wisata SLG ini juga mempunyai model desain yang bagus, bahkan bangunan itu menjadi ciri khas Kab. Kediri,” ungkapnya.
Lebih lanjut Lukiran mengatakan, kita lihat saja dilokasi wisata Gor Jayabaya Kota Kediri yang masih dalam keadaan amburadul. Namun kenapa Walikota Kediri justru membangun taman – taman lagi.
“Itu namanya pemborosan dan dalam pembangunan yang tidak disertai konsep yang matang. Kita lihat contoh pembangunan taman RTH baru di wilayah Tempurejo yang saat ini juga mati suri dan mangkrak,” pungkasnya.(glh/yy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *