berita REFLEKSI WISATA

kota serambi mekah dengan maha cerita kemanusiaan

Catatan Perjalanan Tabloid Demonstran ke Ujung Barat Indonesia (1)

Salah satu pengalaman yang sangat berkesan dan perlu diketahui bagi banyak orang adalah ketika kami berkunjung ke ujung barat Indonesia. Aceh, Sabang, Nias adalah tempat yang menyimpan banyak cerita. Kami berharap pengalaman ini bisa membawa manfaat bagi kami, bagi pembaca tabloid demonstran dan juga pengunjung www.demonstran.com

Rasanya kurang lengkap, bagi bagi traveller dan penyuka keliling wilayah, jika belum pernah menjelajahi kawasan paling barat Indonesia. Kabupaten Sabang dan wilayah Propinsi Aceh pada umumnya, menyimpan berbagai keindahan dan berbagai cerita yang cukup layak untuk diketahui. Apalagi cerita misteri dan cerita-cerita kemanusiaan yang berkaitan dengan bencana Tsunami selalu menjadi pembicaraan yang tiada habisnya. Tentu sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya bisa tahu dari mata sendiri kondisi Aceh dan sekitarnya dan bisa mendengar langsung cerita-cerita dari warga setempat.

Perjalanan ke Aceh memang memerlukan waktu dan biaya yang cukup lumayan. Perjalanan hampir seharian, jika dimulai saat berangkat dari rumah hingga sampai di tempat penginapan. Tentu saja yang saya maksud adalah berangkat dari rumah saya di Kabupaten Kediri. Jika rumahnya di daerah lain tentu berbeda-beda perjalanan yang harus ditempuh. Nah, kalau dari Kediri harus menuju ke Surabaya dulu dengan perjalanan sekitar 2-3 jam. Jika kita mengambil pesawat yang pukul 11.00 wib, maka jam 07.30 wib kita sudah berangkat dari rumah. Karena kami saat itu menumpang pesawat garuda, maka mau tidak mau harus transit lebih dulu di Jakarta. Maklum pesawat garuda yang langsung dari Surabaya ke Aceh tidak ada. Jika kita ingin langsung maka yang tersedia adalah pesawat Lion Air.

Perjalanan dari Surabaya ke Jakarta sekitar 1 jam lebih, sehingga jam 12.30 wib kita sudah sampek Jakarta. Harus menunggu pesawat menuju Aceh alias transit sekitar 1,5 jam sambil menikmati bandara Soekarno Hatta. Dan sekitar pukul 15.00 wib kita sudah bersiap untuk take off menuju Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh Darussalam. Perjalanan dua jam menuju propinsi yang menerapkan Syariat Islam terasa biasa saja. Karena lelah dan letih terkalahkan oleh rasa ingin tahu dan penasaran terhadap kota yang pernah dilanda mega bencana tersebut. Lamunan buyar ketika pramugari mengumumkan saat sholat maghrib untuk wilayan Aceh dan sekitarnya. Lima menit kemudian dilanjutkan pengumuman bahwa pesawat segera mendarat dan penumpan diminta untuk bersiap-siap. Selamat datang di Aceh…

Setelah beberapa saat menunggu bagasi, akhirnya kita sudah berada di mobil jemputan yang akan mengantar kita menuju penginapan. Karena nyampeknya bandara sudah malam, maka agenda kita hari itu memang langsung menuju hotel untuk istirahat. Tetapi, rasa penasaran memang sudah tak tertahan. Sambil perjalanan menuju hotel, saya terus bertanya-tanya tentang cerita bencana dan cerita pariwisata kepada sopir yang mengantar saya. Saya sengaja memilih duduk dekat sopir, karena memang ingin mengorek cerita tentang Aceh.

Ternyata aku tidak salah, sang sopir paham benar tempat-tempat dan cerita-cerita tentang aceh. Dan saat perjalanan menuju hotel, saya sempat kaget, ketika oleh abang sopir diberhentikan di tempat agak gelap. “Yang itu tempat kuburan massal korban tsunami. Besok siang kita bisa kesini kalau ingin melihat secara jelas,” kata abang sopir sambil kembali melanjutkan perjalanan. Dan tentu saja sambil nyerocos bagaimana kuburan massal itu sehari-hari dan banyak cerita-cerita mistik yang mengikutinya………. ( Nur Wakhid / bersambung )

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.