DEMOSIANA

DEN MAS BEI

Oleh : Pujo Martono

Burung prenjuak dan kutilang berkicau bersahutan saling berkejaran diantara ranting pepohonan. Sementara diantara buah pisang yang beberapa diantaranya menguning,tampak burung emprit tengah sbuk membuat sarang barunya. Emprit yang lain juga melakukan hal yang sama di pohon pisang yang lain. Angin pagi yang bertiup membawa kesegaran dilingkungan yang asri. Di tanah yang banyak ditumbuhi pep[ohonan dan dihuni berbagai satwa itulah berdiri sebuah rumah joglo khas jawa yang cukup megah. Tidak terlalu mewah tapi terkesan kokoh. Mungkin struktur bangunannya yang terbuat dari kayu jati yang cukup matang umurnya. Di rumah itulah Raden Prapto Soekotjo,atau lebih dikenal sebagaiu Den Mas Bei tinggal bersama istri dan dua orang anaknya.
Den Mas Bei adalah profil ningrat jawa yang hidup bersahaja dan lekat dengan tata krama dan adat isatiadat jawa yang kental. Dua anak lelakinya yang bersekolah dokter di kotapun tak lepas dari aturan ketat keluarga jawa ini. Baik tutur kata,busana maupun dalam pergaulan dengan masyarakat sekitar budaya luhur warisan pinisepuh terdahulu tetap mereka jaga dan lestarikan.
Pagi Den Mas Bey tampak duduk di kursi rotan teras rumah sambil menikmati sajian kopi panas, pisang goring dari kebun sendiri dan tentu saja tak ketinggalan rokok kretek kesayangan yang menyembulkan asap putih dengan aroma yang khas. Kebahagiannya terasa lengkap manakali dari radio transistor tua miliknya, Den Mas Bey memutar gending-gending jawa kesukaannya. Kleningan gamelan yang bertalu-talu terasa rancak dan damai di hati. Sesekali ia ikut menyahut alunan gending itu. Belum cukup. Ia juga selalu bersama dengan burung perkutut kesayangannya . Sarangnya dari kayu dengan hiasan yang indah warna-warni.
“Ayo,badut…ojo nglegut. Mbok ayo manggung,ouuung…arep talk pamerke marang kancaku…bene kepencut marang slirane…”
Saat tengah asyik bercengkerama dengan perkutut kesayangannya, istrinya dating menghampiri. Tanpa banyak bicara wanita it uterus duduk di samping suaminya. Mereka adalah suami istri yang memasuki alam tua. Kerut dan keriput sudah mengiasi wajah keduanya. Rambut mereka sudah seoaruh memutih. Tapi raut wajah dan roman muka sepasang suami istri ini Nampak lebih muda dari usianya. Mungkin karena mereka menganut falsafah jawa bahwa hidup ini hanya “mampir ngombe”, sekadar minum yang sifatnya sementara. Maka harus digunakan untuk menyembah Sang Pencipta dan berlaku baik pada sesame. Tidak perlu hidup ngoyo, mengejar keinginan yang terlalu berlebihan,apalagi dengan cara-cara yang melanggar aturan agama dan keyakinan mereka. Jangan sampai itu terjadi. Sebuah pantangan yang harus dihindari sejauh mungkin karena akan berakibat karma Sang Pencipta.
“Mbokne…kita sudah tidak muda lagi. Sudah memasuki usia senja. Kedua anak kita sudah kita antar kepada cita-citanya. Hidup kita sudah cukup meskipun tidak mewah atau berlebihan. Aku sudah rela dan ihlas dengan jalan hidup yang digariskan Yang Maha Kuasa. Apalagi yang kita kejar dari hidup ini selain hanya menyiapkan bekal pulang menghadap-Nya nanti ?…”
“Pakne sudah lebih dari setengah abad kita menjalani hidup bersama. Saya sebagai istri mohon maaf jika belum bisa menjadi pendamping hidup yang sempurna…”
“Dalam hidup ini apalah yang bisa dikatakan sempurna? Karena sejatinya kesempurnaan hanya milik Yang Kuasa. Justru ketidaksempurnaan ini yang menandakan kita adalah manusia normal. Makhluk lemah yang banyak dosa dan khilaf. Disitulah, rumah tangga berguna untuk menyatukan segala ketidaksempurnaan itu. Saling melengkapi..”
“Betul,pakne. Tapi sebagai perempuan dan sebagi istri,aku merasa belum dapat berbakti sepenuhnya pada suami…”
“Sama-sama,mbokne…laki-laki juga banyak salah.”
Hening sejenak. Masing-masing tenggelam dalam lamunan.
“Mbokne, bukan saya bermaksud ndisiki kersa,mendahului Sang Pencipta. Tapi aku ingin berpesan .berwasiat kepadamu selagi kita masioh ada umur sekarang ini.”
“Aduh, aku jadi takut,pak…wasiat apa ?”
“Kalau sewaktu-waktu Gusti Allah memangilku, tolong aku dimakamkan didekat makam bapak ibuku. Beliau yang mengajarkan arti hidup kepadaku. Arasanya aku begitu rindu wejangan keduanya. Jangan lipa,anak-anak setiap malam jumat berdoa untukku dan menyempatkan diri menengok makam bapaknya ini. Soal warisan,kedua anak kita sudah aku kumpulkan untuk bermusyawarah. Dua orang saudara harus rukun. Kalau sudah begini, rasanya tugasku di dunia sudah aku tunaikan…”
Sang itri tidak menjawab. Tapi sudut matanya terlihat basah dengan Kristal bening. Ia lantas bersimpuh di kaki suaminya sebagai tanda bekti dan hormat pada suami. Ia hanya merasa bahwa kebersamaannya dengan laki-laki yang telah menikahinya ini tidak lama lagi akan berakhir. Ia yakin itui. Tapi, entah kapan akan terjadi.
Tujuh hari dari peristiwa itu, di pagi yang cerah, warga desa dikejutkan dengan kabar meninggalnya Den Mas Bey. Seorang tokoh masyarakat yang sangat dihormati dan menjadi panutan banyak orang.
SELESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *