berita REFLEKSI

Terkurasnya Tenaga dan Biaya, Serasa Terbayar Seketika

Melihat Dari Dekat, Pemandangan Alam Raja Ampat (1)

Iklan di TV yang cukup gencar, ditambah testimoni yang pernah ke sana, baik yang tampil di TV maupun di media cetak serta ramainya di medsos membuat saya tertarik untuk mengunjingi kawasan yang satu ini. Hanya kesempatan yang belum memungkinkan, karena selain jarak yang sangat jauh juga memerlukan waktu yang tidak hanya 1-2 hari saja untuk bisa datang dan menikmatinya. Itulah tempat wisata dengan pemandangan indah Raja Ampat. Kini setelah kesempatan itu ada, ganti saya yang akan bertestimoni untuk pembaca tabloid demonstran dan pengunjung www.demonstran.com.

Perjalanan penuh perjuangan dan harus penuh semangat, agar bisa mencapai tempat wisata impian Raja Ampat. Bagaimana tidak, untuk sampai ke tempat itu harus memperhitungkan jarak dan waktu. Maklum, tempatnya sangat jauh dan penerbangan menuju ke sana masih terbatas. Belum lagi, untuk menyesuaikan dengan jadwal kapal feri yang menyeberangkan kita dari Sorong ke lokasi.

Cerita panjangnya begini, saya harus bangun jam 00.30 wib dini hari. Mandi dan bersiap-siap agar pada pukul 02.30 wib sudah berangkat dari rumah menuju bandara Juanda Surabaya. Itupun barang-barang yang perlu dibawa sudah disiapkan sebelumnya. Begitu waktu yang ditentukan, kita berangkat ke Surabaya dengan estimasi sedikit kelonggaran waktu. Khawatir ada permasalahan di sepanjang perjalanan. Maklum perjalanan ke Surabaya sulit diprediksi  apakah macet atau lancar. Karena pesawat yang kita tumpangi menuju Sorong adalah pesawat Garuda yang jadwalnya 06.15 wib untuk boarding. Dan itu adalah satu-satunya pesawat garuda yang langsung Surabaya РSorong dengan transit sekitar 40 menit di Ambon.

Alhamdulillah  perjalanan ke Surabaya lancar, sehingga kita punya waktu untuk istirahat curi-curi waktu tidur di lounge sambil menunggu boarding.

Tepat pukul 06.00 wib panggilan naik pesawat sudah dimulai. Dan singkat cerita kita sudah take off menuju Sorong, atau tepatnya bandara Domine Eduard Osok di Kota Sorong. Perjalanan ke Sorong ditempuh secara keseluruhan hampir 4 jam, termasuk transit tanpa turun dari pesawat, di Bandara Pattimura Kota Ambon selama kurang lebih 40 menit. Jadi dari Surabaya – Ambon sekitar dua jam, transit sekitar 40 menit, dan dari Ambon ke Sorong sekitar 1 jam perjalanan.

Sesampai di Sorong, kita masih harus meneruskan perjalanan lagi menuju Kabupaten Raja Ampat dengan menumpang Kapal Ferri di Pelabuhan Sorong. Jarak antara Kota Sorong dan Raja Ampat lumayan jauh. Naik Ferri masih sekitar dua jam lagi untuk sampai di kabupaten tujuan itu. Tetapi yang menyenangkan hati, baru sampai di pelabuhan saja sudah mulai terhibur dengan kebiasaan-kebiasaan warga setempat seperti hampir semua laki-laki nginang. Bahasa-bahasa yang menurut telinga saya cukup aneh dan kucu, serta ada pemandangan menarik yaitu cara membawa barang dan koper-koper kita dengan trolly tradisional. “Trolly aneh” yang kalau di jawa untuk bawa pasir itulah yang membuat saya ketawa-ketawa. Keunikan dan keanehan-keanehan membuat rasa letih menempuh perjalanan sebelumnnya menjadi terobati seketika.

Begitu kita sudah dapat tiket kapal, kita langsung naik. Kebetulan sekitar 20 menit lagi kapal akan segera diberangkatkan. Kapal Belibis Papua Mandiri yang saya tumpangi sudah membunyikan bel pertanda akan segera berangkat. Saya yang tidak biasa di laut, tentu saja ada sedikit rasa takut. Maklum perlu waktu dua jam di laut, untuk sampai ke Raja Ampat. Untungnya kapal yang saya tumpangi termasuk kapal yang besar, sehingga dalam hati berfikir, ndak mungkin terjadi apa-apa dengan kapal seperti ini. Dan lebih meyakinkan lagi, ketika tanya-tanya apakah pernah terjadi kapal tenggelam, dijawab nggak ada.

Alhamdulillah… Pikir saya. Dan saya pun bisa menikmati pemandangan alam laut di sepanjang perjalanan 2 jam itu. Seperti saya katakan, bahwa semua letih pun bisa hilang ketika kita melihat pemandangan yang menyenangkan. Dan 2 jam berlalu, kita sudah bersandar di pelabuhan Raja Ampat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wit ketika nyampek di penginapan. Kitapun ingin segera beristirahat dan mempersiapkan tantangan yang sebenarnya besok pagi  yaitu ke view-view terbaik di dunia. Tunggu ulasan lanjutannya. ( Nur Wakhid )

One thought on “Terkurasnya Tenaga dan Biaya, Serasa Terbayar Seketika”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *