berita PENDIDIKAN

Gabungkan Metode Agama dan Kejiwaan dalam Pembelajaran

Teknik Terapi Guru Inklusi

Yachya Muchamad – Kediri

Menjadi seorang guru tidaklah mudah. Apalagi menjadi seorang guru di sekolah inklusi. Butuh waktu dan tenaga yang lebih agar semua yang disampaikan oleh guru dapat dicerna dengan mudah oleh para murid.

Defi Erma Nirmala (40), salah satu guru tidak tetap yang mengajar di SDN Betet 1 ini misalnya. Dia mempunyai metode khusus untuk memberikan pembelajaran bagi anak – anak berkebutuhan khusus. “Saya menggunakan metode Alquran sebagai awal pembelajaran dalam terapi mereka,” ujarnya.

Awalnya, metode ini dia dapat dari internat. Diwaktu – waktu senggangnya, dia sering membuka browser lewat smart phone maupun melalui personal computer (PC) di rumah. Dari situ, metode tersebut dia kembangkan hingga selaras dengan kondisi keterbatasan masing – masing siswanya. Metode Alquran ini dia pilih karena dalam agama Islam diterangkan bahwa Alquran merupakan penyembuh. “Meski metode yang saya pelajari Alquran, namun, bagi siswa yang non muslim, doanya saya yang menjalankan, dan murid saya akan saya berikan metode dan teknik lainnya,” kata pahlawan tanpa tanda jasa itu.

Setelah metode yang dipilih sudah tepat, langkah selanjutnya adalah membaca karakter. Keterbatasan yang dialami oleh anak – anak berkebutuhan khusus berbeda antara satu dengan yang lain. Jika proses pemahaman karakteristik sudah dikuasai, maka metode yang sudah ada akan mudah dan cepat dalam penerapannya.

Defi, sapaan akrabnya, kurang lebih sudah tujuh tahun mengabdi di sekolah yang memegang predikat sekolah inklusi terbesar di Jawa Timur itu. Dalam kurun waktu yang tidak singkat itu, dia selalu mengembangkan metode – metode dan teknik khusus untuk siswanya. “Metodenya selalu berkembang menyesuaikan karakter siswa saya. Karena setiap keterbatasan mempunyai cara penanganan yang berbeda – beda, “ tuturnya.

Di sisi lain, selain metode dan teknik khusus dalam sistem pembelajaran mereka, yang tak kalah penting adalah niat. Dari niat yang tulus akan tumbuh ketelatenan dan kesabaran untuk bisa melakukan kontak dengan anak – anak yang berkebutuhan khusus dalam sistem pembelajaran.

Menurutnya, guru – guru yang mengajar di sekolah inklusi mempunyai tantangan yang lebih dibanding dengan sekolah pada umumnya. “Kunci utama yang harus diselaraskan dengan berbagai metode yang ada adlah kesabaran,” tambahnya. (hya/ran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *