berita HEADLINE

Nyawa Pendaki Dipertaruhkan

* Imbas Sengketa Kepemilikan Gunung Kelud

Laporan Tim Liputan Tabloid Demonstran

Di tengah sengketa kepemilikan Gunung Kelud yang tak kunjung tuntas, terjadi peristiwa tragis di kawasan gunung berapi aktif itu. Sekelompok pendaki tersesat dan nyaris celaka. Apakah peristiwa ini akan kembali terjadi di tengah sibuknya 2 pemerintah daerah memperebutkan gunung itu ?
——-
Peristiwa itu terjadi pada Senin (6/11). Awalnya sebanyak 9 pendaki memulai pendakian dari jalur Tulungrejo Blitar sekitar pukul 09.00 WIB. Namun hingga pukul 18.00 WIB, keberadaan para pendaki belum diketahui. Warga setempat lantas melaporkan hal tersebut ke posko BPBD di Wlingi. 

“Nah, dari situlah dari pihak BPBD Biltar menindak lanjuti kebenaran dari informasi terkait dari laporan tersebut. Dari Laporan tersebut BPBD langsung melakukan upaya evakuasi di wailayah Gunung Kelud,” jelas Tantowi Jauhari, Sekretaris BPBD Kabupaten Blitar.

Dalam evakuasi itu, petugas menemukan 2 orang pendaki. Tim evakuasi lantas melanjutkan pencarian hingga menemukan 7 pendaki lainnya sekitar pukul 01.30 WIB. Namun baru sekitar 3,5 jam kemudian, semua pendaki bisa dievakuasi melalui jalur Ngancar Kabupaten Kediri.

Jalur Ekstrem

Sejumlah aktivis pecinta alam yang sering melakukan pendakian ke Gunung Kelud mengungkapkan, jalur yang ditempuh memang cukup ekstrem dan membutuhkan stamina tinggi. Apalagi saat ini memasuki musim hujan, sehingga faktor cuaca menjadi tambahan tantangan pendakian.

“Memang berat. Medannya sulit dan cuaca ekstrem harus diwaspadai. Peran dari pemerintah untuk memberikan informasi terkait perubahan cuaca dan hal – hal juga ikut menentukan sehingga pendakian bisa berjalan dengan aman,” ujar Wahyu Wibisono, seorang pendaki gunung.

Lalu apakah pendakian tetap diperbolehkan pasca terjadinya peristiwa itu ? 

Tantowi Jauhari, Sekretaris BPBD Kabupaten Blitar mengaku memperbolehkan apabila ada dari warga  yang menginginkan pendakian di wilayah Gunung Kelud. “Boleh, bagi para pendaki yang ingin melakukan pendakian disana. Dan itu terbuka untuk umum. Meski diperbolehkan, tetapi juga pasti ada terkait dengan larangan yang harus dipatuhi. Dalam hal ini kami terus berkoordinasi dengan perhutani. Karena sebenarnya yang mengeluarkan izin terkait dengan pendakian disana adalah pihak perhutani,” katanya. 

Apakah tersesatnya para pendaki itu bisa dihubungkan dengan lemahnya pengawasan dari pemerintah daerah, baik Kabupaten Kediri maupun Blitar karena sibuk menguri sengketa kepemilikan Kelud ?

Atas hal ini, Tantowi membantahnya. Menurutnya persoalan penentuan tapal batas daerah yang mencakup kawasan Gunung Kelud merupakan masalah tersendiri. Sedangkan pengawasan dan jaminan keselematan bagi para pengunjung maupun pendaki Kelud merupakan prioritas utama.

Tantowi menyebut, dalam masalah penetapan batas daerah, saat ini kedua daerah sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk memperkuat argumen bahwa Gunung Kelud masuk wilayahnya. 

“Status kepemilikan Gunung Kelud oleh Kabupaten Kediri itu dimentahkan atau tidak memiliki kekuatan hukum tetap sehingga prosesnya kembali ke awal. Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar harus duduk berdampingan untuk melakukan penegasan batas daerah secara bersama – sama. Dan saat ini kita dalam proses pemenuhan administrasi pemerintahan. Yang maksudnya antar daerah melakukan prosesnya sendiri – sendiri dalam menunjukkan dokumen serta keabsahan bahwa Gunung Kelud ini sebenarnya hak kepemilikan siapa,” jelasnya. 

Dengan kondisi seperti itu, pihak mana yang bertanggung jawab jika terjadi peristiwa serupa ?

“Mengenai ini menjadi otoritas siapa. Pastinya kalau kita melihat dari kawasan para pendaki ini tersesat, saya tegaskan lagi ini berada di kawasan Perhutani Kabupaten Blitar. Jadi ini sudah menjadi tanggung jawab kami untuk melakukan upaya penyelamatan. Namun dari hal ini kami juga berkoordinasi dengan pihak Basarnas Trenggalek dan juga pihak kepolisian untuk sama – sama melakukan evakuasi. Pihak BPBD Kabupaten Kediri juga menawarkan bantuan dalam proses evakuasi. Tentunya saya terbuka saja dan siapa saja yang mau membantu silakan, karena ini merupakan aksi kemanusiaan,” tuturnya. 

Sementara itu Rendi Agatha, Plt (pelaksana tugas) Kepala BPBD Kabupaten Kediri mengaku, pihaknya menyerahkan penanganan seluruh pendaki itu ke BPBD Kabupaten Blitar, karena jalur masuk para pendaki itu melewati wilayah Blitar. “Ada tujuh pendaki yang berhasil dievakuasi melalui jalur Kediri. Sebagai tanggap bencana kami ikut membantu dan menyerahakan para pendaki itu ke BPBD Blitar guna penanganan lebih lanjut,” katanya. 

Rendi menyebut jalur pendakian di Gunung Kelud sangat ekstrem, terlebih melewati jalur di wilayah Kediri. Maka dari itu, dari pihak BPBD Kediri melakukan penutupan jalur pendakian menuju Gunung Kelud. Hal ini merupakan antisipasi keselamatan bagi para pendaki sendiri. (glh/yy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *