DEMOSIANA

TEROR SUBUH

Oleh : Basuki Sanyoto

          Derum suara truk dan kendaraan roda empat lain menyibak udara pagi yang mulai merekah. Langit belum sepenuhnya berwarna semburat merah di ufuk timur. Jalanan masih sepi berselimut udara dingin. Tidak ada suara lain dalam kendaraan yang dipenuhi manuasia-manusia berwajah tegang itu.

          Di pojok sebuah bus yang masuk dalam iraing-iraingan kendaraan di pagi buta itu, meringkuk sesosok tubuh berbalut seragam polisi. Matanya ditutupi sehelai kain, tangannya terikat kebelakang. Nampak jelas ekspresi wajahnya penuh ketakutan ditengah kebingungan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Masih teringat peristiwa yang baru saja ia alami. Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Seperti biasa, sebagai polisi muda ia berpatroli mengitari daerah yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan sepeda angin dinasnya, ia menyusuri jalanan ibu kota kala menjelang waktu subuh.. Saat ia berbelok di jalan Hasanudin, mendadak ayunan sepedanya terhenti. Sebuah tendangan sepatu lars membuat laju sepedanya oleng dan iapun terjatuh. Dal;am keremangan pagi ia melihat banyak orang berseragam tentara dengan senjata lengkap seperti siap bertenpur. Secepat kilat oaring-orang yang tidak dikenal itu meringkusnya. Merampas senjata dan mengikatnya lalu memasukkannya ke dalam bus.

          Sekitar satu jam perjalanan, kendaraan yang ia tumpangi berhenti di suatu tempat. Terdengar suara perintah setengah bentakan agar ia turun. Polisi muda itu setengah diseret dalam keadaan terikat dan mata tertutup. Suara riuh terdengar di kanan kirinya.

          “Yan wis dipateni ! Yan wis dipateni !”

          “Ganyang kabir ! Ganyang nekolim !”

          Tiba-tiba seseorang membuka tutup matanya dengan kasar. Perlahan-lahan ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba mengetahui keadaan sekitar. Diaman ini ? yang ia lihat, rombongan orang-orang yang membawanya berhenti di tengah-tengah kebun karet. Ia melihat pasukan berbaret hijau, berhelm baja dan juga berbaret merah dengan seragam coklat. Yang terakhir ini ia kenali sebagai pasukan cakrabhirawa,pasukan pengawal presiden. Juga ia melihat pasukan menyerupai lascar, orang sipil yang dilatih kemiliteran.

          “Kamu sedang mengawal siapa ?” Tanya seorang yang menahannya setelah ia didudukkan disebuah ruangan. Polisi muda ia dengan agak gugup menjawab bahwa dia polisi yang bertugas mengawal tamu Menpangal dari Korea.

‘Jadi kamu bukan pengawal jendral Panjaitan,ya..kalau begitu kamu tenag saja. Namamu Sukitman ?” Kata orang yang memeriksanya itu . Ia hanya bisa mengangguk. Usai pemeriksaan, polisi muda bernama Sukitman itu digiring memasuki sebuah tenda. Ia kaget saat sudah berada di dalamnya. Disana ia melihat 7 orang yang ia perkirakan para tawanan, dalam kondisi mengenaskan. Semua penuh tanda-tanda fisik telah mengalami penyiksaaan yang luar biasa kerasnta. Tiga dari tawanan itu tampak tergeletak di lantai seperti sudah tak bernyawa lagi. Yang masih hidup didudukkan dengan tangan terikat,mata ditutup kain merah. Beberapa orang interrogator tampak membentak-bentak para tawanan itu dan memerintahkan agar menandatangani sesuatu. Rupanya para tawanan itu menolak dan hajaran benda tajam dan tumpul bertubi-tubi mereka terima.

Sekitar pukul 06.30 Wib, Sukitman melihat dengan jelas sejumlah anggota sukarelawan dan sukarelawati berkerumun mengelilingi saebuah sumur tua sambil terus berteriak-teriak kegirangan: “Ganyang kabir…ganyang kabir !!” sukitman baru tahu belakangan bahwa kabir itu kapitalis birokrat, golongan yang dianggap musuh komunis,karena itu harus dibasmi.

Adegan-adegan berikutnya lebih mengerikan lagi terpampang di depan matanya. Para tawanan yang sudah tak berdaya berlumuran darah itu satu persatu diseret keluar tenda lalu dimadsikkan ke dalam sumur tua itu. Belum puas sampai disitu, tubuh-tubuh para tawanan masih dihujani tembakangencar memekakakan telinga. Setiap selesai membantai korbannya mereka berjalan melewati depan Sukitman. Sesame algojo sadis mereka bersalaman karena sukses menghabisi musuhnya.

Sekujur tubuh Sukitman bergetar. Ia menggigil menyaksikan perbuatan biadab itu. Sejurus kemudian tubuhnya kaku seperti kehilangan darah. Tak terasa air matanya mengalir, disertai keringat dingin yang mengucur deras dari tadi. Pasti sebentar lagi giliran dia, pikirnya.ia sangat yakin akan hal itu, sebab sudah tidak ada tawanan lagi selain dirinya. Pada saat itulah ia hanya bisa pasrah kepada Tuhan, Allah SWT Illahi Robbi. Jika ia memang ditakdirkan mati hari itu juga, ia sudah pasrah.

Namun ternyata takdir berkehendak lain. Sejarah mencatata dan membuktikan bahwa Tuhan masih melindunginya. Para  gerombolan itu menganggapnya sebagai sesame prajurit rendahan yang  bernasip sama. Belakangan ia bisa lolos dari tempat pembantaian di kampong Lubang Buaya itu dan bertemu dengan atasannya. Dia pula yang akhirnya sebagai penunjuk jalan bagi pasukan Mayjen.Soeharto untuk menunjukkan letak sumur maut itu.

Sukitman adalah polisi biasa yang sengaja dikirim Tuhan untuk menjadi saksi mata suatu peristiwa luar biasa.

000)))))000

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *