berita EKONOMI teknologi

Jasa Cuci Pusaka Tradisional, Panen Saat Suro, Pendapatan Naik 3 Kali Lipat

Kediri, demonstran.com – Bulan Suro dalam penanggalan Jawa dikenal sebagi bulan yang sakral. Saking sakralnya berbagai keyakinan, ritual, serta kebiasaan yang sudah menjadi adat banyak berlangsung di bulan ini. Seperti upacara bersih desa, kirab pusaka, hingga mencuci keris dan pusaka tradisional lainnya.

Hal tersebut menjadi berkah tersendiri bagi Pardianto dan Sri Wahyuni, pasutri yang menyediakan jasa pencucian pusaka. Tak tanggung – tanggung, pendapatan mereka naik hingga 300 persen dibandingkan dengan bulan – bulan biasa.

Sejak pukul 03.00 WIB, Pardianto sudah beranjak bangun dari tempat tidurnya. Sejak malam satu suro dia harus begadang dan bangun dini hari untuk merampungkan order pencucian pusaka di tempat jualannya yang terletak di area Pasar Setono Bethek Kota Kediri. “Menjelang Suro sudah pada antre, lewat sms,” katanya.

Menjelang pagi, Sri Wahyuni, isterinya pun ikut membantu mencuci keris dan berbagai macam pusaka tradisional yang diantrekan di tempatnya. “Jika urusan rumah tangga di rumah sudah selesai saya bergegas ke lapak suami saya untuk membantu mencuci keris,” ujarnya sambil menggosokkan jeruk nipis di badan keris yang sedang dia bersihkan.

Wahyuni, sapaan akrabnya menuturkan, memang di bulan suro banyak pelanggan lama maupun pelanggan baru berdatangan untuk mencucikan keris dan pusaka lainnya. Order yang dia terima meningkat hingga tiga kali lipat dari bulan – bulan sebelumnya. Jika pada bulan biasa, dia hanya mendapatkan order sekitar 10 keris per hari, namun saat ini dia dan suaminya dapat menerima hingga 30 keris dan pusaka lainnya setiap hari.

“Dalam sehari bisa sampai 30 pusaka. Ada yang berupa keris, pedang, dan berbagai macam senjata tradisional lainnya,” tambah Wahyuni.

Tarif yang mereka patok untuk jasa pencucian pusaka itu berkisar antara Rp 55 ribu hingga Rp 150 ribu. Tarif tersebut disesuaikan dengan pamor (serat atau motif yang terdapat di badan keris). Semakin muncul dan indah pamornya, maka semakin mahal tarif yang dikenakan.

Wahyuni menjelaskan, proses pencucian pusaka –pusaka itu dimulai dengan melepaskan badan keris dari warangka. Kemudian badan pusaka dicuci dengan bunga setaman. Setelah itu, pusaka – pusaka tersebut diputihkan dengan cara menggosokkan jeruk nipis ke badan pusaka. Baru kemudian pusaka dicuci kembali dengan air warangan.

Air warangan berfungsi untuk membersihkan badan pusaka dan memunculkan pamor pusaka yang dicuci. Setelah pamor muncul, baru bisa ditentukan tarif jasa pencuciannya. “Nah, kalo sudah dikasih air warangan tahapannya sudah selesai,” ketusnya.

Pardianto menuturkan,  meski ordernya meningkat, bulan Suro tahun ini terbilang sepi. “Entah apa sebabnya. Menurut pengamatan saya, tahun ini sepi dari pada tahun lalu,” tambahnya.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *