DEMOSIANA

PRAHARA TEGALREJO

Oleh : Ki Sodewo

Senja baru saja merayapi menapak cakrawala di ufuk barat. Sisa-sisa panas menmtari yang seharian memanggang bumi masih menyisakan panas di sana-sini.

 Penduduk Tegalrejo baru saja mencabuti patok-patok kayu yang sehari sebelumnya dipasang oleh para juru ukur belanda bersama prajurit keratin. Mereka tahu, pemasangan patok itu sama sekali tidak mengantongi izin dari para pemilik tanah yang rencananyan terkena proyek jalan Magelang – Yogya itu. Salah satu tanah yang dicaplok oleh pemasangan patok itu asalah puri Tegalrejo, tempat tinggal Pangeran Ontowiryo, putra Hamengkubuwono ke III, atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Diponegoro. Selain itu pemasangan patok itu juga menerjang makam Pakuncen, tempat dimakamkannya para leluhur Diponegoro dan para tokoh agama desa setempat.

Dengan penuh semangat para penduduk yang dipimpin para kapedak lalu membakar semua patok kayu yang telah dicabut itu. Ditengah apai yang tampak menyala-nyala, kapedak berbicara pada warga desa dengan lantang.

“ Inilah saatnya kita tunjukkan bahwa kita tidak bisa dinjak begitu saja. Kita lawan kesewenag-wenangan para Londo kapir itu sekarang juga. Kita berdiri dibelakang Pangeran. Kita patuh dan taat pada perintah Pangeran. Kalian siap…?”

“Siaaaaap…!!!”

“Baik. Kumpulkan segala senjata yang ada. Jika sewaktu-waktu mereka dating, kita hadang !

Sejurus kemudian keadaan menjadi sangat sibuk. Masing-masing mempersiapkan diri dengan membekali senjata yang mereka punya. Ada yang membawa tombak,keris,gada besi,pentungan dari akar kayu,pedang dan sebagainya. Semua lelaki dewasa Tegalrejo berhamburan keluar rumah siap berperang.

Betul juga. Beberapa saat kemudian datanglah serombongan orang berserafgam serba hitam denngan ikat kepala model Bali mengendarai kuda. Betapa kagetnya mereka saat mendapati patok-patok kayu yang kemarin dipasang telah lenyap. Dengan perasaan geram mereka terus menyusuri jalanan yang rencananya untuk jalan tembus Magelang-Yogya itu. Beberapa ratus meter kemudian mereka mendapati patok-patok kayu ayng mereka cari telah berserakan menjadi abu. Semua habis dibakar.

“Gandrik ! Perbutan siapa ini ?!” kata seseprang berekumis lebat yang sep[ertinya pemimpinnya.

“Siapa lagi kalu bukan orang-orang Tegalrejo sini ?” sahut yang lain.

“Lihat disana, ada pembakaran lagi. Agaknuya mereka tengah membakari patok-patok yang lain. Ayo kita kesana !”

Kuda-kuda berhamburan menuju sebuah kepulan asap dari sudut desa. Benar saja, mereka mendapati para penduduk desa Tegalrejo tengah membakar patok-patok kayu itu. Orang-orang itu terkaget melihat pasukan berkuda mendekat.

“Bajingan ! Rupanya ini ulah kalian,hah!”

“Ya, mau apa kalian ?!”

“Kami dari Korp Macanan mendapat tugas menghukum manusia macam kalian yang mencari gara-gara!”

“Justru kalian yang cari gara-gara ! Kalian antek-antek Patih danurejo yang bersekongkol dengan londo-londo kapir untuk merampas tanah rakyat!”

“Kalian akan menerima hukumannya!”

“Ora urus! Kalau kalian akan menangkap Pangeran, langkahi dulu mayat kami !”

‘BAJINGAAAN 111…”

Pasukan berkuda dari korp Macanan Patih danurejo melabrak kerumunan orang-orang itu. Sesaat kemudian duel sengitpun pecah. Dengan penuh semangat yang berkobar-kobar, rakyat Tegalrejo berjibaku melawan pasukan Korp Macanan ternyata kesombongan dan kepongahan prajurit Macanan tidak dapat mengimbangi semangat perang para penduduk Tegalrejo. Terbukti,tidak lama kemudian korp Mcanan berjatuhan dan terpaksa terbirit-birit lari menyelamatkan diri.

Hari itu setidaknya para penduduk desa yang selama ini dianggap lemah telah menunjukkan keberaniannya melawan kesewenag-wenangan penguasa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *