berita DEMOSIANA

SEPAHIT EMPEDU

Oleh : Kartono Kasiyun

“Bagaimamana, Nyi? Sudah kau pertimbangkan tawaran Ki Lurah Bargowo ?”, seru bayan Sarmidin. Suaranya seakan menghujam di hati.

Sejenak suasana menjadi hening. Tak ada suara satupun. Seakan saling menunggu reaksi lawan bicaranya. Nyi Minah tertunduk. Mulutnya seakan terkunci rapat. Ini merupakan pilihan yang sulit baginya. Apalagi bagi Larasati, putrid tunggalnya,yang tertunduk lesu disampingnya.

“Sebenarnya kau tidak perlu bingung, Nyi Minah. Jika sejak semula kau tidak berbelit-belit dan langsung ngomong iya, beres perkara. Lagipula darimana kamu bisa melunasi hutang mendiang suamimu yang menumpuk pada Ki Lurah ? Dengan menjadi istri Lurah Bargowo, anakmu akan hidup enak, dan kaupun  tentu ikut merasakannya juga. Apa kau ingin hidup melarat terus ?”

“Maaf, pak Bayan…bukan saya tidak ingin hiodup enak, tapi tawaran Ki Lurah belum dapat kami putuskan sekarang. Apalagi Larasati ….”

“Kenapa ?Anakmu tidak mau menerima lamaran Ki Lurah ? Goblok!” sergah Bayan cepat.

“Maksud saya…”

“Cukup ! Aku tidak akan banyak omong! Pikirkan sekali lagi dan besok Nyi harus sudah memutuskan. Ingat, Ki Lurah tidak suka menunggu!” seru Bayan Sarmidin sambil pergi dengan wajah tidak sedap.

Tangispun pecah. Ibu dan anak saling berpelukan dalam satu perasaan yang sama. Keduanya  seakan merasakan batu besar menindih dadanya. Sesak sekali rasanya. Untuk kesekian kalinya bayan Sarmidin yang menjadi utusan Lurah Bargowo dating disertai ancaman. Tapi mungkinkah menyerahkan Larasati,putrid semata wayangnya yang menginjak remaja, menjadi istri muda lurah bongkotan itu. Entah istri yang keberapa. Tapi siapa berani menentang keputusan Ki Lurah ? Laki-laki itu selain berkuasa ,mutlak sebagai Lurah di desa ini, juga terkenal sebagai seorang jawara sakti tanpa tanding. Ibarat ludahnya berapi, setiap ucapannya adalah undang-undang tak tertulis yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua penduduk desa. Berani menentang berarti ancaman bahaya. Setahun yang lalu, pak Somad, tetangganya, yang juga mempunyai anak gadis jelita pernah menolak lamaran Lurah Bargowo. Apa akibatnya? Dua hari setelah penolakan itu, pak Somad mendadak sakit disertai muntah darah. Anehnya, darah yang ia muntahkan keluar disertai benda-benda tajam seperti silet, pecahan kaca,jarum,paku dan serpihan logam lain. Tidak ada yang berani buka mulut. Tidak ada yang berani mencari tahu penyebabnya. Semua sadar ini perbuatan Lurah Bargowo yang punya ilmu tening alias santet. Berani ikut campur, nyawa taruhannya.Nyi Minah masih tenggelam dalam kepedihan yang dalam.

Malam itu, kedua ibu anak itu tidak dapat tidur. Gelisah begitu buas merengkuh batin mereka. Mendiang suami Nyi Minah adalah salah seorang buruh tani yang menggarap tanah pertanian milik Ki Lurah Bargowo.sebagai buruh tani yang hanya mengandalkan tenaga tuanya untuk mencangkul, tentu hasilnya tidaklah seberapa untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setiap kali ada kebutuhan mendesak, ia berhutang pada juragannya. Begitu terus menerus sampai hutang itu menumpuk. Akibatnya, ketika suaminya meninggal karena sakit, hutang itu belum dapat dilunasi. Rupanya hutang itulah yang dijadikan alasan Ki Lurah untuk mempersunting Larasati , gadis kembang desa yang telah beranjak remaja, yang lebih cocok jadi cucunya. Keduanya benar-benar deihadapkan pada suatu pilihan yang sulit, antara ancaman jiwa dengan mempertahankan harga diri. Ya, harga diri adalah milik berharga mereka satu-satunya yang harus dipertahankan dalam situasi apapun. Mereka tidak punya apa-apa lagi. Jika harga diri itu harus digadaikan saat ini demi pemuasan nafsu serakah Lurah Bargowo,apalagi yang tersisa ? mereka dihadapkan pada perang batin yang maha dahsyat. Tapi mereka harus menentukan sikap. Sepahit apapun itu.

Malam kelam berjalan terasa lambat. Apalagi diluar sana terdengar nyanyian burung kedasih terasa menyayat hati. Nyanyian pilu mendayu seakan burung yang patah sayapnya. Larasati melirik ibunya yang tergolek disampingnya. Perlahan-lahan ia menghadap ibunya. Ia tahu orang tua itu tidak bisa memejamkan mata semalaman.

“Mak…sekarang emak tidak perlu bersedih hati. Laras sudah mengambil keputusan,” bisik Larasati perlahan. Sontak wanita tua bangun.

“Apa ? Kau rela diambil istri laki-laki tua itu?”

“Tak ada pilihan lain. Penderitaan batin emak harus disudahi. Diakhiri.”

“Maksudmu ?”

“Dengarkan,mak. Di desa ini Lurah Bargowo ibarat dewa yang ditakuti. Tidak ada yang berani membantah omongannya. Tidak ada yang  berani menentang keputusannya. Sudah berapa banyak gadis-gadis di desa ini yang dijadikan gundik pemuasnya ? Berapa banyak orang yang tewas karena santetnya ? Berapa banyak lagi yang akan menyusul ? Apakah ini akan kita biarkan terus berlanjut ? Aku telah mengambil keputusan mala mini,mak. Aku rela jadi tumbal untuk membendung calon  korban-korban lainnya. Biarlah aku menjadi istri mudanya, dan lihat apa yang akan terjadi nanti.” Ujar Larasati sungguh-sungguh.

“Kau sudah perhitungkan masak-masak keputusanmu ?” Tanya Nyi  Suminah.

“Emak tidak perlu khawatir. Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Sekarang ayo kita bersiap menyambut kedatangan pak Bayan pagi ini.” Sahut Larasati sambil merangkul emaknya.

Matahari sudah merangkak tinggi ketika bayan Sarmidin sudah berada kembali di rumah Nyi Minah. Pembicaraan cukup serius terjadi diantara keduanya.

“Kalau saja Nyi setuju sejak kemarin, mungkin saat ini saya sudah membawa segepok uang mahar hadiah dari Ki Lurah. Tapi, yah..bagaimana lagi? Baiklah, yang penting Nyi sudah setuju dengan tawaran Ki Lurah. Dia pasti akan sangat senang mendengarnya. Besok pagi supaya Larasati berdadndan secantik mungkin karena Ki Lurah akan dating menjemput sambil membawa seabreg hadiah. He..he..he..” seru Bayan Sarmidi menyeringai licik.

Pertemuan pagi itu cukup singkat dan Bayan Sarmidin segera pamit.Tinggal ibu dan anak itu yang terdiam membisu tanpa sepatah kata. Semua tenggelam dalam lamunan masing-masing dan hanya bisa menerka dan meraba apa kira-kira yang terjadi pada waktu-waktu yang akan datang .

Esoknya, sebuah kejutan terjadi. Sebuah kereta yang ditarik kuda berhias sudah parker didepan rumah Nyi Minah. Seorang lelaki yang tidak muda lagi tapi masih kelihatan gagah tampak turun dengan langkah congkak. Dialah Ki Lurah Bargowo yang dating menjemput calon istrinya, Larasati. Basa-basi ia menyapa penghuni rumah.

“Nyai, apa kabar ? Mudah-mudahan keadaan Nyai sehat-sehat saja. Dan…ini ada sedikit oleh-oleh  uat Nyai. Sekadar tanda mata dari aku,” seru Lurah Bargowo seraya menyerahkan sekantong uang kepada Nyi  Minah. Ragu-ragu perempuan itu menerimanya, tapi ia paksakan juga. Tanpa banyak kata, Larasati yang sudah berdadndan secantik mungkin sudah digandeng “calon suaminya” menuju kereta . Tak ada prosesi pernikahan apapun. Semua berjalan singkat bagai mimpi. Begitulah cara Lurah Bargowo “memeti” daun-daun muda di desa itu. Seperti mencomot ayam dari kandangnya, atau lebih cocok, merenggut anak ayam dari induknya. Tak ada yang mampu menghalangi ambisi Lurah Bargowo. Menghalangi berarti mati.

Nyi Minah memandangi anaknya yang kian menjauh dibawa kereta kuda Lurah Bargowo. Pandangan wanita tua itu tampak kosong. Ia pasrahkan semuanya kepada Tuhan seraya menunutut pengadilan-Nya dalam kemelut ini.

Kereta kuda berjalan menggilas kerikil jalanan. Meninggalkan kepulan debu di sana-sini. Larasati hafal sudah sangat hafal seluk beluk jalan yang ia lalui. Kurang dari 200 meter didepannya, ada sebuah tikungan cukup tajam. Disisi kiri-kanan tikungan iatu menganga jurang cukup dalam. Dasarnya dipenuhi batu cadas setajam pisau. Siapapun yang terperosok ke dalam jurang itu, dapat dipastikan hancur tercabik-cabik.

Lima menit kemudian, disaat kereta mendekati tikungan, Larasati bersiap dengan rencananya. Begitu posisi mereka sudah di tengah tikungan, tiba-tiba Larasati merebut tali kekang kuda yang dikemudikan Lurah Bargowo seraya menghentaknya keras-keras. Kontan saja kuda kaget dan berjingkat. Kereta oleh ke kiri dan  tak ayal lagi kereta beserta seluruh penumpangnya terperosok ke dalam jurang. Suara teriakan panic terdengar nyaring. Tapi segera ditelan sunyi.

Esoknya, penduduk menemukan mayat Ki Lurah Bargowo, Larasati dan seekor kuda sudah jadi mayat denga tubuh bagai disayat-sayat tidak utuh lagi. Kereta kudanyapun sudah hancur berkeping-keping.

Larasati telah memenuhi janjinya  mengakhiri penderitaan warga desanya.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *