berita REFLEKSI

Pergantian Tahun, Menuju Merlion Ditutup Total

Catatan Perjalanan Tabloid Demonstran ke Negeri Jiran ( 17 )

Pengalaman berkunjung ke Malaysia dan Singapura di pergantian tahun 2016 – 2017 bagi kami sangat berharga. Kami berharap pengalaman ini bisa membawa manfaat bagi kami dan juga bagi pembaca tabloid demonstran dan pengunjung www.demonstran.com

Sekitar jam 20.00 waktu setempat kita sudah nyampek di hotel. Karena malam itu adalah malam pergantian tahun, hampir semua jalan di pusat kota penuh sesak. Termasuk di sekitar hotel, meski antara hotel dan pusat perayaan di kawasan merlion masih cukup jauh yaitu sekitar 4 km. Karena jalan-jalan menuju merlion sepanjang kurang lebih 2 km sudah ditutup total sejak pukul 17.00 waktu setempat. Hanya pejalan kaki yang diperbolehkan masuk ke kawasan merlion dan sekitarnya.

Begitu nyampek hotel, tanpa banyak ba-bi-bu kita langsung menuju ke kamar untuk sekedar membersihkan diri dan melakukan ibadah sholat. Kita butuh cepat-cepat karena kita ingin menikmati suasana menjelang tahun baru di kawasan terpadat di Asia itu. Kita harus melaksanakan ibadah isya’ terlebih dulu, karena kita khawatir, saat pulangnya kehabisan waktu. Dan benar saja, suasana di merlion membuat pengunjung lupa waktu kapan harus pulang. “Bahkan bisa sampai pagi masih belum selesai perayaan,” ujar Mrs Lie menjelaskan.

Tepat pukul 21.00 waktu setempat atau 20.00 WIB kita sudah siap untuk berangkat. Kita sudah menyiapkan mental, kalau-kalau nanti harus jalan agak jauh. Maklum, sesuai informasi dari guide, dua kilometer sebelum merlion sudah ditutup total. Tidak ada kendaraan yang boleh masuk dan melewati jalan-jalan utama di sekitar merlion.

Begitu keluar hotel, kita langsung naik taksi menuju kawasan paling terkenal di negeri singa itu. Mencari taksi di negeri kepala singa bukan hal yang sulit. Hampir setiap lima menit selalu ada taksi yang lewat. Tidak ada taksi yang jelek, hampir semua taksi masih sangat baik bahkan boleh dikata masih keluaran baru. “Umur taksi disini rata-rata dibawah lima tahun, jadi masih sangat bagus,” kata Mrs Lie.

Dan kita akhirnya sudah dapat taksi hitam, kelihatan masih kinyis-kinyis dan full dengan accesoris termasuk audio yang lebih dari standar pada umumnya di negeri kita. Terlebih karena jalannya mulus, maka naik taksi disana bukan sebuah keterpaksaan.

Meski rata-rata taksi disana punya standar yang bagus, kita kebetulan malam itu dapat sopir taksi yang selain punya standar juga ramah sekali. Dan sesuai permohonan kita, agar dicarikan jarak yang terdekat dari kawasan merlion, sang sopir yang asli Singapura tersebut dengan senang hati mencarikannya. Tentu saja harus melewati jalan-jalan kecil samping pertokoan. Sekitar 1 km sebelum merlion, akhirnya mentok juga. Mau tidak mau akhirnya kita harus jalan kaki juga……………( Nur Wakhid / bersambung )

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *