berita DAERAH REFLEKSI

Sasaran Pertama Pusat Souvenir dan Belanja

yachya muchamad

CatatanPerjalanan TabloidDemonstrankeNegeriJiran( 16 )

Pengalaman berkunjung ke Malaysia dan Singapura di pergantian tahun 2016 – 2017 bagi kami sangat berharga. Kami berharap pengalaman ini bisa membawa manfaat bagi kami dan juga bagi pembaca tabloid demonstran dan pengunjung www.demonstran.com

Lolos dari imigrasi Singapura seperti lolos dari persoalan yang cukup berat. Lega…. mengapa seperti itu? Karena sejak awal sudah ‘ditakut-takuti’ terkait bagaimana ketatnya pemeriksaan di imigrasi Singapura saat masuk. Dan ternyata tidak begitu salah, informasi itu. Petugas yang rata-rata pelit senyum itu memelototi satu persatu barang bawaan kita. Bukan hanya barang-barang yang secara umum dilarang, tetapi barang-barang yang sebenarnya oleh-oleh dari Malaysia juga diperiksa secara ketat. Jika dilarang, maka tidak ada ampun. Barang diambil begitu saja tanpa permisi.

Beruntung kita sejak awal sudah diwarning oleh guide kita Mr. Shafiq. “Jangan sampai membawa barang yang dilarang masuk. Kalau hanya sekedar disita itu masih sangat beruntung, tapi bila ada petugas yang resek kita bisa ditahan tanpa alasan,” katanya berulang-ulang. Dan karena warning itulah, kita sudah menata dan merencanakan barang-barang apa yang kita bawa saat melintas di perbatasan antara Johor Bahru dan Singapura itu.

Begitu kita sudah lolos dari pemeriksaan imigrasi, tidak membuang-buang waktu lagi. Kita langsung berlarian menuju ‘bas pesiaran’ untuk melanjutkan perjalanan ke negeri singa. Kita agak buru-buru karena kita mengejar agar bisa mampir dulu ke tempat souvenir dan perbelanjaan sebelum masuk hotel. Maklum, banyak keinginan dan titipan yang harus dibeli, tetapi tidak memungkinkan dibeli di malaysia. Selain barangnya tidak sama, juga karena menghindari pemeriksaan imigrasi. Daripada kita beli, lantas disita. Lebih baik menahan diri untuk beli di Singapura saja. Toh yang kita mau juga ada disana, begitu pikir kita sejak awal. Akhirnya, begitu masuk negeri sebelahnya Batam, yang kita pikir langsung menuju pusat souvenir.

Ternyata hanya satu jam dari imigrasi, kita sudah nyampek di kawasan souvenir seperti yang kita inginkan. Setelah sebelumnya ada penyerahan dari guide Malaysia ke guide Singapura. Mengapa ada serah terima? Ternyata di Singapura dilarang menggunakan guide dari luar negara. Semua agen travel dan wisata selalu bekerja sama, dan selalu menggunakan guide setempat. “Daripada nanti kita di blacklist, kita harus mematuhi aturan Singapura. Meski saya sebenarnya faham juga Singapura. Tapi yang sah disini ya Mrs Lie. Dan sekarang saya jadi peserta tour,” kata Mr Shafiq sambil menunjuk Mrs Lie.

Sekitar dua jam di lokasi perbelanjaan dan souvenir sepertinya kurang, tetapi karena masih punya waktu besoknya, akhirnya kita sepakat ke hotel dulu dan melaksanakan program lain saat malam hari. Karena malam itu adalah malam pergantian tahun 2016 – 2017…………..( Nur Wakhid / bersambung )

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *