berita DEMOSIANA

Pada Sebuah Makam

ilustrasi cerpen

Oleh : Bayu anggara

Awan hitam pekat yang mengiringi hujan lebat sejak sore menambah kelam suasana. Sesekali suara guntur menggelegar bersabung denga kilatan cahaya terang di langit. Malam semakin larut tapi tidak ada tanda-tanda hujan akan mereda. Bahkan derua angin yang menyambar-nyambar bagai dengus raksasa yang tengah tertidur.

Di sebuah makam tua yang terletak di pinggiran desa, samar-samar tampak sesosok manusia tengah tertatih-tatih memanggul sebuah cangkul. Langkahnya tampak gontai dalam deraan air hujan yang semakin buas jatuh dari langit. Sesekali langkahnya terhenti untuk sekadar mengatur nafas. Namun agaknya sosok itu tidak kenal menyerah hanya karena deraan rasa dingin dan terjangan curah hujan. Langkahnya baru terhenti pada sebuah kuburan yang berada di pojok pemakaman. Bunga-bunga yang berada diatas kuburan itu Nampak berserakan diterpa air hujan. Agaknya kuburan masih baru. Mungkin dua atau tiga hari yang lalu.

Tanpa membuang waktu lagi, sosok manusia misterius itu mulai mengayunkan cangkulnya. Ia terus mencangkul dan terus mencangkul. Entah makam siapa yang sedang ia gali. Setengah jam kemudian cangkulnya sampailah pada papan kayu yang menutup jenazah di lobang kubur. Ia singkirkan cangkulnya dan mulailah tangan-tangannya menyingkirkan kayu itu.

Mata jalang yang sejak tadi nanar memandang kearah kuburan yang jadi sasrannya itu mulai meredup. Bahkan dari sudut mata mulai terlihat Kristal-kristal bening berjatuhan satu-satu. Untuk beberapa saat ia hanya terpaku menatap jenazah yang terbungkus kain kafan putih pada lobang sempit di depannya. Setelah sekitar sepuluh menit sosok itu hanya terpaku, mendadak ia tersadar saat petir menggelegar menyambar diatasnya. Serta merta tangan-tangan kelelahan itu dengan cekatan meraih jenazah yang telah kaku itu. Susah payah ia memanggul dan berusaha mengangkatnya dari lubang kubur. Meski dengan sisa-sisa tenaga tapi akhirnya jenazah itu berhasil ia keluarkan dari kuburnya.

Pelan-pelan ia letakkan jenazah itu di tanah di samping batu nisannya. Agak tergesa-gesa ia buka kain kafan penutup muka jenazah. Dan,nampaklah seraut wajah yang pucat bagai kapas. Ya, seraut wajah wanita muda yang meninggal beberapa hari yang lalu. Demi melihat seraut wajah pucat di depannya, sosok itu semakin larut dalam tangisnya sampai terguncang-guncang bahunya.

Ketika  hujan telah mereda, rupanya tangis orang itu tiada reda jua. Dirinya baru tersadar ketika waktu subuh menjelang. Agak tergesa-gesa ia segera meraih jenazah itu dan hendak membawanya pergi.

“ Berhenti !” terdengar teriakan dari kegelapan. Orang itu menoleh mencari asal suara.

“ Hentikan sandiwaramu, bandot tua. Kini semua terjawab sudah. Kau tidak bias lagi menutup-nutupi kasus ini. Semua orang akan segera mengetahuinya.”

“ Kurang ajar! Rupanya kamu mengikuti langkahku sejak tadi. Kaupun akan segera mati ditanganku. Tidak ada yang boleh tahu perkara ini !”

“ Apa kau kira akau akan sebodoh itu mau percaya pengakuan akal-akalanmu ? kau sebarkan berita bohong bahwa Mirna mati karena sakit panas mendadak. Semua orang meski terheran-heran percaya juga pada omongan basimu. Itu tidak berlaku bagiku, kakek cabul ! sudah lama aku mencuriagai gerak-gerikmu yang menaruh hati pada cucumu yang cantik itu. Padahal kau kan tahu, Mirna suda lama menjadi pacarku. Aku menuduhmu sebagai pelaku pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Mirna, kekasihku yang juga cucumu sendiri ! apa lagi yang harus kau sembunyikan ?!”

Diam sejenak. Mendadak oaring tua itu meraih cangkul di depannya dan mulai menyerang laki-laki di depannya. Duael mautpun terjadilah. Si pemuda kelihatannya telah mempersiapkan diri dengan golok di tangannya. Duel berlangsung seru dan cukup ama. Beberapa kali terdengar suara kesakitan dan darah yang bermuncratan. Akhirnya keduanya roboh bersimbah darah.

Pagi harinya orang-orang menemukan tiga sosok mayat terlentang di dekat kuburan yang baru saja dibongkar.

000000

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *