berita KRIMINAL

Kediri “Digoyang” Striptis

yachya

Tempat Karaoke Digerebek Polda Jatim

Laporan Tim Liputan Tabloid Demonstran

Tak hanya di kota besar, praktik striptis atau tari bugil diduga juga ditemukan di Kota Kediri. Hal ini diketahui setelah sebuah tempat karaoke, Inul Vista yang berada di salah satu komplek pusat perbelanjaan di Jalan Hayam Wuruk disegel petugas Polda Jatim, Jumat (14/7). Sebelum disegel, tempat karaoke itu lebih dulu digerebek setelah polisi mendapatkan informasi adanya dugaan praktik asusila di lokasi tersebut.

Dalam penggerebekan itu, sejumlah pengunjung dan pekerja di tempat karaoke langsung dibawa dan diperiksa di mapolda. Kabar yang berkembang, terdapat 4 wanita yang diduga menjadi penari telanjang yakni WA (31), RA (23), PP (32), dan EA (26) yang kini juga tengah menjalani pemeriksaan.

Informasi yang dihimpun wartawan, Kamis (13/7) sekitar pukul 23.30 WIB petugas dari polda mendatangi tempat hiburan yang terletak di lantai 3 pusat perbelanjaan tersebut. Polisi langsung menggerebek sebuah ruangan yang ditengarai menjadi tempat pertunjukan asusila itu.

Pantauan di lokasi, terdapat garis polisi terpasang di pintu masuk karaoke Inul Vista.  Tempat karaoke itu juga terlihat sepi dan tidak ada aktivitas. Para pengunjung mall juga memperbincangkan peristiwa penggerebekan yang kabarnya dengan cepat menyebar.

Sementara itu, penggerebekan tempat karaoke yang diduga menyediakan striptis ini menimbulkan pertanyaan terkait bagaimana sebenarnya perizinan lokasi itu dan pengawasannya. Atas hal ini,  Anang Kurniawan, Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Kediri mengatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Satpol PP mengenai perizinan usaha karaoke tersebut. “Kami lihat dulu, kemarin yang digrebek polda objeknya apa. Kalau memang kabar yang beredar benar, kami akan kroscek ke pihak manajemen, apakah memang benar menyediakan tarian striptis atau tidak. Lalu sepengetahuan pihak manajemen atau tidak masih akan kami dalami. Kita juga masih menunggu dan memantau proses lanjutan dari penyidik sendiri,”kata Anang.

Meskipun dimungkinan memiliki izin operasi, Anang menyebut untuk saat ini perizinan minuman beralkohol (mihol) telah mati dan pihak pengelola belum melakukan perpanjangan izin. Anang mengaku sudah memberikan peringatan kepada pihak pengelola untuk segera mengurus perizinan tersebut. “Sampai hari ini izin Miholnya mati dan kami sudah memperingatkan mereka untuk tidak menjual hal itu. Faktanya di lapangan bagaimana masih kami koordinasikan lebih lanjut. Kalau izin HO atau gangguan memang sama dengan izin mall tersebut,”jelasnya.

Terpisah, Nur Khamid, Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban (Kabid Trantib), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Kediri mengatakan , akan menindaklanjuti terkait informasi adanya penggerebekan dari Polda Jatim. “Akan kami lakukan penyidikan lebih lanjut mengenai izin dan sebagainya. Kemudian akan kami rekomendasikan ke pemerintah untuk mencabut perijinannya jika tidak memenuhi ketentuan yang berlaku,”ungkapnya.

Ancam Tutup

Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar angkat bicara menyusul adanya dugaan pertunjukan striptis di tempat karaoke Inul Vista yang digerebek oleh Polda Jawa Timur, Jumat (14/7) dini hari. Menurut Mas Abu, sapaan akrabnya, jika terbukti tempat karaoke itu menjadi lokasi tindak asusila, pemerintah daerah tak segan mencabut izinnya. “Jadi kami siap mencabut izin dari Inul Vizta, jika dugaan ada praktik striptis dan juga ada minolnya (minuman beralkohol) yang ditemukan, terbukti,” tegasnya.

Ditambahkan saat ini pemkot juga masih menunggu hasil pemeriksaan polda, karena sampai saat ini penyidikan kasus tersebut masih berlanjut. “Saat ini masih kami kaji, dan menunggu hasil dari polda dulu, jika sudah putusan baru kita cabut,” jelasnya.

Sementara itu, Windi Kadiatri, Wakil Manajer Inul Vista Kediri,  membantah jika pihaknya  menyediakan penari striptis dan minuman keras untuk tamunya. “Jika ada banyak pemberitaan kami menyediakan perempuan dan minuman keras, itu tidak benar. Di SOP (standart operating procedure), kami ini karaoke keluarga. Tidak mungkin menyediakan perempuan dan minuman beralkohol,” jelasnya.

Menurutnya, pihak manajemen tidak mengetahui adanya praktik striptis dan minuman keras di tempat karaokenya hingga digerebek polisi. “Kalau tamu tersebut membawa perempuan di dalam room itu sudah diluar kewenangan kami, yang pasti kami tidak pernah menyediakan,” tuturnya. “Miras tersebut dari luar, jadi kebiasaan tamu banyak  yang menyembunyikan minuman di bawah meja. Walaupun air mineral keseringan membawa dari luar, karena sudah peraturan tidak boleh membawa makanan dan muniman dari luar,” tuturnya.

Terkhir untuk pencabutan izin yang telah dijelasnkan oleh Wali Kota Kediri, pihaknya akan menaati jika tempat karaokenya terbukti menyediakan penari striptis dan memperjualbelikan minuman keras. “Kalau terbukti silakan dicabut, jika ada dasar yang kuat untuk melakukan pencabutan. Untuk upaya dari manajemen Inul Vizta saat ini masih berkonsultasi dengan pengacara,” pungkasnya.

Manajer jadi Tersangka

Penyidik Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Timur menetapkan Manajer Inul Vizta Karaoke Kediri, I (36 tahun), sebagai tersangka dugaan penyediaan tarian telanjang di rumah karaoke yang dikelolanya. Sejumlah barang bukti mengarah pada tindakan asusila diamankan dalam kasus itu.

Sumber penyidik Ditreskrimum yang menangani kasus tersebut membenarkan penetapan tersangka I itu. “Sudah ada tersangka satu orang ditahan berinisial I, profesi manajer (Inul Vizta). Total sepuluh orang yang dimintai keterangan,” kata Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Rama melalui pesan singkat pada wartawan, Jumat (14/7).

Tersangka maupun saksi hingga kini masih diperiksa di ruang pemeriksaan Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim. Selain I, mereka yang diperiksa ialah empat orang perempuan muda, yakni PP (32), WD (31), RS (23), dan EC (26), waitress berinisial AL, sekuriti berinisial SPR dan dua tamu pemesan tarian telanjang, AL dan AD.

Manajer Inul Vizta ditetapkan tersangka karena diduga menyediakan wanita muda yang dapat menemani tamu rumah karaokenya sekaligus melayani tarian telanjang dan hubungan intim. Tersangka I dijerat dengan Pasal 36 Undang Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan atau Pasal 296 Kitab Undang Undang Hukum Pidana.

Selain keterangan saksi, sejumlah barang bukti diamankan penyidik dan menjadi penguat pada penetapan tersangka I. Barang bukti itu ialah nota pemesanan kamar karaoke, uang tunai Rp5 juta, celana dalam dan satu unit telepon genggam.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera membenarkan pihaknya telah menetapkan tersangka pasca digerebeknya karaoke keluarga Inul Vizta. Namun, dia enggan menyebutkan mengenai identitas tersangka yang telah ditetapkan dari 10 orang yang telah diperiksa penyidik Polda Jatim dalam kasus itu. “Sudah kami tetapkan. Besok Senin (17/7), kami rilis ya,”ujarnya, ketika dikonfirmasi, Minggu (16/7).

Sementara Inul Daratista mengaku belum mendapat informasi lengkap soal penggerebekan penari telanjang di tempat karaokenya. Ia mengaku masih akan mencari tahu lebih jauh soal itu.

“Enggak tahu (soal penari telanjang), nanti saya langsung konfirmasi dulu di kantor ya,” ujarnya singkat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *