DEMOSIANA

Debu – debu Jalanan

ilustrasi cerpen

Oleh : Poerwadi

Terik mentari merajai seakan membakar bumi. Daun-daun pepohonan meranggas merindukan hujan. Kekeringan melanda dimana-mana. Air sumur dan sungai mulai mongering. Kini di desa itu hanya tersisa sebuah mata air di lereng bukit yang mata airnya mengucur tidak terlalu deras. Sudah sepuluh bulan hujan tidak turun. Tiidak ada yang tahu kapan kemarau panjang ini akan berakhir. Hasil pertanian disawah tidak dapat diharapkan lagi. Hewan ternakpun sulit menemukan rumput hijau.

Hari itu hari pasaran. Biasanya banyak orang pergi ke pasar sekadar bertukar hasil bumi. Namun hari ini pasar terasa lengang. Hanya ada beberapa saja yang sibuk menjajakan dagangan hasil kebun. Itupun hanya sayuran tetentu. Seperti biasa pak Rozak setia dengan pekerjaannya. Bermodalkan kereta pedati yang ditarik sapinya yang setia, ia masih saja menjajakan tape singkong buatan istrinya ke pasar. Seperti hari itu, terdengar roda pedatinya berderit menggilas debu-debu jalanan. Sekeranjang tape singkong manis ia bawa ke pasar, berhrap ada pelanggan yang membelinya. Meskipun ia tahu kondisi saat ini sedang paceklik.

Disebuah persimpangan dekat pohon beringin besar yang ada di ujung desa, pak Rozak melihat mbok Parmi yang tengan menggandeng anaknya tampak bergegas menyusuri jalan. Anak itu masih berusia lima tahunan. Keduanya bergegas bukan karena dikejar waktu, tapi kaki-kaki telanjang mereka yang tampak setengah meloncat ketika berjalan, rupanya menahan panasnya tanah yang terpanggang terik matahari.. beberapa kali tampak mbok Parmi menggendong naknya agar lebih cepat sammpai pasar.

Kasihan juga pak Razak melihat mereka. Segera ia menghentikan laju cikarnya.

“Mbok, ayo sini naik. Tujuan kita kan sama-sama ke pasar. Kasihan anaknya kepanasan..”ajak pak Razak. Sejenak mbok parmi ragu. Ia tidak segera naik. Kalau saja ia berjalan sendiri ,pasti aia kan menolak tawaran itu. Tapi demi melihat anaknya yang meringis kepanasan, pendiriannya mulai goyah.

Pak razak yang melihat gelagat itu menukas, “ Kasuhan anakmu kepanasan,mbok. Ayo cepat naik. Nanti pasar keburu sepi.” Pak Razak mem,bantu mengangkat tenggok, keranjang kecil dari nayaman bamboo yang digendong mbok Parmi. Sejenak kemudian ibu dan anak itu sudah berada diatas cikar. Kaki-kaki sapi kembali melangkah menarik cikar dan muatannya. Yang terasa aneh, meskipun pak Razak dan mbok Parmi bertetangga, tapi selama perjalanan keduanya lebih banyak terdiam. Hamper tidak terjadi percakapan diantara mereka. Keduanya tenggelam dalam suasana batin masing-masing. Tidak banyak orang yang tahu konflik diantara mereka.

Sudah sekitar tiga tahun ini, mbok Parmi mempunya hutang pada pak Razak. Sejak suaminya meninggal, ia seperti merasa kerepotan dengan ekonomi keluarganya. Apalagi dengan tanggungan tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Pekerjaannya berdagang hasil sayuran kebun jauh dari cukup . akibatnya untung bertahan hidup ia harus berhutang sana-sini. Dan yang paling banyak ia hutangi adalah pak Razak. Hutangnya yang menumpukdan sudah bertahun-tahun belum dilunasi membuatnya sebisa mungkin menghindar beretemu dengan pak Razak.

Bagi pak Razak pertemuan dengan mbok Parmi dihari yang terrik ini sungguh suatu berkah baginya. Sudah lama ia berharap dapat bertemu dengan tetangganya itu. Ia tahu mbok Parmi selama ini menghindari bertemu dengannya. Masalahnya Cuma satu, hutang. Hari ini pak Razak ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini mengganjal dihatinya. Bukan untuk menagih hutang, tapi ingin membebaskan pikiran perempuan tua tetangganya itu dari beban hutangnya.

“Mbok…maaf sebelumnya, saya selama ini menanggung suatu perasaan yang ingin saya keluarkan kepada mbok. Tapi jangan kuatir. Hari ini kita bisa bebas dari beban perasaan kita selama ini. Mbok Parmi, kita semakin tua. Sayapun mungkin tidak lamalagi berhenti dari pekerjaan ini. Tenaga saya sudah jauh berkurang dan semakin melemah. Jika sewaktu-waktu ajal menjemput saya ingin bebas dari segala beban dunia. Maka dari itu mbok…hari ini saya nyatakan mbok Parni tidak usah lagi memikirkan hutang kepada saya. Saya sudah mengikhlaskannya. Lagipula saya niati membantu kehidupan nak yatim. Mulai sekat=rang mari kita bertetangga akrab seperti dulu…”

Serasa bagai disambar petir disiang bolong, mbok Parni seperti tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Tanpa terasa cairan bening meleleh dari sudut matanya. Sementara derit roda cikar terdemgar menggilas kerikil jalanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *