DEMOSIANA

Cinta yang Hitam !

Sayangku,..tentunya kau masih ingat saat pertama kita bertemu. Kala itu angin sore menerpa pucuk-pucuk pepo honan dan menggugurkan  dedaunan. Jiwaku yang kuyu dan layu seakan ha nyut terbawa temaramnya senja yang kelabu. Dunia seakan sesak, penuh problematika kehidupan dan tidak pernah bersahabat dengan seorang penyair patah hati sepertiku. Aku tahu, diri ini tiada berarti bagi kebanyakan orang.  Ataukah aku harus menyalahkan nasip dan suratan takdir ?
cerpenNamun rupanya senja tidak selalu kelabu. Angin temaram membawamu hadir dalam kehidupanku. Ya, kita diperetemukan dalam suasana yang sama. Suasana hati yang sama dan suasana senja yang sama. Bagaikan burung punai yang terkulai lemas karena patah sayapnya, lalu bertemu pasangannya. Pasangan itu lau memberinya semangat untuk bangkit dan menyongsong kehidupan di hari-hari menjelang. Singkat saj tanpa basa-basi kita berkenalan di tepi taman kota. Berjabat tangan dan selanjutnya terlibat dalam percakapan yang absurd.
Pertengahan bulan September….
Tiada terasa,sudah sebulan “hubungan” kita berlangsung. Jalinan kata terangkai manis menyuburkan be nih asmara di jiwa. Setiap saat bergelora di dada. Taman kota jadi saksi  isu bagai mana hamper setiap senja kita selalu bersama merajut asa. Ah, kita tidak pernah peduli dengan manusia yang lalu lalang disekitar kita. Tak ada yang dapat menghalangi hasrat yang telah terpendam lama di jiwa ini. Ataukah memang kita yang sudah tidak mempun ytai lagi rasa malu. Aku tak tyahu. Kukira kaupun juga tidak tahu. Kadang pertemuan kita kita akhiri ciuman mesra yang sulit dilepaskan.
Sementara itu dari kejauhan sayup-sayup terdengar tembang lawas dengan syair yang seakan mewakili apa yang kita rasakan…” denyutnya jantungku saat ini ada disampingmu. Getarnya badanku saat ini menyebut namamu. Ingin kumendengar dengan penuh debar sepatah kata cinta darimu… seakan diriku tak berbaju…kau belai pundakku. Tersirap buluh-buluh darahku…kau kecup keningku. Rintih demi rintih,bisikan yang lirih menambah indahnya saat itu. Rindu bertemu rindu dua hati sendu. Dua insan yang dilanda gelombang asmara janji untuk bersatu. Jari meremas jari , dua bibir bertemu. Badai deras yang menderu hasratlu menggebu, gemuruh hatiku…”
Ah, andaikan rembulan hari ini tiada bersinar lagi. Tak akan menyesal hati ini mencintai dirimu, sayangku…
Akhir oktober diawal-awal senja yang kelabu….
Rintik hujan gerimis,membasah diawal-awal senja. Senja makin dingin,tapi tak sedingin hati kita. Saat itu disudut taman kota, tempat biasa kita bertemu, wajahmu tampak kuyu. Pucat seakan tiada cahaya. Kulihat ada setitik air mata disudut mata. Lama-lama Kristal-kristal bening berjatuhan, membasahi pipimu.
Semakin lam-semakin deras. Akhirnya…engkaupun menangis sesenggukan dipangkuanku. Sampai terguncang-guncang pundak mu. Aku tahu apa yang kau rasakan. Yah…kita terlena bahagia sehingga lupa kutukan Yang Maha Kuasa. Kita nikmati bersama-sama buah manis dari surge. Kini yang ada penyesalan. Ya, penye salan yang selalu datang belakangan. Inilah akibat derita dua keeping hati yang dilanda cinta membara dari orang –orang yang nestapa seumur hidupnya.
Semuanya berlalu begitu cepat. Semuanya bagai hempasan angin lalu. Sepoi-sepoi menggoda dan melenak kan. Tahu-tahu kami terjatuh dari pohon yang tinggi. Belaian angin memang telah membuai al;am sadar kami.  Sayangku kini telah berbadan dua. Ini malapetaka ataukah bahagia ? sulit mengatakannya. Perbedaan keduanya sangat tipis.
Desember kelabu, di akhir ta hun…….
Angin dingin meniup mencekam di  bulan desember. Air hujan turun deras dan kejam bagaikan dengus raksasa yang tengah mendengkur. Dua potong hati yang terluka menyatu dalam kegetiran yang dalam. Pedih,perih penuh rintih. Dua potong hati adalah aku dan dirinya. Kali ini kami tinggalkan taman kota, tempat awal cerita ini kami ukir.
Sekarang kami berada disuatu tempat yang terpencil,jauh dari keramaian. Kami masih berdekap erat dalam tangis. Kami tenggelam dalam keputus asaan yang dalam. Tiada lagi hrapan dan masa depan. Kami sepakat mengakhiri hari-hari kelam kami di jalan sesat penuh onak dan duri. Sebotol cairan pekat tersedia didepan kami. Botol kecil bergambar lambing tengkorak.

Itulah yang harus kami teguk bersama. Cairan itulah yang akan menjadi alat pembebas dari problematika duniawi yang sedang kami sandang .
Satu menit kemudian, dengan tangan gemetar kami raih cairan itu dan langsung meneguknya. Setelah itu kami saling ber dekapan erat. Paru-paru serasa terba kar, pandangan kian kabur, tenggo rokan tercekat. Yang tampak sekaranag hanya lah gelap,gelap dan gelap !
Sementara samar-samar tampak ribu an makhluk mengerikan menari-nari ke girangan. Mereka menyambut kami sebagai kawan baru. Lalu kami dibim bingnya kesuatu tempat yang sangat pa nas penuh bara api. Inikah neraka jaha nam buah dari perbuatan kami ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *