berita DEMOSIANA

D O K A R

Oleh : Nusa Kelana

 

“ Ayo, cepat. Pak Kambali sudah datang itu. Jangan lupa tasnya dibawa.: seru ibu sambil mengemasi barang bawaan.

Bergegas aku dan adikku berlari ke halaman. Betul juga, pak Kambali, kusire dokar langganan kami sudah menunggu. Hari itu aku dan adikku diajak ibu untuk sekadar piknik ke kota. Mumpung hari minggu. Sederhana sekali kedengarannya. Tapi bagi kami, berkeliling kota sambil naik dokar adalah kenikmatan tersendiri. Ditengah langkanya kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya, dokar adalah sarana transportasi andalan.

Satu menit kemudian, kami sudah berada dijalan raya yang sepi. Hanya terdengar bunyi ketepak kaki kuda yang menjadi music sepanjang perjalanan. Selain dokar memang ada becak, tapi itupun jarang. Lagipula untuk jarak yang cukup jauh, taripnya tidak murah. Padahal jarak desa kami menuju kota sekitar 20 kilometer. Jelasnya, naik dokar itu murah, meriah dan mengasyikkan.

Pak Kambali sibuk mengendalikan laju kudanya tanpa banyak cakap. Hanya sesekali terdengar memberikan semacam aba-aba kepada kudanya. Aku perhatikan sosok orang tua itu. Rambutnya sudah memutih dan sealalu akrab dengan peci kopyah hitamnya. Mungkin berusia sekitar enam puluhan. Tapi gerakannya masih cukup gesit dan bersemangat. Roman mukanya bersih, tenang, berwibawa dan terkesan nerimo.

“ Pak, sudah berapa lama jadi kusir dokar ?” Tanya ibu memecah keheningan.

“Ngg…anu,bu. Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah lebih tiga puluh tahun. Ini dokar warisan bapak saya yang dulu juga bekerja sebagai kusir.” Jawab pak Kambali.

“wah, sudah cukup lama juga ya,pak. Sekarang kan mulai bermunculan bemo dan colt untuk angkutan orang dan barang. Apa bapak tidak ingin ganti jadi sopir, misalnya ?”

“ Rasanya tidak, bu. Saya sudah ihlas dengan pekerjaan saya, meskipun hasilnya tidak seberapa. Soal rezeki kan sudah diatur Allah. Alhamdulillah ada saja jalannya. Kalau saya sampai ganti jadi sopir, bagaimana nasib dokar dan kuda ini ?”

“ Iya,pak. Lagian anak-anak muda sekarang mana mau jadi kusir dokar. Kalau semuanya tidak mau, siapa nanti yang meneruskan angkutan tradisional seperti ini ? kan eman.”

DOKAR“ Betul,bu. Bagi saya bukan hanya eman atau tidak eman. Menjadi kusir dokar sudah semacam amanat dari orang tua yang harus saya teruskan. Lagipula dengan Si Kliwon, kuda ini, saya sudah seperti mempunya ikatan batin. Saling mengisi dan memberi. Pernah dulu Si Kliwon sakit dan beberapa hari tidak dapat menarik dokar, pelanggan kami banyak yang mencari. Katanya mereka enggan berganti ke kendaraan lain. Kasihan mereka,” jawab pak kambali datar. Suasana hening sejenak. Hanya bunyi ketepak kaki kuda yang terdengar rancak. Jalanan antara desa kami menuju kota tidak begitu ramai. Kanan kiri belum banyak bangunan. Masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Rindang dan sejuk hawanya. Jalanan juga masih belum beraspal tapi cukup mulus tanahnya. Aku perhatikan adikku dipangkuan ibu. Tampak asyik melihat kiri kanan sambil mulutnya menikmati pisang goring. Sebenarnya tujuan ibu mengajak kami ke kota hanya bermaksud membelikan baju baru aku dan adikku. Satu bulan lagi lebaran. Memang, sejak bapak meninggal, ibu sebagai ganti orang tua tunggal, begitu memperhatikan kami. Dan dibanyak urusan, pak kambali sangat berjasa mengantarkan ibu.

: Ngomong-ngomong, berapa lama lagi pak Kambali ingin terus menjadi kusir dokar ?” suara ibu kembali memecah keheningan.

“ Pokoknya sampai saya tidak sanggup lagi bekerja. Selama masih ada yang membutuhkan dokar, saya akan terus melayani. Hitung – hitung ibadah, bu. Saya tidak memasang tarip. Seikhlasnya saja orang mau kasih bayaran berapa. Saya tidak ngoyo,bu. Lagipula anak-anak saya sudah lulus sekolah semua. Jadi tidak butuh biaya sekolah seperti dulu.”

“ Berapa anak pak Kambali, dan sekarang mereka dimana >”

“ Alhamdulillah tiga orang anak saya sudah bekerja,bu. Yang sulung karena dulu tidak ada biaya melanjutkan kuliah, tamat SMA mencoba mendaftar di Akabri dan diterima. Dua tahun lalu lulus jadi Letnan dan sekarang bertugas di Jakarta. Yang nomer dua putrid, baru saja lulus sekolah kebidanan. Kemarin dapat SK penempatan di desa tetangga. Sedangkan yang bungsu kuliah tahun akhir, katanya ingin mengabdi jadi guru. Anak saya yang kedua dan ketiga dapat kuliah karena dibantu kakak sulungnya. Yah, saya bebaskan mereka menuruti panggilan hatinya. Kami sebagai orang tuanya hanya bisa berdoa semoga mereka senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan diberi kelancaran dan keberhasilan dalam tugasnya.”

Ibuku tampak agak terkejut mendengar penuturan pak Kambali. Tidak menyangka sama sekali, dari pekerjaannya sevagai kusir dokar telah berhasil menghantar putra-putrinya menjadi manusia yang berguna. Apakah ini yang dinamakan hidup penuh berkah ? memang kita tidak dapat menilai dari sosok luar seseorang. Pak Kambali menjadi contoh bagaimana orang ihlas menjalani hidup dan sadar bahwa menolong orang lain jauh lebih penting daripada sekadar mencari keuntungan pribadi.

Satu jam kemudian sampailah kami di kota. Pak Kambali dengan sabar menanti kami sampai tuntas keperluannya. Begitulah, hari-hari selanjutnya pak Kambali masih setia melayani kami para pelanggannya. Hingga suatu hari kami tidak melihat dokar pak Kambali lalu lalalng di jalanan sepertibiasa. Barulah belakangan kami tahu, pak Kambali sudah meninggal dunia setelah beberapa hari semapat sakit. Sungguh, kami semua merasa sangat kehilangan. Tidak adalagi dokar bercat kuning yang ditarik Si Kliwon tampak di jalanan. Kami tidak mendengar lagi tapak kaki kuda seperti dulu. Sekarang yang ada jalanan dipenuhi kendaraan bermotor dengan suaranya yang sangat bising. Polusi asapnya memenuhi udara. Kecelakaan banyak terjadi.

Ya, kemajuan jaman tidak mungkin dapat kami bending. Tapi kenangan kami kepada pak Kambali dan dokarnya akan terus tersimpan dalam hati sanubari kami. ( SELESAI )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *